waras dengan memelihara ketakutan | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
waras dengan memelihara ketakutan Reviewed by maztrie on 11:19 AM Rating: 4,5

waras dengan memelihara ketakutan

RASA wedi tidaklah lantas membuat kehidupan jadi terhenti. Justru inilah prasyarat bagi setiap orang untuk sanggup menggapai cita-cita menjadi Jawa sepenuhnya: tahu bagaimana membawa diri, sehat,dan matang. Tanpa rasa takut, orang akan mudah terjerembab menjadi pribadi yang mentah, ngisinisini,bahkan ora waras.

Terhadap sumber wedi, orang bisa merasa dikepung dan ditawan, namun bisa pula sebaliknya,

mengambil jarak dan melawan. Namun pada kesempatan lain, tak jarang orang justru berkoalisi

dengan sumber wedi dengan menciptakan relasirelasi yang penuh makna, kreatif, dan apresiatif dengan sumber yang semula dianggap menakutkan.

Kondisi tersebut sebenarnya telah dipetakan oleh Peursen (1980) dalam tahap-tahap kebudayaan.

Tahap pertama disebut tahap mitis. Pada tahap ini, sumber wedi itu ditempatkan sebagai kekuatankekuatan ”misterius” yang tidak dikenal, yang belum mampu dicirikannya. Manusia hanya memasrahkan diri terhadap daya-daya misterius itu.

Ciri manusia yang berada dalam tahap mitis juga dengan sangat baik digambarkan oleh Peursen, yakni ”belum merupakan seorang individu (subjek) yang bulat, ia dilanda oleh gambaran-gambaran dan perasaan-perasaan ajaib, seolah-olah ia diresapi oleh roh-roh dan daya-daya dari luar”.

Tahap berikutnya adalah tahap ontologis dan tahap fungsional. Dalam tahap ontologis, manusia telah mengenal dirinya. Dia juga telah mulai mengambil jarak terhadap daya-daya ”misterius” itu. Artinya, ia mulai melepaskan diri darinya dan mencoba memahaminya dengan menggunakan akal. Manusia mulai berusaha memahami siapa dirinya dan alam lingkungan. Berbagai fenomena irasional, yang pada tahap mitis dianggap ”misterius”, satu per satu disingkap, dicirikan, ditelanjangi, sehingga sisi-sisi yang banyak tersembunyi itu tersingkap dan terpapar secara kasat mata.

Tahap mitis dapat dianggap sebuah ekstrem, yakni manusia tertawan oleh sumber ketakutan. Tahap ontologis bisa juga dianggap sebagai ekstrem lain, karena manusia berhadapan dengan yang dianggap sebagai sumber ketakutan, menantangnya, dan mengambil jarak darinya.

Tahap fungsional boleh dianggap sebagai koreksi terhadap kedua ekstrem itu. Di sini, manusia mulai mengulurkan tangannya dan menciptakan relasi-relasi yang penuh makna, kreatif, dan apresiatif dengan entitas yang dianggap menjadi sumber wedi.

Namun sebagaimana dinyatakan Peursen, ketiga tahapan kebudayaan itu tidak berada dalam gerak linear. Yang satu tidak berada sebelum atau sesudah tahap yang lain. Artinya, tahap mitis tidak mendahului tahap ontologis, dan tahap fungsional tidak muncul sesudah tahap ontologis. Pada zaman dan waktu yang sama, manusia dari pelbagai peradaban dan budaya boleh jadi sedang mengalami tahap-tahap yang berbeda-beda. Bahkan dalam sebuah suku bangsa, tidak tertutup kemungkinan bervariasinya sikap dalam menghadapi sumber ketakutan.

Lambaran Urmat

Hampir setengah abad yang lewat, Hildred Geertz (1961) mencatat wedi sebagai sikap penting dalam penanaman sikap anak-anak Jawa. Ini merupakan bagian dari laporan komprehensif sang antropolog tentang keluarga Jawa pada kurun waktu ketika laporan itu ditulis.

Dikemukakan bahwa melalui pendidikan dalam keluarga pada orang Jawa sejak kecil, ada tiga

perasaan yang menjadi lambaran sika hormat, yakni wedi, isin, dan sungkan. Wedi berarti takut, baik sebagai reaksi teradap ancaman fisik maupun sebagai rasa takut terhadap akibat kurang enak atas suatu tindakan.

Pertama-tama anak belajar untuk merasa wedi terhadap orang yang harus dihormati. Anak dipuji apabila bersikap wedi terhadap orang yang lebih tua dan terhadap orang asing. Bentuk-bentuk pertama kelakuan halus dan sopan ditanamkan pada anak dengan menyindir pada segala macam bahaya mengerikan dari pihak-pihak asing dan kekuatan-kekuatan di luar keluarga yang akan mengancamnya.

Secara kasat mata, beberapa orang yang memiliki bentuk fisik tertentu atau yang memiliki pekerjaan tertentu, misalnya dhukun sunat atau dhukun/calak, kerap dijadikan sebagai sosok untuk meden-medeni (menakut-nakuti) anak. ”Awas, mengko disunati” adalah pernyataan yang sering terdengar untuk membuat anak wedi atau agar tak bertindak seperti yang tidak dikehendaki ”pengancam”.

Tak hanya dengan objek yang kasat mata-mata, upaya meden-medeni juga dilakukan dengan merujuk pada sosok yang tidak kasat mata. Dari sinilah kemudian lahir keyakinan akan keberadaanya makhluk halus yang bersifat jahat dan menakutkan yang biasa digolongkan sebagai memedi. Banyaknya jenis dan nama memedi dan masih seringnya hal tersebut disebut di tengah pergaulan masyarakat menunjukkan bahwa kehadirannya (sekalipun sebatas ”wacana”?) tetap fungsional.

Seiring dengan dinamika mental masyarakat yang cenderung makin rasional, keyakinan terhadap hal-hal yang semula medeni, apalagi yang tergolong memedi, rupa-rupanya kian bergeser. Lebih-lebih bersamaan dengan itu, semangat egalitarian dan kesetaraan kian mengemuka yang berimplikasi pada berkurangnya rasa wedi tersebut lantaran menganggap semua sama.

Justru di situlah kemudian muncul persoalan lain. Memang persoalan takut dan ketakutan mesti

ditempatkan secara proporsional. Namun akan cemaslah orang tua jika mengetahui anak yang didiknya ternyata telah berkembang menjadi anak yang ora ana sing diwedeni.

Memang rasa wedi itu ibarat pisau hati bermata dua. Di satu sisi, rasa wedi kadang perlu diperangi dengan rasa kendel sehingga seseorang tidak takut untuk bertindak. Namun di sisi lain, rasa wedi sangat diperlukan, tidak hanya agar ora menjadi lebih berhati-hati tetapi juga agar bisa mengukur diri, agar bisa pula nandhing sarira.

Pengenyahan rasa wedi secara tidak proporsional tak lebih dari upaya para pengadu jangkrik yang berupaya ngileni jangkrik aduannya agar tak takut bertarung meskipun sebenarnya pada ukuran ”wajar” sudah tidak sanggup lagi. Atau bahkan menjanturnya agar puyeng sehingga berani membabibuta. Dan, tentu bisa ditebak ujungnya: fatal!

Ya, ketakutan memang bisa menghambat, namun di satu sisi rasa wedi juga sekaligus merupakan salah satu motivasi terkuat bagi orang Jawa untuk menyesuaikan kelakuannya dengan norma-norma masyarakat.

Source