wani wedi | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
wani wedi Reviewed by maztrie on 11:10 AM Rating: 4,5

wani wedi

SUNGGUH, aku sangat takut menghadapi Bharatayuda, Kiai Semar. Jika tidak keberatan, tidak ada salahnya Pandawa dan Kurawa mengurungkan niat berperang. Aku berharap amarah yang telah terhunus disimpan kembali ke dalam hati yang lembut, ke jurang paling dalam ketakutan kita masingmasing.

Sungguh, aku ajrih, wedi menghadapi kemungkinan-kemungkinan mengerikan dari perang yang diramalkan menumpas habis para wayang tak berdosa itu, Kiai. Jika masih bisa digagalkan, mari segala yang telah tercatat dalam Kitab Jitapsara, kita hapus dengan hati yang tulus, dengan jiwa yang semeleh.

”Hmmm, bagaimana mungkin kita bisa mengurungkan Perang Suci yang tidak terhindarkan itu,

Dewaningrat,” katamu setengah meledek ketakutanku, ”Bukankah dalam perang ini siapa pun yang ditakdirkan mati akan mati, yang ditakdirkan terluka akan terluka, yang diinginkan jadi jawara akan jadi jawara?”

Kau tahu, Kiai, saat itu aku mengangguk. Tak sedikit pun kata-katamu yang keliru. Siapa pun kau, Pamomong atau Pelindung Takdir, tentu tak akan gigrik pada perang apa pun. Kau pasti akan memilih menghadapi lesatan panah, hantaman gada, atau senjata apa pun dengan sejumput keberanian ketimbang berjalan ke medan laga dengan menggendong segunung ketakutan di punggung. Kau tentu akan bilang, ”Mengapa kita takut kepada keberanian sang maut yang mengancam dalam perang yang indah itu? Mengapa kita kita gigrik pada apa pun yang seharusnya bisa kita kalahkan?”

Aku tersedu mendengar kotbah agungmu itu, Kiai. Aku sama sekali tak ingin mengabaikan petuah lembutmu itu. Tapi aku sungguh-sungguh wani wedi, menyongsong perang yang akan mengubur kecongkakan Duryudana itu. Aku sungguh-sungguh lebih baik tak dianggap sebagai pahlawan ketimbang pura-pura berani menghadapi huru-hara, tetapi sesungguhnya keder, ndredheg, dan takluk pada ancaman kematian.

Kau boleh menyebutku sebagai sang pecundang, Kiai. Kau boleh menyindirku dan bilang kepada siapa pun betapa Dewaningrat cuma daging busuk yang tak berani menghadapi kenyataan kehidupan. Kau boleh menyebutku anjing buruk yang tak layak mendapatkan anugerah kemenangan peperangan,

karena mendengar gedebuk gada saja, aku gemetar tak keruan. Tapi jangan lupa, Kiai, siapa pun berhak wani wedi dan takluk pada teror dan ancaman. Bukankah takluk pada sesuatu yang membuatmu tertekan justru bisa membuatmu karib dengan ancaman. Bukankah jika kau karib dengan tekanan, kau tidak akan merasa dikepung seribu musuh dari segala penjuru?

”Ooo, mengapa engkau harus menjadi laki-laki cengeng, Dewaningrat? Mengapa kauminta seluruh rakyat Astina takut pada kehendak Kitab Jitapsara. Bukankah pahlawan yang baik akan berani berhadapan dengan ancaman Sang Maut?” katamu sambil melecehkan aku di pasewakan agung.

Saat itu aku melirik Sengkuni. Aku tahu patih hebat itu pun sebenarnya tak ingin mendengarkan

genderang perang ditabuh di Kurusetra. Aku juga melirik Duryudana. Aku tahu lewat tatapan mata kosong, sebenarnya ia tak hendak maju ke gelanggang penuh panah dan kereta kencana jika diperbolehkan lebih memilih bercengkerama dengan kekasih di taman dan kebiruan kolam.

Karena itu, Kiai, jika hanya engkau yang mampu sowan ke duli kaki Sang Hyang Wenang, aku minta kepadamu, wartakanlah ketakutanku ini kepadanya. Katakan kepada Sang Maha Berani betapa sebagian besar kawula sangat tidak berharap menghadapi perang yang konon akan berkecamuk dengan keindahan tak tertandingi dengan kesucian tiada tara ini. Jika Ia tetap berkehendak mewujudkan perang itu, anjurkan kepada-Nya agar tak melibatkan manusia-manusia agung. Jangan libatkan Kresna yang kata-katanya senantiasa bertabur mawar. Jangan libatkan Arjuna yang tak berkehendak membunuh saudara-saudara terkasih. Jangan libatkan Antareja yang setiap jilatan lidahnya mampu menghanguskan para musuh. Dan tentu jangan libatkan aku, karena dalam perang itu, aku tak hendak menghunus senjata. Aku hanya akan tertunduk di lapangan. Berdoa agar hujan panah diredakan.

Berdoa agar siapa pun yang diamuk amarah perang tiba-tiba menyadari betapa tindakan mereka siasia.

Berdoa agar siapa pun takluk pada ketakutan dan tak melakukan perlawanan sedikit pun pada

taring kencananya. Berdoa agar siapa pun takut dan takluk pada kedaifannya sendiri.

Ya, ya, jangan libatkan aku, Kiai. Sebab jika pada akhirnya harus benar-benar tersesat di Kurusetra, aku tak akan tinggal diam. Aku akan menganjurkan kepada siapa pun agar memilih wani wedi ketimbang wedi wani. Berani untuk takut, kau tahu, lebih akan membawa para pahlawan ke surga jelita. Takut untuk berani, kau tahu, lebih akan membawa ke neraka jahanam. Jadi mengapa tak kita urungkan saja Bharatayuda itu, wahai, Kiai Junjungan?

Source