Racun Antareja | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Racun Antareja Reviewed by maztrie on 4:45 AM Rating: 4,5

Racun Antareja

APAKAH sebagaimana Uak Kresna kau pernah mengintip Kitab Jitapsara, Ibu? Apakah di helai-helai kalam yang menakjubkan kau menatap pertempuran sengitku dengan Uak Baladewa. Jika sesuai alur, ia tak akan mungkin bisa menghantamkan gada ke tengkuk rapuh, kaki ringkih, atau memecah kepalaku dengan semena-mena. Kau tahu karena berkulit napakawaca, tak satu senjata pun bisa melukaiku. Dan karena kauberi aku jimat mustikabumi, maut dan kematian takut padaku. Siapa pun boleh berusaha menghabisi aku.

Siapa pun boleh mencoba menggilas tubuhku dengan kereta perang paling perkasa. Lawan-lawan tangguh juga boleh melepaskan seluruh anak panah saat aku meloncat dari pohon ke pohon atau menancapkan puluhan tombak saat aku lengah. Tapi di luar takdir, setiap kali tubuhku menyentuh bumi, tak seorang pun bisa menceraikan aku dari kehidupan. Juga Uak Baladewa. Juga sosok rapuh yang sangat dicintai oleh Uak Kresna, panglima perang paling perkasa. Pada saat-saat seperti itu, Ibu, selalu ruh yang hampir lepas akan menyusup ke tubuh fana justru ketika mereka sangat bernafsu membunuhku. Selalu ruhku terbang dari medan perang yang hening ke tubuh yang kian segar sebelum siapa pun mengakhiri pertempuran yang sia-sia itu.

Jadi tak ada halangan apa pun bagiku untuk menjadi ratu gung binathara. Akan kuperintahkan burung-burung berkicau untuk rakyat saat mereka panen padi. Aku kutitahkan angin berembus sejuk saat rakyat kepanasan. Akan kuminta seluruh oase menyemburkan embun sejuk untuk para prajurit yang kehausan di tengah padang atau gurun. Dan yang senantiasa tak kulupakan, aku akan meminta para dayang mengirimkan segala bahan makanan untuk rakyat yang lapar.

Jika kerajaan harus berperang, ya Ibu, biarlah aku sendiri yang menghadapi musuh. Akan kupimpin ribuan serdadu berkuda infinita-infinita kembarku yang bergemuruh di dada untuk melintasi sungai dan memerangi barisan pengaman para seteruku. Jika kerajaan hendak dibakar oleh amarah para musuh, biarlah aku sendiri menjadi air yang memadamkan segala yang berkemungkinan hangus lebih cepat ketimbang kiamat.

Ya, kau pun paham, Ibu, di Kitab Jitapsara, para dewa telah mengatur strategi untuk memenangkan perang-perangku. Mereka beri kesempatan padaku untuk menyerang musuh dari dalam tanah. Mereka beri kesempatan aku untuk menjegal kaki-kaki kuda yang bergerak kencang dengan seribu kaki bayangan, sehingga para penunggang tersungkur dan tidak sempat menggelorakan pekik kemenangan. Mereka beri kesempatan aku menjilat bekas telapak kaki musuh sehingga mereka hangus terbakar oleh racun yang kutebar.

Jadi sudah sejak lama sejak Bima, ayahanda, melatih aku berperang aku ingin mempersembahkan kepadamu kibaran-kibaran bendera kemenangan di medan laga. Tidak hanya sekarang. Tidak hanya saat siapa pun tak bisa mengalahkan aku.

Akan tetapi aku juga hidup di dalam takdir, Ibu. Takdir yang memungkinkan Uak Kresna mengintip Kitab Jitapsara dan meminta para dewa mengubah alur kematian dan kehidupan. Takdir yang memungkinkan Uak Baladewa tak bisa kubunuh. Takdir yang apa boleh buat memungkinkan pada suatu hari Uak Kresna menipuku.

Apakah kau ingin menjadi pemenang perang sejati, Anakku? kata panglima perang paling digdaya itu kepadaku.

Tak berani menatap titisan Wisnu, aku hanya mengangguk. Aku hanya membayangkan seluruh semesta akan tunduk padaku.

Apakah kau ingin menguasai jagad raya, Anakku?

Masih hanya kudengarkan saja pertanyaan-pertanyaan manusia setengah dewa yang dalam pandanganku lebih tampak sebagai gunung sunyi dan beku itu.

Jika kau ingin raja tak tertandingi, Anakku, kau harus membunuh Duryudana dulu. Kejarlah ia sebagaimana kau mengejar bayanganmu sendiri. Jilatlah jejak kakinya sebagaimana kau menjilat cinta harum dari para dewa.

Kau pun tahu, Ibu, setelah seakan-akan mengejar bayangan musuh yang melesat begitu cepat, aku kemudian menjilat jejak kakiku sendiri dan tak akan pernah bisa membunuh Uak Baladewa dan Uak Duryudana. Tak sesuai dengan alur peperangan dalam Kitab Jitapsara awal, kematianku akhirnya menjadi pesta tak kunjung henti kemenangan Uak Kresna.

Jadi, apa yang bisa kupetik dari segala kisah kematian yang perih dan sia-sia itu? Pertama, meskipun aku beja karena bisa menjauhkan dari maut dan tak mungkin kepeleset dalam kekalahan, tetapi karena Uak Kresna lebih kuwasa dan bisa memengaruhi para dewa, akhirnya aku gawal juga. Kedua, meskipun aku kuwasa tetapi karena dewa tak bisa menghindar dari strategi dan kelicikan Uak Kresna, akhirnya takdirku untuk menjadi ratu gung binathara, terhapus juga.

Apakah kita akan terus-menerus mengalah dan tak bisa menghindar dari sihir kuwasa Uak Kresna, Ibu, apakah kita tak bisa menjadi pemberontak yang bisa mengubah takdir semesta? Apakah beja tak lagi punya makna apa-apa jika kita tak kuwasa? Apakah sabeja-bejane kang ngupaya, isih digdaya kang nggragas lan kuwasa?

(/)