Sinta Gugat | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Sinta Gugat Reviewed by maztrie on 1:46 AM Rating: 4,5

Sinta Gugat

KAUBILANG setelah perang agung itu berakhir, aku telah merdeka. Merdeka dari cengkeraman Rahwana. Merdeka dari pandang curiga khalayak dan Rama yang tak percaya pada kesucian cintaku. Kau keliru, Hanoman, kau salah menafsirkan makna kemerdekaan dan kebebasan. Sesungguhnya saat Rama mulai mempertanyakan kesucianku dan menduga-duga segala yang kulakukan di keharuman Taman Asoka dan kesunyian ranjang Alengka bersama Rahwana, pada saat itu pula ia telah memenjarakan aku ke dalam ceruk kenistaan.

Juga ketika tebersit keinginan khalayak dan Rama untuk menguji kesucian cintaku dengan membakar aku ke dalam api penyucian, pada saat yang sama mereka telah melecehkan kehormatanku sebagai manusia yang bisa mengagungkan kesetiaan dan kepercayaan. Akhirnya siapa pun tahu aku kemudian dibakar. Api tak mau menjamahku karena Dewa Agni dan Dewa Brahma tahu betapa perempuan yang teraniaya berhak mendapatkan kehormatan, kekuatan, dan keindahan. Mereka bukan saja membebaskan aku dari sengat api, tetapi lebih dari itu memberiku sayap agar bisa terbang dan memandang para penghukumku dengan mata nanar.

‘’Lihat, wahai rakyatku, Sinta, kekasihku tercinta, tak dilahap api. Berarti ia suci. Berarti tak pernah sesaat pun ia meluruhkan kesetiannya kepadaku,’’ kata Rama dalam nada penuh cinta, dalam gelegar geledek membelah angkasa.

Rakyat —yang tiba-tiba seperti bermulut besar dan tak henti-henti menyemburkan api— tak peduli pada teriakan suamiku yang tak ingin kehilangan pesona itu. Mereka dengan kepala panas berteriak, ‘’Jangan tipu kami dengan sihirmu, Rama. Tak ada perempuan yang tetap suci jika ia hidup dengan pria sehebat Rahwana. Apalagi Rahwana berkepala sepuluh. Ia bukan manusia biasa.’’

Kau pun tahu, Hanoman, saat itu Rama hanya bertafakur. Ia tidak berani memandang mata khalayak. Ia tidak berani mendengarkan riuh suara publik yang kian berbisa. Ia tak berani menolak suara orang ramai yang berhasrat benar menggiringku ke hutan sunyi penuh harimau, kelelawar, ular, dan para pemangsa manusia.

Ya, ya, akhirnya Rama memang membuangku ke hutan. Ia meminta adikku, Laksamana, mengantarku dengan kereta kencana sampai di tepi Sungai Gangga.

‘’Apakah rakyat dan Rama juga akan menganggap bayi yang tengah kukandung sebagai anak haram, Laksamana?’’

Laksmana tak menjawab.

‘’Apakah ia merasa terbebas dari kenistaan karena membuangku ke hutan saat aku hamil tua?’’

Laksmana masih terdiam. Ia —yang terlalu patuh pada Rama— dengan hati berat meninggalkan aku yang tak habis mengerti mengapa Rama lebih takluk kepada kehendak khalayak ketimbang percaya kepada kekasihnya. Aku masih melihat sisa debu yang beterbangan ketika adikku kembali ke Ayodya.

Wahai, Hanoman, dari Resi Walmiki kau tahu, aku kemudian hidup di hutan lagi. Hutan, bagiku, agaknya memang diciptakan sebagai penjara. Dulu dalam pembuangan pertama, aku juga harus sendirian di hutan ketika Rama berperang melawan Rahwana dan Laksmana mengejar kijang kencana.

Apakah perempuan harus selalu menjadi makhluk yang terbuang, wahai Kera Putih yang sakti? Apakah perempuan harus senantiasa diragukan keberadannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah kulontarkan kepada Resi Walmiki dan kedua anak kembarku, Kusa dan Lawa. Mereka —pria-pria indah penuh kitab yang aku kagumi, itu selalu hanya menjawab dengan senyum tulus. Mereka menjawab segala pertanyaanku dengan tidak menjawab. Yang kutahu Resi Walmiki kemudian menggubah Ramayana dan menciptakan nyanyian ‘’Ramachandra’’. Adapun kedua anakku menjadi trubador ulung yang mewartakan kedigdayaan ayahanda dan kesucian ibunda.

Apakah setelah itu kauanggap aku tak punya persoalan lagi dengan kemerdekaan, kesucian, dan kebebasan? Baiklah, kukatakan kepadamu, wahai Hanoman, pada akhirnya aku sebenarnya bisa membebaskan diri dari pesona Rama. Aku lebih khusyuk memikirkan anak-anakku ketimbang membayangkan hidup di taman indah bersama kekasih. Tetapi ada penjara lain yang justru menguntitku sepanjang waktu, penjara kesucian.

‘’Penjara kesucian?’’

Ya, pada akhirnya aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku benar-benar suci. Suci ati, suci rupi. Karena itu, aku bilang pada Dewi Pertiwi, ‘’Kalau benar-benar aku suci hendaklah kaupeluk aku ke dalam haribaanmu yang wangi.’’

Bumi kemudian terbelah. Bersama Dewi Pertiwi aku moksa, angslup ke daerah rahasia, ke dalam bumi yang tak pernah kaupahami keindahan dan keagungannya.

Apakah aku telah merdeka? Aku kira dalam keheningan semesta tak ada satu makhluk pun yang benar-benar merdeka. Kemerdekaan, kau tahu, adalah ketika kawula bebas memilih untuk tunduk penuh seluruh di kaki sang gusti atau tidak berada dalam sangkar emas sang junjungan. Dan kebebasan adalah ketika sang keris lolos dari sarung dan siap dihunuskan ke perut lawan atau sekadar untuk mencungkil mutiara dari keheningan kerang.

Apakah aku telah menjadi kawula dan keris semacam itu? Sejak kecil, sejak Raja Janaka memungut bayi Sinta dari tanah subur dan menghadiahkan aku kepada Rama, kehidupanku telah terpenjara. Sayang kau menganggap semua itu sebagai berkah, sehingga tak pernah tergerak sedikit pun untuk membebaskanku dari penjara keindahan.

Jika pada akhirya aku memilih hidup dalam pembuangan, Hanoman, itu karena aku percaya hanya kebebasan dan kemerdekaan bersikaplah yang menyelamatkan kehidupan. Khayangan, surga sejati kita, hanya lahir dari mereka yang berani melawan ketakutan. Rama yang takut hidup merdeka bersamaku bahkan terlambat mencintai Kusa dan Lawa, anak-anak yang bakal membuka gerbang surga.

Rama yang penakut itu...tak akan pernah merdeka. Juga dari khalayak. Apalagi dari arwah Rahwana yang harus kuakui memang perkasa.