Reinterpretasi Simbol Wayang | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Reinterpretasi Simbol Wayang Reviewed by maztrie on 2:48 AM Rating: 4,5

Reinterpretasi Simbol Wayang

Manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Wayang adalah simbol, mulai dari tokoh, adegan dan lakon sampai –dalam wayang kulit-- peralatan pentas (kelir, blencong, dsb), pembabakan waktu dan deretan wayang di sisi kiri-kanan kelir.

Menarik untuk disimak adanya kecenderungan kecil, yang berlawanan dengan persepsi mainstream, terhadap penyimbolan wayang ini, utamanya pada tokoh-tokohnya.

Dalam kisah Ramayana, tokoh yang biasanya sering memancing polemik adalah Kumbakarna dan Wibisana. Kumbakarna bersikap ‘right or wrong is my country’, sedangkan Wibisana berpendapat ‘right is right, wrong is wrong’. Di negeri kita, perbedaan ini mencuat dalam kasus Timor Timur atau pun laporan pelanggaran HAM ke PBB.

Namun belakangan muncul berbagai penafsiran yang lebih kritis, yang lebih bernada menggugat, yang menyudutkan Rama, baik dalam kaitannya dengan Rahwana maupun Shinta.

Agus Sunyoto dalam novel ‘Rahuvana Tattwa’ menggambarkan Rahwana sebagai raja pelindung negerinya dari penjajahan agresor Rama sebagai bangsa Arya. Agus juga mempertanyakan, mengapa Rahwana didukung sepenuhnya oleh rakyat Alengka, tapi Rama malah menggunakan bala tentara kera? Agus menyodorkan ‘fakta’ pula bahwa Rahwana bersikap sopan terhadap Shinta dan tidak menodainya, sementara Rama –setelah berhasil membebaskan istrinya-- justru bersikap kejam terhadap Shinta.

Perspektif Agus sejalan dengan Srilanka. Di Srilanka, Rahwana adalah pahlawan yang melawan Rama si penjajah. Pada tahun 2004, misalnya, untuk menghindari protes Srilanka, delegasi Indonesia segera mengubah lakon wayang kulit yang dibawakan Ki Manteb Soedharsono di Gedung Unesco Paris dari ‘Brubuhan Alengka’ menjadi ‘Sesaji Raja Suya’. Guru dan penulis St Kartono juga pernah menulis bahwa konon delegasi Srilanka mundur dari Festival Ramayana lantaran negara-negara lain menampilkan Rahwana sebagai tokoh jahat.

Reinterprestasi juga dilakukan terhadap tokoh Shinta. Dalam rubrik tetap ‘Podium’ di tabloid Detik, sastrawan AS Laksana pernah menyoroti Ramayana dalam perspektif feminisme. Shinta, yang dibuang Rama, mengatakan, “… Biarlah air mataku tertumpah, juga untuk nasib yang harus ditanggungkan oleh kaumku pada masa-masa mendatang.” Dengan nada yang lebih garang, sajak ‘Elegi Sinta’ Dorotea Rosa Herliany dibuka dengan “aku sinta yang urung membakar diri/demi darah suci/bagi lelaki paling pengecut bernama rama”, dan ditutup dengan “agar sejarahku terpisah dari para penakut/dan pendusta. rama…”.

Pada cerita Mahabharata, tokoh yang paling disikapi beragam adalah Karna. Kembali pada dilema, ‘salah atau benar adalah sumpah dan janjiku’, atau ‘salah adalah salah, benar adalah benar’. Karna mengambil opsi pertama, setia pada janjinya untuk mengabdi pada Duryudana yang telah mengangkat derajatnya meski ia tahu berada di pihak yang salah.Yang mendukung (baca: memaklumi) sikap Karna ini melihatnya sebagai satu ucapan dan tindakan (konsistensi), menjunjung tinggi janji, dan sepi ing pamrih. Yang menentang menganggap Karna sebagai antek rezim yang mengkhianati kebenaran. Berbeda dengan Kumbakarna, Karna dinilai bukan membela negara tapi penguasa Duryudana.

Seperti juga soal Kumbakarna, positioning Karna adalah polemik klasik. Tapi belakangan juga muncul tulisan yang menyoroti kelemahan tokoh Pandawa dan kebaikan tokoh Kurawa, mungkin semacam upaya penyeimbangan. Dalam novel ‘Manyura’, Yanusa Nugroho mengangkat perselingkuhan Arjuna dan Banowati (istri Duryudana) serta orientasi kekuasaan Yudhistira. Dalam cerpen ‘Dusta Itu…’, Yanusa mengakhirinya dengan kekecewaan Dorna atas kebohongan Yudhistira perihal kematian Aswatama. Sambil menangis, Dorna mengatakan, “Bukan kematian Aswatama yang kutangisi, tapi dusta yang baru saja kau ucapkan, yang kusesali. Apa lagi yang akan kuperoleh di dunia ini, manakala kejujuran telah melahirkan dusta?”

Demikian pula, Pitoyo Amrih dalam buku ‘Kebaikan Kurawa’ mencoba mengangkat sisi baik sejumlah tokoh Kurawa. Sementara Gus Dur melihat bahwa positioning Pandawa dan Kurawa bukanlah positioning baik dan jahat antara cowboy dan bandit seperti dalam cerita-cerita Barat. Filosofi Pandawa dan Kurawa, menurutnya, adalah orang yang mencari kebenaran dan orang yang telah sampai kepada kebenaran itu sendiri. Pihak Kurawa adalah pejuang kebenaran yang belum sampai pada kesempurnaan pandangan. Ini artinya, simpul Gus Dur, Kurawa adalah calon komplemen bagi Pandawa.

Semua reinterpretasi baru ini, lepas dari setuju atau tidak, agaknya perlu diterima dengan pikiran terbuka. Yakni sebagai upaya memanusiakan wayang, mengontekskan wayang dalam nilai-nilai humanistis. Keabuabuan itu membuat kita terperangah lalu menjenguk lebih jauh ke dalam diri sendiri. Reinterpretasi yang sekadar ‘asal lain’ akan diabaikan, tapi yang menyuruk ke persoalan substansi manusia akan dicamkan.

Meminjam ulasan AH Bakker tentang simbol, di satu kutub ada identifikasi mitis (bukan mistis) yang dihayati dalam kelompok yang hidup dalam identifikasi antara tindakan simbolis dan apa yang mereka simbolkan, sementara di kutub lainnya adalah distansi alegoris yang hidup dalam keterasingan dari akar-akarnya dan kehilangan kepekaannya bagi kenyatan mendalam. Berangkat dari dikotomi ini, agaknya reinterpretasi yang konstruktif berada di antara keduanya. Tidak semata pengidolaan membabi buta, sekaligus tidak hanya intelektualisme yang menghakimi.
Source: A.Barata