mendhoan | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
mendhoan Reviewed by maztrie on 3:41 AM Rating: 4,5

mendhoan


Sehubungan hari jatah angon keboku sedang libur dan sebenarnya ada keinginan buat keluar. Tapi karena cuaca tak mengijinkan, gelap dan hujan dah dimulai dengan irama gerimisnya, maka sore ini aku dirumah saja. Iseng-iseng ketukang sayur lumayan tersedia apa yang kucari…Kegiatan pun dimulai……..

Bermodalkan minyak goreng, tepung, bumbu alakadarnya dan yang pasti tak ketinggalan adalah tempe. Siap membikin gorengan yang entah kesepakatan dari mana gorengan yang lumayan mengandung banyak minyak ini disebut "mendhoan”.
Lumayan hasrat perutku tuk melahap makanan kesukaan yang sejak dari kecil sering dibikinin emak ini terpenuhi, yummiiiiiii………………….. ( kalo pingin nggoreng ndiri yach…)

*** Mendhoan sebagai kata benda untuk menyebut jenis gorengan berbahan baku tempe ini dah aku dengar sejak kecil. Dan saya yakin begitu juga pasti sama halnya dengan temen-temen semuanya.
“Mak kenapa sih namanya koq Mendhoan…?” Itu pertanyaan ku dulu pada Simbokku

Mendhoan, dari ater-ater (kata dasar) “MENDHO”, huruf “E” dibaca seperti pada pengucapan meraba dan huruf “O” diucapkan seperti pada kata Hallo maka dapat diartikan “tanggung”…….. Karena posisi mendho itu berada diantara kata “mendhak” (kebawah) dan “mendhuwur” (keatas). Bukan tanpa sebab hal ini disebutkan seperti itu, Bukankah keadaan mendhoan adalah juga serba tanggung….?
Dia tak bisa kering dan kalopun nyampe bisa kering menggorengnya berarti sebutannya sudah lain, yaitu keripik bukan mendoan lagi, juga tak berujud basah n benyek namun tetep berminyak………..

Lain itu sebutan “MENDHO” apabila huruf “E” nya dilafalkan seperti pada kata Ekonomi sedangkan huruf “o” nya seperti kata kotor, maka definisinya pada Bahasa Krama (Bahasa Jawa halus) adalah sama dengan KAMBING alias Wedhus.

Dan yang ketiga kalau diambil dari kata ENDHO (lafalnya sama dengan kata Kambing diatas), dapat juga diterjemahkan sebagai keadaan yang tidak pada tempatnya alias “menghindar”.
Pas dibalang sendhal, aku mau endho = Sewaktu dilempar sandal, tadi aku menghindar.
Nah dari deskripsi diatas dapat diambil pelajaran buat kita semua, bahwa sebenarnya Meskipun MENDHOAN itu enak dan nikmat rasanya, namun janganlah kita terbuai dalam kenikmatan dunia yang pebuh tipu daya ini. Karena sebenarnya kita ini harus berani melakukan perjalanan “MENDHUWUR” (keatas) bukan hanya keenakan tetap tinggal ditengah seperti enaknya rasa MENDHOan itu apalagi harus mendhak, karena kegiatan mendhak(bergerak kebawah) kebanyakan adalah gerakan memundurkan prestasi diri.
Selanjutnya apabila kita telah sampai pada posisi atas seyogyanya tetap berusaha agar senantiasa eling (ingat) dan tak lupa diri layaknya si “MENDHO” alias kambing tadi. Bukankah kambing kalo laper maunya Cuma berteriak mengembik ‘embeeeeeekkkkk……..’ dan apabila telah terpenuhi hasrat makanannya kemudian diam aja, bahkan malah menyimpan dan membikin stock makanan di perutnya sehingga didalam kandang bermales-malesan sambil tiduran “nggayemi” (mengunyah makanan)…….?

Dan yang terakhir adalah alangkah mulianya apabila amanat dalam menjalankan hidup dan kehidupan ini kita terapkan rasa ke-bertanggungjawab-an yang tinggi, tanpa melakukan tindakan ENDHO atau menghindar…….meski kesalahan yang diperbuat sekalipun, namun bertanggungjawab atas tindakannya adalah pilihan paling bijak dalam menentukan kualitas hidup kita semua…

Semoga kita semua (terutama diri saya) masih diberikan kesempatan tuk mampu menelaah sebagian kecil pelajaran hidup dari kecil ini untuk tak lembek dan berminyak laksana MENDHOAN itu……….. Amien…

Kehidupan akan keras pada kita, tatkala kita lunak pada diri sendiri Dan Kehidupan akan lunak pada kita, apabila kita keras pada diri sendiri
(Andre Wongso)