keluhuran kumbakarna | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
keluhuran kumbakarna Reviewed by maztrie on 11:10 AM Rating: 4,5

keluhuran kumbakarna

Kumbakarna adalah seorang ksatria bangsa Raksasa yang hidup di jaman kejayaan Prabu Sri Rama dari kerajaan Ayodya. Ayah Kumbakarna adalah seorang resi bernama Begawan Wisrawa, sedang ibunya adalah Dewi Kekasi, putri seorang raja bernama Prabu Sumali. Kumbakarna adalah juga adik penguasa negri Alengka, bernama Prabu Rahwana.
Perseteruan Alengka dan Ayodya diyakini hanyalah sebuah salah paham. Ada yang berpendapat bahwa kemarahan negri Ayodya kepada Rahwana di Alengka adalah karena diculiknya Dewi Shinta, permaisuri Sri Rama, raja Ayodya, oleh Rahwana. Tapi Alengka menduga bahwa Shinta memang sengaja diumpankan kepada Rahwana, agar Ayodya cukup memiliki alasan menyerang dan menguasai negri Alengka, negri yang cukup kaya.

Kumbakarna adalah seorang patriot. Suatu ketika dia pernah berjasa kepada bangsa Dewa, sehingga dia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hadiah apa yang diinginkan dari bangsa Dewa. Adalah Batara Brahma dan Batari Saraswati yang diutus Hyang Guru untuk menemui Kumbakarna menanyakan apa yang diminta. Diyakini bahwa Kumbakarna sedianya akan meminta ‘Indrasan’, ungkapan dalam bahasa Sansekerta yang berarti sebuah keistimewaan untuk menjalani hidup mewah di negri kahyangan Kaendran, milik Batara Indra, seperti yang terjadi pada Arjuna beberapa ratus warsa kemudian.

Tapi Kumbakarna menjadi salah tingkah dihadapan Dewi Saraswati, lidahnya kelu dan salah mengucap ‘Nendrasan’, yang berarti tidur panjang. Maka Kumbakarna pun mengalami tidur panjang. Ketika negri Alengka kemudian diserang oleh negri Ayodya dibantu oleh pasukan bangsa Kera, Rahwana kemudian memerintahkan prajuritnya agar segera membangunkan Kumbakarna. Dibutuhkan sekelompok gajah untuk menginjak-injak tubuh Kumbakarna agar membuka matanya dari tidur panjang. Dan perlu disediakan sekeranjang makanan kegemarannya sehingga membuatnya benar-benar terbangun.

Pertama kali yang dilakukan Kumbakarna ketika terbangun adalah bicara dengan kakaknya, agar mengembalikan Shinta. Tapi Rahwana juga memiliki dalih kuat yang justru ingin melindungi Shinta yang dianggapnya telah diperalat. Apalagi saat itu pasukan Ayodya sudah hampir menuju pantai negri Alengka. Maka Kumbakarna pun memimpin pasukan Alengka di garis depan, bukan dalam rangka membela kakaknya, tapi lebih kepada membela negrinya yang sedang menghadapi penjajah. Kumbakarna pun melawan Sri Rama tidak dengan rasa benci, yang dia lakukan hanya dalam rangka melindungi tumpah darahnya. Semua ksatria Ayodya yang terluka atau mati di tangan Kumbakarna, dia perlakukan dengan hormat dan menjunjung tinggi sikap ksatria sebagai sesama patriot.

Panah Sri Rama memutuskan kedua tangan Kumbakarna. Tapi itu tak menghentikannya. Kumbakarna tetap menggempur dengan kakinya. Sampai panah Sri Rama memutuskan kedua kaki itu. Kumbakarna tetap tidak berhenti, tanpa tangan dan kaki dia menggelindingkan badan kesana kemari menggempur prajurit Ayodya. Panah Sri Rama terakhir menigas leher Kumbakarna.

Dihari kematian Kumbakarna pun, Sri Rama mengibarkan gencatan senjata, sebagai hormatnya kepada Kumbakarna atas keberanian, dan semangat bertempur sebagai seorang pejuang, yang baru kali itu Sri Rama melihat seorang patriot seperti Kumbakarna.

Source