SERAT CENTHINI: MENGUAK BUDAYA MASA LALU | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
SERAT CENTHINI: MENGUAK BUDAYA MASA LALU Reviewed by maztrie on 11:49 AM Rating: 4,5

SERAT CENTHINI: MENGUAK BUDAYA MASA LALU

Serat Centhini (SC) dianggap sebagai salah satu karya sastra Jawa yang monumental dan bahkan dianggap sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa karena isinya memuat berbagai pengetahuan seperti sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, agama, falsafah, tasawuf, mistik perlambang, adat-istiadat, etika, ilmu pengetahuan flora fauna, makanan, minuman tradisional dan masih banyak lagi. Tidak heran jika sejak dibuat tahun 1814 oleh Sinuwun Pakubuwana V, karya ini terus dikaji dan diteliti dalam kaitannya dengan ranah kebudayaan. Bahkan Serat Centhini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Dari masa ke masa, SC terus digali dan dikupas isinya sesuai dengan berbagai ilmu yang dikandungnya. Tidak heran berbagai penelitian berbasis SC terus mengalir di kalangan akademisi.

Penerjemahan dari bahasa asli, yakni bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia juga terus dilakukan. Salah satu hasil yang telah selesai adalah penyaduran yang dilakukan oleh tim Jurusan Sastra Nusantara Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM beberapa waktu lalu. Penyelesaian penyaduran jilid V-XII merupakan hasil lanjutan dari penyaduran jilid sebelumnya, yakni jilid I-IV. Dengan demikian, tim UGM di akhir tahun 2008 telah menyelesaikan penyaduran SC jilid I-XII. Peluncuran penyaduran dilakukan seiring dengan penyelenggaraan seminar membahas SC di Fakultas Ilmu Budaya pada hari Senin, 22 Desember 2008 sekaligus dalam rangka Dies Natalis ke-59 UGM. Tema seminar adalah “Mengungkap Kolaborasi Isi dan Peluncuran Saduran Serat Centhini Jilid V-XII.”

Pembukaan seminar dan peluncuran saduran SC dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa kegiatan seperti ini harus sering dilakukan oleh perguruan tinggi yang berbasis penelitian. Apalagi FIB UGM sendiri telah memiliki peringkat dunia yang lumayan bagus yakni peringkat 56 dunia untuk fakultas humaniora. Guru besar yang pernah mengajar di Fakultas Ekomonika dan Bisnis UGM ini juga mengatakan bahwa Jawa kaya akan karya-karya sastra kuno. Maka karya-karya sastra itu harus digali dalam bentuk tesis maupun disertasi agar terus mengangkat dunia pendidikan Indonesia di tingkat dunia. Karena pengkajian terhadap budaya masa lampau jelas sangat berguna untuk masa sekarang dan mendatang.

Sementara kegiatan seminar menampilkan pembicara kunci, yakni Dr. Budya Pradipta (tema: Serat Centhini dan Laku Hidup Orang Jawa) dan beberapa pemakalah, di antaranya adalah Prof. Dr. Marsono, S.U (tema: Masterpiece Pujangga Jawa); Junanah, M.Ag (tema: Pengaruh Bahasa Arab dalam Centhini); Drs. Suwardi Endraswara, M.Hum. (tema: Ajaran Etika dalam Centhini); Drs. Akhmad Nugroho, S.U. (tema: Centhini: Matinya Seh Among Raga); Prof. Dr. Suhartono dan Dr. Sri Margana (tema: Unsur Sejarah dalam Centhini). Seminar ini juga menampilkan pemakalah lain seperti Ir. Yuwono Sri Suwito, M.M, Elisabeth D. Inandiak, dan Drs. Kasidi Hadiprayitno, M.Hum.

Seminar ini sangat menarik bagi dunia akademisi, karena menguak isi SC dari berbagai sisi. Kapasitas undangan 200 orang terlampaui hingga berjumlah lebih dari 225 peserta sehingga sebagian peserta yang datang terlambat tidak mendapat bagian makalah. Peserta datang dari berbagai penjuru, seperti dari Jakarta, Surakarta, Semarang, dan kota-kota sekitarnya.