Sukrasana Lena di pergelaran Wayang Jumat Legen | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Sukrasana Lena di pergelaran Wayang Jumat Legen Reviewed by maztrie on 4:02 AM Rating: 4,5

Sukrasana Lena di pergelaran Wayang Jumat Legen


Pada suatu waktu Semar --pamomong jiwa dan hati kesatria-- mengatakan kepada Raden Sumantri --seorang kesatria dari Padepokan Jatisarana-- demikian:

”Aku bersedia mengikuti dan mendampingimu asalkan engkau mau berjanji akan selalu menjaga jiwa kesatriamu. Melindungi yang lemah, menghargai sesama dan semua ciptaan, serta berlaku adil. Apakah engkau bersedia Raden Sumantri?”

”Aku bersedia, Bapa Semar.”

”Bagus, bagus! Tetapi ingat jika engkau ingkar janji, jangan cari aku lagi, karena aku segera akan meninggalkanmu.”

”Baiklah, Bapa Semar.”

Sebelum dialog tersebut terjadi, Sumantri telah gagal dalam menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Prabu Harjunasasrabahu untuk melamarkan Dewi Citrawati di Negara Magada. Kegagalan tersebut disebabkan karena Sumantri tidak mampu mengalahkan para pesaingnya, yaitu raja-raja seribu negara yang diwakili oleh Prabu Darmawasesa dan Prabu Herapaksa. Menanggung malu atas kekalahannya, Sumantri kembali ke Padepokan Jatisarana untuk berkeluh kepada ayahhandanya, Begawan Jamadagni.

”Sumantri anakku, ada satu hal yang engkau lupakan sehingga engkau mengalami kegagalan. Yaitu engkau tidak menyertakan Semar dalam perjalanan hidupmu. Bukankah ia seorang pamomong sejati yang mampu mengantar momongannya menuju keberhasilan? Mengapa engkau tidak mengajaknya?”

”Dhuh Rama Begawan aku telah melupakannya. Maafkan aku Rama Begawan.”

”Anakku Ngger Sumantri, tidak cukup disesali kesalahan itu, bangkit dan berangkatlah kembali ke Magada untuk menyelesaikan tugas yang diperintahkan Sang Prabu Harjunasasrabahu. Jangan lupa mampir ke Karang Kabolotan mengajak serta Semar dan anak-anaknya. Sebagai sipat kandel bawalah senjata Cakra Baskara ini sebagai pambengkas satru sakti. Namun setelah selesai, kembalikan pusaka ini kepada yang berhak yaitu Prabu Harjunasasrabahu.”

Maka berangkatlah Sumantri ke Negara Magada. Di tengah perjalanan menuju Magada, Sumantri disusul adiknya raksasa cebol yang buruk muka bernama Sukrasana. Begitu cintanya sang adik kepada kakaknya sehingga Sukrasana tidak mau berpisah dengan kakaknya. Ia ingin ikut ke Magada. Sumantri tidak mau diikuti adiknya. Ia berpura-pura kehausan, maka disuruhnya Sukrasana mencari air. Karena cintanya kepada sang kakak, tanpa curiga sedikitpun Sukrasana mencarikan air. Pada saat itulah Sumantri meninggalkan Sukrasana.

Namun dengan kesaktiannya adik yang sakti ini selalu mengikuti tanpa diketahui oleh kakaknya. Selanjutnya Sumantri kembali ke Magada dan tidak lupa menghampiri Semar. Benar apa yang dikatakan Resi Jamadagni, dengan keberadaan Semar disampingnya Sumantri berhasil mengalahkan Prabu Darmawasesa dan Prabu Herapaksa. Dengan kekalahan raja seribu negara, Sumantri meminta mereka agar menyerahkan putri domas atau putri yang berjumlah 800 orang, untuk kemudian dipersembahkan kepada Citrawati sebagai syarat untuk meminangnya.

Setelah berhasil melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Prabu Harjunasasrabahu dan memboyong Dewi Citrawati ke Maespati, Sumantri tidak segera menyerahkan hasil pinangannya kepada Prabu Harjunasasrabahu. Di atas kereta kencana, berdampingan dengan Citrawati, Sumantri berubah pikiran. Ia ingin mengukur kesaktian Prabu Harjunasasrabahu dengan berperang tanding. Alasannya, ia tidak mau diperintah oleh siapapun jika ternyata kemampuannya tidak berada di atasnya. Memang pada awalnya Sumantri dapat mengimbangi kesaktian Prabu Harjunasasrabahu, namun ketika Sang Prabu menampakkan dirinya sebagai jelmaan Wisnu dengan bertiwikrama, marah dan berubah wujud menjadi Raksasa sebesar gunung anakan, Sumantri bersimpuh menyerah dan menyembah Harjunasasrabahu.

Melihat sikap Sumantri yang congkak, Semar kecewa dan meninggalkan Sumantri. Padahal setelah kejadian tersebut, Prabu Harjunasasrabahu memberi tugas yang semakin berat, yaitu memutar taman Sriwedari dari kahyangan ke Maespati tanpa satu daun pun yang lepas dari tangkainya.

Sumantri bersedih ditinggal Semar sendirian. Sebagai seorang senopati ia tidak diperkenankan masuk ke kerajaan Maespati sebelum dapat memindahkan Taman Sriwedari. Melihat duka nestapa yang diderita Sumantri, Sukrasana yang selalu membayanginya tidak tega. Dihampirinya sang kakak dengan penuh kelembutan dan kesederhanaan.

”Jangan bersedih kakakku, aku yang akan memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan ke Maespati.”

Dengan kesaktiannya, seketika itu juga Taman Sriwedari sudah berada di Maespati. Dewi Citrawati amat bersukacita. Diajaknya para dahyang untuk bercengkrama di taman yang elok itu. Mendengar sendau-gurau dan tawa ria Dewi Citrawati beserta para dahyangnya, Sukrasana terpancing untuk melihat. Seperti apakah kecantikan Dewi Citrawati, putri Magada yang telah memikat Sang Prabu Harjunasasrabahu sedemikian rupa?

Tiba-tiba Taman Sriwedari geger, Dewi Citrawati dan para dahyang menjerit lari ketakutan melihat sosok Sukrasana. Dewi Citrawati memberitahukan kepada Prabu Harjunasasrabahu, bahwa di Taman Sriwedari ada hantunya. Ia dan para dahyang sangat ketakutan. Sang Prabu Harjunasasrabahu memanggil Sumantri agar menyingkirkan hantu tersebut. Sumantri sangat terkejut ternyata yang dimaksud dengan hantu adalah adiknya sendiri. Dengan berbagai cara Sumantri membujuk adiknya agar mau pulang ke padepokan Jatisarana, namun gagal. Sukrasana tidak mau berpisah dengan Sumantri.

Tragedi pun terjadi, Pusaka Sumantri yang tujuannya untuk menakuti adiknya agar mau pulang, terbang melesak dalam di jantungnya. Sukrasana tewas di pangkuan Sumantri, kakaknya.

Cerita ’Sukrasana Lena’ dipergelarkan oleh Ki Santosa dari Keyongan Sabdodadi Bantul, dalam rangka Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Malam Jumat Legi di Pendapa Yudonegaran, Tembi Rumah Budaya, putaran ke-7 yang berlangsung pada 17 Desember 2008. Acara tersebut diselenggarakan oleh Pepadi Bantul bekerjasama dengan Pemda Bantul dan Tembi Rumah Budaya.

Menurut Ketua Pepadi Bantul Sri Mulyono, S.Sn pergelaran Wayang Jumat Legen tersebut dimaksudkan untuk jujugan bagi penggemar wayang di mana saja berada. Selain menjadi agenda rutin setiap selapan atau 35 hari sekali, Wayangan Jumat Legen dapat menjadi sarana berkumpul ngobrol, merekatkan tali persaudaraan sesama dalang, dan yang lebih penting adalah untuk ‘nguwongke dalang’. Artinya memberi kesempatan tampil pentas kepada para dalang yang sudah mampu mendalang semalam suntuk namun jarang mendapat kesempatan pentas.

Sebagai pra acara diadakan Wisudan Peserta Kursus MC Tembi Rumah Budaya Angkatan XVI yang berjumlah 26 wisudawan. Juga tampil dalang cilik Bima, dari Keyongan Sabdadadi Bantul, membawakan fragmen cerita ‘Pandhawa Kumpul’ selama satu jam.

Sukrasana adalah tokoh yang sederhana, rendah hati, dan jujur. Dengan kisah ’Sukrasana Lena’ apakah ini merupakan pertanda bahwa kesederhanaan, kerendahan hati dan kejujuran telah lena, mati? Telah tersingkir di hati setiap insan? Untuk kemudian digantikan oleh sebuah ambisi pribadi yang angkuh? Tidak peduli dengan sesamanya dan saudaranya, seperti yang ditunjukkan Sumantri.

Source