FESTIVAL WAYANG INDONESIA KE-2 | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
FESTIVAL WAYANG INDONESIA KE-2 Reviewed by maztrie on 3:50 AM Rating: 4,5

FESTIVAL WAYANG INDONESIA KE-2


Ada empat nilai wayang yang penting dicermati. Pertama, keluasan pandangan yang mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan. Contohnya, Arjuna selalu mengajak dialog Cakil terlebih dahulu sebelum mereka berperang. Kedua, toleransi terhadap pluralitas. Ketiga, mementingkan kadar kemanusiaan, bukan asal usul. Dalam kelas sosial apa pun ada orang yang baik dan buruk. Setiap sosok dinilai dari sikap kemanusiaannya. Bahkan lawan pun tetap dihormati. Keempat, ajarannya tidak menggurui.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengemukakan hal tersebut pada Pembukaan Festival Indonesia ke-2 yang diselenggarakan di Pagelaran Kraton, Alun-alun Utara. Sultan berharap agar festival ini dapat ikut meningkatkan martabat manusia menjadi lebih berkualitas.

Festival ini diadakan pada 13-16 Desember 2008 di Taman Budaya Yogyakarta, berupa pameran beragam jenis wayang dan pementasan 18 dalang terbaik provinsi. Akan ditampilkan Wayang Golek Sunda, Wayang Kulit gaya Yogyakarta dan Surakarta, Wayang Parwa Bali, dan Wayang Sasak. Selain itu, juga ada 3 eksibisi yang menampilkan wayang kulit dari Palembang, Banjar, dan Cirebon. Kedua yang disebut pertama sudah terancam punah, dan kini direvitalisasi oleh Unesco.
Ragam wayang yang dipamerkan di Taman Budaya sungguh menarik dan indah. Warna dan detilnya juga mengagumkan. Ada wayang kulit ketoprak, dimana tokoh-tokohnya ada yang berkostum tentara, polisi dan serdadu Belanda. Juga wayang kulit yang mengisahkan sejarah. Ada pula wayang kulit Purwo, Dewi Sri, Menak, Wahyu, Arja Bali, ‘Tantri’ Bali, Calon Arang Bali, Parwa Bali, juga wayang kulit Tiongkok.
Ada wayang golek Potehi, Lenong Betawi, Cepak, Menak, termasuk wayang golek binatang. Ada pula wayang suket, yang terbuat dari alang-alang.

Menurut Ketua Pepadi Ekotjipto, Festival ini diselenggarakan 3 tahun sekali. Yang pertama diadakan di Surabaya. Sasarannya adalah masyarakat umum, khususnya generasi muda.

Unesco, kata Eko, telah memproklamirkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Unesco sangat membantu kehidupan wayang. Di Indonesia, kini lembaga dunia ini tengah membantu 14 perkembangan sanggar-sanggar seni pedalangan sebagai pilot project.

Dalam Festival ini juga diselenggarakan Musyawarah Nasional Pepadi ke-5 dan Sidang Wayang Asean yang bertempat di Hotel Inna Garuda. Sidang Wayang Asean, selain dihadiri 10 negara anggota Asean, juga dihadiri Jepang, India dan Cina. Indonesia kini memegang pimpinan Asosiasi Wayang Asean.

Festival ini diselenggaraan oleh Pepadi dan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) bersama Pemerintah DIY. Pepadi adalah organisasi profesi independen, yang beranggotakan para dalang, pengrawit, swarawati, pembuat wayang dan perorangan yang memenuhi syarat tertentu. Pengurusnya ada di 26 provinsi dan ratusan kabupaten/kota dengan 6.000 orang anggota. Sedangkan Senawangi, seperti dijelaskan Eko, adalah lembaga think tank yang mengatur strategi dan kebijaksanaan, yang beranggotakan akademisi, budayawan dan cendekiawan. Pepadi, kata Eko, lebih ke operasional.

Seusai peresmian Festival, hadirin menuju Taman Budaya Yogyakarta untuk melihat pameran wayang. Deretan andong pun kemudian mengantar para utusan Asean serta sejumlah tokoh Indonesia, antara lain Hidayat Nur Wahid dan Hasyim Djojohadikusumo.

Source