Bangkit karena Lapar Gumregah Tanpa Digugah | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Bangkit karena Lapar Gumregah Tanpa Digugah Reviewed by maztrie on 6:39 AM Rating: 4,5

Bangkit karena Lapar Gumregah Tanpa Digugah

HARUSKAH selalu dibutuhkan seorang Arjuna agar Prabu Kresna bangkit dari tapa sare-nya...? Haruskah disediakan bejibun makanan buat Kumbakarna agar ksatria-raksasa itu bangkit dari tidur panjangnya? Tidak adakah kekuatan dari dalam diri sendiri yang yang bisa membuat tangi-gumregah? Ataukah gumregah itu sebenarnya perkara alamiah yang niscaya datang lantaran ketundukannya pada hukum cakra manggilingan?

Ketika Kerajaan Alengka terancam oleh serbuan pasukan Rama dan sekutunya, Kumbakarna justru terlelap dalam tidur panjangnya. Konon, sekali tidur ksatria Pangleburgangsa itu membutuhkan waktu tak kurang dari enam bulan.

Rahwana pun memerintah pasukannya untuk membangunkan sang adik. Berbagai cara telah ditempuh agar raksasa-ksatria itu bangkit dari lelapnya. Namun tetap saja Kumbakarna bergeming.

Upaya baru berhasil ketika utusan Rahwana membangunkan Kumbakarna dengan menggiring gajah agar menginjak-injak serta menusuk badan raksasa-ksatria itu dengan tombak, kemudian saat Kumbakarna membuka mata, segera didekatkan makanan ke hidung. Setelah menyantap makanan yang dihidangkan, Kumbakarna benar-benar terbangun dari tidurnya.

Dalam sebuah versi cerita disebutkan bahwa tidur Kumbakarna tak lepas dari anugerah yang diberikan oleh dewata. Ketika Kumbakrana dan Rahwana bertapa, Dewa Brahma berkenan atas pemujaan kakakadik itu.

Brahma membuka pintu anugerah kepada keduanya. Ketika giliran Kumbakarna mengajukan permohonan, Dewi Saraswati masuk ke dalam mulut Kumbakarna untuk membengkokkan lidah sang ksatria. Keseleo lidah pun terjadi. Saat Kumbakarna memohon Indrasan yang berarti takhta Dewa Indra, yang terucap justru Nindrasan yang berarti tidur abadi. Brahma pun ”mengabulkan” permohonan itu.

Namun demi rasa sayang terhadap sang adik, Rahwana mengajukan banding kepada Brahma. Sekalipun tak bisa membatalkan ”anugerah” tersebut, Brahma akhirnya ”memberikan keringanan”, yakni Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan.

Setelah bangun, Kumbakarna menghadap Rahwana. Ia mencoba menasihati Rahwana agar mengembalikan Sita dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan kakaknya itu salah. Namun ujung-ujungnya Kumbakarna berangkat ke medan pertempuran meski dengan alasan yang berbeda sama sekali dari motif Rahwana berperang.

Tidur untuk Mendengar

Dalam tafsir yang lain, tidur Kumbakarna adalah tidur untuk melakukan pengendapan, pembatinan, atau refleksi, justru di tengah-tengah situasi yang sedang riuh rendah. Tidurnya Kumbakarna adalah tidurnya kawula. Sementara penguasa menyimpang, kawula yang kelihatan tidur itu sebenarnya sedang mendengarkan. Maka, begitu bangun, ia tidak perlu memulai dari nol lagi, tetapi justru sudah paham benar terhadap situasi yang tengah berkembang. Karena itu, jangan sekali-sekali menganggap enteng rakyat yang (kelihatan) sedang tidur!

Tidur panjang dan kemudian bangkitnya Kumbakarna merupakan suatu pepeling. Pepenget bagi kekuatan dan ketamakan yang berjenis Rahwana. Siapa saja yang bersanding dengan penguasa memang tak bisa memaksakan diri untuk mendapatkan takhta. Dia mesti rela ”tidur” lama.

Namun bersanding dengan kekuasaan yang tamak dan sewenang-wenang, yang hendak ngemperi jagad, kekuatan manusia akan bangun juga. Perut yang lapar akan membangkitkannya. Dengan telinga, sekalipun tidur, Kumbakarna mendengarkan suara nelangsa yang tertindas kekuasaan sewenangwenang.

Orang bisa melakukan apa saja dengan perut lapar, tapi tetap tak bisa tidur dengan perut keroncongan. Begitu pula Kumbakarna. Bila lapar perutnya, raksasa bernama rakyat akan bangun. Bila lapar perutnya, raksasa bernama rakyat bisa ”makan” apa saja sekaligus bertindak di luar batas akal waras!

Ketika Kumbakarna bangun, dia menunjukkan sejenis ekspresi yang tampak paradoksal. Sebuah kegeraman sekaligus tangisan. Geram demi mendapati tanah wutah getih yang mesti dibela sampai titik darah penghabisan diduduki pihak lain, namun sedih karena tanah air itu justru menjadi medan berbiaknya tindak penguasa yang sewenang-wenang.

Karena itu, gumregah-nya bukan semata karena alasan fisik belaka, bukan karena rangsangan dari dalam saja, melainkan pula karena hadirnya tantangan dari luar. Ancaman dari luar yang bisa menistakan sesanti ”sedumuk bathuk senyari bumi”-lah yang mampu membangkitkan siapa pun yang terlelap.

Bukankah sejarah pergerakan bangsa kita juga, yang melahirkan tonggak kebangkitan nasional, kentara sekali karena adanya lawan dari yang diidentifikasi sebagai yang liyan. Di bawah tekanan kekuasaan Belanda, bergulirlah proses kebangkitan (yang pada mulanya masih bersifat) Jawa. Soetomo, yang tak lepas dari pengaruh Wahidin Soedirohoesodo yang merupakan representatif golongan tua, mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 di salah satu ruang belajar STOVIA.

Meskipun demikian, kesanggupan untuk gumregah, lebih-lebih untuk menggapai kemenangan, perlu senantiasa diupayakan. Lagi pula, bukankah kemenangan bukan ditentukan oleh kekuatan lahir semata. Namun tak jarang kemenangan justru datang karena tekad yang sudah gumregah untuk mengubah yang semula sekadar impen menjadi kasunyatan.

Memang, dalam pandangan fatalistis, yang cenderung melahirkan sikap pasif pasrah-sumarah, bisa saja dimengerti bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan laju cakra manggilingan. Dianggaplah bahwa segala hal itu sudah ada waktunya sendiri sehingga tidak perlu nggege mangsa. Selain itu, segala sesuatu itu juga terjadi tak lepas dari hukum sebab akibat, sehingga kalau sudah waktunya bangkit, pasti akan gumregah juga.

Justru karena tanpa menafikan ”hukum-hukum” itu, setiap orang pada dirinya semestinya sudah menyatu jiwa Arjuna sekaligus Kresna. Ketika Arjuna nglumpruk pindha kapuk tatkala hendak maju ke medan Kurusetra, Kresna yang hadir untuk membangkitkannya. Namun pada kesempatan lain, tatkala Kresna lelap dalam tapa tidurnya, Arjunalah yang berhasil membuat Wisnu ngejawantah itu gugah. Itulah loroning atunggal yang bisa menjadi rujukan, kapan mesti lelap, kapan mesti mendengarkan serta kapan harus bangkit tumandang gawe.[pakdheDar]
~~maztrie~~
Creative Commons License