Kisah Prabu Garjendramuka | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Kisah Prabu Garjendramuka Reviewed by maztrie on 4:29 AM Rating: 4,5

Kisah Prabu Garjendramuka


Prabu Garjendramuka, adalah raja di Negara Ragastina. Raja ini mempunyai bentuk yang aneh, berbadan manusia dan berkepala gajah.. Mungkin hal tersebut menjadi perlambang bahwa sang raja menempatkan binatang gajah sebagai sumber kekuatan dan kesaktian. Hal tersebut diperkuat dengan nama-nama para senapati yang membetengi negara Ragastina juga menggunakan nama dari seekor Gajah yaitu : Patih Watu Gajah, penasehat raja yang berujud gajah bernama Antisura, senopati perang bernama Gajah Oya dan Liman Benawi. Dari wujudnya dan namanya yang serba gajah tersebut menggambarkan bahwa negara Ragastina merupakan salah satu negara yang mempunyai kekuatan besar seperti layaknya gajah. Oleh karena kebesarannya, Prabu Garjendramuka mempunyai watak congkak, tinggi hati memandang rendah kerajaan-kerajaan lain.

Pada suatu hari Sang Raja tidak bisa mengendalikan lagi hasratnya untuk memperisteri Bathari Reguwati, putri Batara Siwah di kahyangan Sela Gumilang. Dengan kesaktiannya, Prabu Garjendramuka berhasil menculik Batari Reguwati dan disembunyikan di negara Ragastina. Batara Siwah cemas dan sedih atas hilangnya putri kesayangannya. Dibantu Batara Narada dan Batara Rudra, Batara Siwah mencari putrinya yang hilang tak tahu rimbanya.

Dalam pencariannya mereka bertiga turun ke Marcapada. Batara Narada dan Batara Rudra menuju ke negara Pancuran Manik untuk meminta bantuan kepada Bambang Gutama mencarikan Batari Reguwati. Jika dapat menemukannya, Bambang Gutama akan dikawinkan dengan Batari Reguwati. Namun sayang Bambang Gutama tidak ada di Pancuran Manik. Ia murca, pergi tanpa pamit.

Kesewenang-wenangan Prabu Garjendramuka semakin menjadi-jadi. Setelah menculik Batari Reguwati, ia menuju Kahyangan Paranggudadi di dasar samodra, menemui Batara Baruna untuk meminta pusaka Bokor Inten yang berisi Wedi Retnojumanten. Karena tidak diperbolehkan, Prabu Garjendramuka mengambil paksa pusaka tersebut yang disimpan dikancing gelung Batara Baruna.

Sementara itu Batara Siwah yang mencari puteri kesayangannya, sampailah di hutan Cebokcengkiran. Tanpa sengaja Batara Siwah menemukan Bambang Gutama yang sedang bertapa, untuk memohon isteri seorang bidadari. Gayungpun bersambut. Batara Siwah pasrah kepada Bambang Gutama berkaitan dengan hilangnya Batari Reguwati. Jika dapat menemukan putrinya dengan selamat, ia akan dikawinkan dengannya, dan Bambang Gutama menyanggupinya. Agar Bambang Gutama berhasil dalam usahanya mencari Batari Reguwati dan menyelamatkannya, Batara Siwah memberikan sipat kandel, berupa pusaka Jungkat Penatas.

Kisah selanjutnya Bambang Gutama dapat menemukan Dewi Reguwati yang disembunyikan di Taman Ragastina. Sang Batari Reguwati dijaga dan ditemani oleh Dewi Leng-leng Ndari, Leng-leng Agi dan Leng-leng Adi, saudari dari Prabu Garjendramuka. Bambang Gutama mengutarakan bahwa kedatangannya menemui Batari Reguwati diutus oleh Batara Siwah untuk membebaskannya dari cengkeraman Prabu Garjendramuka.

Secercah harapan menuju pembebasan merekah dihadapan Batari Reguwati. Dengan mata berbinar senang, tanpa rasa canggung, tangan Bambang Gutama dipegangnya erat-erat. Walau tanpa sepatah kata pun, Bambang Gutama dapat menangkap kehendak Batari Reguwati, bahwasannya ia telah mempercayakan diri dan pasrah sepenuhnya kepada Bambang Gutama.


Walaupun Dewi Reguwati sudah berada di depannya, tidak mudah bagi Bambang Gutama untuk membebaskan dan membawanya pergi. Dikarenakan Prabu Garjendramuka telah mendapat laporan dari para saudarinya bahwa ada duratmaka, pencuri yang masuk taman dan ingin membawa pergi Batari Reguwati

Maka sebelum Bambang Gutama bertindak Prabu Garjendramuka menghadang di depannya. Setelah saling bersitegang, sebentar kemudian keduanya terlibat dalam pertempuran. Kesaktian Prabu Garjendramuka mampu diimbangi oleh Bambang Gutama. Bahkan ketika Bambang Gutama mengeluarkan senjata Jungkat Peñatas pemberian Batara Siwah, Prabu Garjendramuka mulai terdesak. Dan ketika ia lengah senjata Bambang Gutama berhasil melukai Prabu Garjendramuka dan ambruklah ia di medan perang. Ia merintih kesakitan. Batari Reguwati mendekatinya. Prabu Garjendramuka mohon untuk disempurnakan. Batari Reguwati menyanggupinya, asalkan ia mengembalikan pusaka Bokor Inten yang berisi Wedi Retnojumanten yang diambil paksa dari kancing gelung Batara Baruna.

Apa mau dikata, walaupun rasa angkara masih mencengkeram hatinya, raganya tak kuasa lagi menyangga. Batari Reguwati melepaskan senjata ke tubuh Prabu Garjendramuka menyusul senjata Bambang Gutama.

Kematian Prabu Garjendramuka diikuti oleh kematian Patih Watu Gajah, Antisura, Gajah Oya, Liman Benawi, Dewi Leng-leng Ndari, Dewi Leng-leng Agi dan Dewi Leng-leng Adi.

Keelokan terjadi, bersamaan dengan kematian Prabu Garjendramuka, para pengikut dan saudaranya, negara Ragastina hilang dan berubah menjadi hutan.

Kelak jika sudah sampai pada waktunya, hutan tersebut akan di babad dan di atasnya didirikan Negara besar yang dinamakan Hastinapura atau Liman Benawi, meliputi wilayah Kadipaten Gajah Oya, Pakuwon Watu Gajah dan taman Kadilengleng.

Dari nama-nama yang dipakai, dapat dikenali bahwa nama-nama tersebut diambil dari nama-nama pengikut Prabu Garjendramuka. Apakah itu suatu pertanda bahwa watak angkara dari Prabu Garjendramuka yang tertinggal di hutan tersebut akan diwarisi oleh raja dan pengikutnya di negara yang baru yang bernama Hastinapura?

Pentas Wayang Kulit Purwa dengan cerita Prabu Garjendramuka Lena telah dipentaskan di Rumah Budaya Tembi pada pentas rutin Jumat Legen, 2 April 2009, mulai dari jam 21.00 sampai jam 04.30, oleh dalang putri Veronika Titik Retnowati 47 tahun dari Kadipiro Jogyakarta.

Dalam hal mendalang, kemampuan Ibu Titik tidak perlu diragukan lagi. Dikarenakan Ia adalah keturunan dalang terkenal pada jamannya yaitu Ki Bancak, yang menurunkan Ki Parman ayah dari Ki Seno Nugroho, yang sejak kecil telah bermain wayang.

Sebelumnya, dalang remaja Risky Rahma Nurwahyuni putri dari Ki DRS. Sigit Tri Purnomo dari Tegal Kenanga Bantul menampilkan fragmen Wahyu Cakraningrat. Menurut Sri Mulyono S.Sn, ketua Pepadi Bantul, pentas kali ini special menampilkan dalang putri dengan maksud untuk menyambut hari Kartini.

Hadir pada malam itu ketua Pariwisata Bantul, Camat Sewon, Ki Timbul Cermomanggala, Ki Sutejo, para dalang muda, budayawan dan masyarakat umum. Pergelaran Wayang kulit semalam suntuk tersebut terselenggara atas kerjasama Pepadi Komda Bantul, Pemda Bantul, Jogya TV dan Ruamah Budaya Tembi.

Source: PakDheDar