Nyandhing Gething | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Nyandhing Gething Reviewed by maztrie on 2:10 AM Rating: 4,5

Nyandhing Gething

TERBANGUN dari apakah semua imperium di muka bumi? Terkonstruksi dari apakah keraton-keraton yang pernah memberi kesempatan kepada Ken Arok untuk membunuh Tung­gul Ametung, Bima menghabisi Dur­yudana, dan Arjuna memenggal kepala Karna dengan panahnya?

Ada banyak jawaban yang bisa dilontarkan untuk merespons pertanyaan semacam itu. Meniru Friedrich Wilhelm Nietzsche atau Zarathustra yang berteriak-teriak di pasar, mungkin kita akan bilang, ”O akibat setiap orang memiliki kehendak untuk berkuasalah, yang menyebabkan mereka ingin membangun imperiumnya sendiri-sendiri.” ”Tidak! Tidak! Mesin hasrat untuk hidup dalam gairah seksual yang sangat eksitensialislah yang menjadi pemicu orang-orang untuk membangun keraton, taman-taman penuh bunga, dan ranjang-ranjang berlumur anggur,” kata yang lain mengutip igauan Amangkurat atau Sigmund Freud.

Hasrat, keinginan, kebutuhan, atau apa pun namanya, boleh jadi memang menjadi api yang membakar semangat siapa pun untuk membangun rumah angkuh kekuasaan. Akan tetapi dalam kasus raja-raja Jawa, ada bara lain yang lebih berperan. Bara itu bernama kekerasan dan dendam. ”Kekerasan itu juga mudah menular, berjangkit bagai wabah pe­nyakit. Satu orang terkena kekerasan, ia se­gera mencari sasaran lain untuk melampias­kan dendam akibat kekerasan yang diderita­nya. Demikianlah dalam sekejap orang bisa ketularan kekerasan, saling menyiksa dan membunuh, tanpa ada habisnya,” ungkap Sin­dhu­nata dalam Kambing Hitam, Teori Rene Girard.

Bagaimana dendam beroperasi? Menurut Rene Girard, dendam hadir jika raja atau orang lain yang dikorbankan dalam ritus kekerasan bukanlah mereka yang dimarginalkan. Persoalannya dalam kasus raja-raja Jawa, mereka yang dikorbankan adalah sosok-sosok yang berada di pusat kekuasaan. Dan karena menurut Girard, kekerasan pada dirinya selalu mengandung balas dendam, maka para calon raja-raja baru senantiasa memarginalkan raja lama, dan sang raja baru dihabisi oleh raja yang lebih baru.

Kita tahu sekalipun Brawijaya kuat, ia harus takluk kepada Raden Patah, anaknya sendiri. Kita tidak tahu apakah Demak menyerang Majapahit demi perluasan kerajaan atau penyebaran agama. Namun, yang jelas-jelas kita paham, saat Brawijaya tumbang, Putri Cina —ibu Patah— sangat bergembira. Den­damnya terlunasi. Ia berharap Brawijaya sadar mengapa dulu hanya karena lebih memilih Putri Cempa, tega mengusir, bahkan menghadiahkan dirinya kepada Arya Damar, putra raja.

Dalam bahasa yang pedih, meminjam ungkapan Sabdo Palon-Nayagenggong, dalam Putri Cina, Sindhunata menulis, ”Anak cucunya akan bertengkar tiada habisnya. Mereka semua tidak bisa menyucikan dirinya dari darah dendam yang ditaburkan oleh leluhurnya. Seperti Janameya, mereka gagal dalam penyucian diri mereka. Darah di Kurusetra akan selalu menyertai mereka. Itulah yang akan membuat mereka sulit menciptakan kedamaian di Tanah Jawa.”

Karena itu jika mendengar betapa riwayat Tanah Jawa tak lebih dan tak kurang adalah ”se­jarah balas dendam”, kita tidak perlu kaget. Sejak Anusapati dendam pada Ken Arok, Toh­jaya pada Anusapati, hingga raja-raja baru di republik rasa kerajaan, ”ruh kekerasan” me­mang tumbuh di hati sanubari siapa pun. Yang lalu harus dilenyapkan oleh yang baru. Orde yang satu ditumbangkan orde lain sehingga tidak ada satu alasan pun untuk menghentikan dendam.

Berbagai kutuk dendam memang ingin dihapuskan, tetapi selalu saja gagal. Kekeras­an dan dendam terus-menerus menjadi iblis yang merasuk ke hati para pendamba kekua­sa­an. Airlangga terpaksa membagi kerajaan Jenggala dan Panjalu agar anak-anaknya ti­dak bertikai, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Apakah api dendam dan kekerasan bisa di­padamkan? Apakah kita harus senantiasa bersanding dengan kebencian (nyandhing ge­thing) yang terus-menerus terhadap orang lain?

Arjuna dalam Bhagavad Gita sebenarnya hendak mematahkan panah dendam dengan memilih tak melanjutkan peperangan. Ia sama sekali tak ingin lagi melihat darah tumpah di medan laga. Ia tak ingin mendengar jerit tangis dan erangan kesakitan para prajurit karena tertusuk pedang atau terhantam gada. Ia tak ingin menyaksikan kepala-kepala menggelinding akibat tebasan pedang lawan.

Akan tetapi kita kemudian tahu dengan memberikan alasan-alasan yang ”teologis, metafisis, dan yuridis”, Kresna bisa menyubversifkan gagasan-gagasan pembunuhan kepada ksatria yang disebut-sebut sebagai Putra Surga itu. Arjuna kemudian mempersiapkan busur dan panah serta menggelegakkan semangat untuk menghabisi musuh. Kekerasan, hasrat membunuh, dan balas dendam tiba-tiba menjadi tindakan suci yang direstui para dewa. Hanya dengan membunuh Arjuna menjadi insan sempurna. Hanya dengan mengumbar kekerasan, ia menjadi insan utama. Hanya dengan meniadakan liyan, ia menjadi manungsa utama, manungsa linuwih, atau ubermench.

Tak ada jalan keluar? Tentu ada. Girard memberikan jalan keluar berupa: ritus korban. Korban itu berupa hewan atau orang-orang pinggiran yang ”dihajar” sedemikian rupa sehingga, orang tak memiliki hasrat untuk membalas dendam lagi. Dunia modern juga memberi jalan keluar. Jalan itu bernama hukum atau aturan-aturan untuk misalnya mengelola penjahat atau pembunuh. Di mata hukum, hasrat membalas dendam perorangan terlunakkan. Inilah masa wawuh, masa berdamai orang Jawa dengan siapa pun atau apa pun yang mene­barkan kebencian, dendam, dan kekerasan.

Jadi untuk mematahkan dendam, kita memang mesti wawuh. Itu jalan terakhir yang harus dilakukan jika kita tak punya lagi institusi kehidupan yang bisa diidentikkan sagai ritus korban. Kita tidak boleh gething, karena gething punya potensi nyandhing. Kita tak boleh lagi nyandhing gething agar dendam terkubur dalam hening yang wening.

Source