Bingung kang Agawe Wurung | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Bingung kang Agawe Wurung Reviewed by maztrie on 2:59 AM Rating: 4,5

Bingung kang Agawe Wurung

YEN bingung, ndhodhoka dhisik! Itulah ungkapan yang telah menjadi klasik. Terjemahan harfiahnya kira-kira: jika bingung, berjongkoklah dulu (sejenak).

Sebab jika kebingungan masih mendera, sementarakaki terus melangkah, bukan tujuan yang bakal tergapai, melainkan justru kegagalanlah yang teraih.

Batallah.

Pada kata imperatif ndhodhoka, makna yang teremban tentu tak sebatas pada pengertian fisik.

Pada tataran simbolik atau sebagai pralampita,perintah untuk berjongkok tidaklah sekadar untuk menekuk lutut belaka. Jelas pula berbeda dari bertekuk lutut. Sebab, bertekuk lutut itu artinya menyerah. Padahal, ndhodhok bukan untuk menyerah,melainkan justru sebuah siasat untuk membangun kemenangan.

Masih ingat petuah para orang tua jika kita sedang dikejar anjing galak? Jangan terus berlari! Sebab kalau terus berlari, si anjing akan terus mengejar. Jika terus berlari, sementara mata kurang awas melihat jalan, bisa-bisa tersandung, bahkan terjungkal atau jatuh terjerembab. Atau, jika tetap kalah kencang dari lari anjing, risikonya akan tergigit oleh binatang galak itu.

Karena itu, sebaiknya ndhodhok saja. Konon katanya, dengan berjongkok, anjing segalak apa pun akan berhenti mengejar, selain reda pula salakannya; hingga akhirnya pergi meninggalkan ”calon mangsanya”.

Sebenarnya itu pun bisa dimengerti. Pilihan untuk ndhodhok sebenarnya juga membutuhkan keberanian, mensyaratkan ati teteg. Orang yang ndhodhok berarti dia punya nyali, bukannya menyerah -kalah. Yang menyerah-kalah itu ndheprok namanya atau bertekuk lutut.

Secara fisik, berjongkok bisa pula berarti upaya untuk menguatkan kuda-kuda. Yakni sebuah sikap tubuh yang sebisa mungkin kuat menghadapi setiap serangan atau guncangan. Jadi, ndhodhok merupakan usaha untuk leren (berhenti) sejenak demi menghimpun kekuatan, baik fisik maupun terutama psikis, agar tidak terbawa oleh arus kebingungan. Itulah kira-kira pelajaran yang bisa dipetik tatkala menghadapi kebingungan.

Menjadi Antepan Orang kerap kali mengira bahwa lawan yang paling berbahaya adalah orang (pihak) lain. Orang sering tak menyadari bahwa lawan terberat justru bersemayam dalam dirinya sendiri. Justru oleh dirinyasendirilah tak jarang harapan, tujuan, ataupun cita-cita berujung wurung atau cabar-wigar. Salah satunya adalah bingung.

Memang pemantik bingung bisa berasal dari luar dirinya, namun selebihnya kadar rasa panarima-lah yang lebih banyak menentukan. Orang tidak akan pernah bingung jika ia bukan berjenis kagetan, bukan pula membiarkan jurang antara harapan dan kenyataan begitu menganga, antara keinginan dan kemampuan begitu lebar rentangnya.

Bingung, kalaupun tidak berujung wurung, paling tidak potensial menyebabkan situasi yang merkengkong atau sarwa ngewuhke. Ibarat sebuah pohon (termasuk beringin!) di jalan yang tak sedap dipandang tetapi ditebang juga sayang.

Namun harap diingat pula, merkengkong bukan hanya karena ”salah letak”, tetapi juga karena polah. Polah yang muncul karena bingung, seperti seorang yang sedang atret mobil di lorong sempit, sementara pada saat bersamaan dari dua ujung yang berbeda sudah ada kendaraan yang melaju,potensial membuatnya bingung. Karena bingung, jadi serbasalah polahnya. Jadinya ya merkengkong itu tadi, kalau malah bukan wurung sama sekali atau persis yang dialami tokoh Lebai dalam kisah klasik Melayu, Lebai Malang.

Jika begitu, tidak ada solusi yang bisa ditawarkan kecuali jangan cepat-cepat panik. Sebab, kepanikan hanyalah ”saudara kandung” bingung. Dan setiap kebingungan, kalau tidak membuat jadi merkengkong ya mengantarkan jadi wurung, cabar, gagal.

Karena bingung itu dekat dengan kebimbangan, orang mesti melatih diri untuk membangun sikap antepan. Dia harus mematangkan dulu kehendaknya sehingga terjelma sebagai sebuah tekad yang bulat.

Salah satu semboyan yang diintroduksi Ki Hajar Dewantara adalah ing madya mangun karsa (di tengah membangun tekad). Itu tak lain perintah agar setiap orang bisa golong-giliging tekad. Sebab dengan golong-gilig, ia bakal tan mingkuh salwiring kewuh. Seperti Bima yang tak segan dan berani naik gunung turun jurang demi mendapatkan kayu gung susuhing angin. Juga ketika ksatria perkasa itu menceburkan diri ke dalam Samodera Minangkalbu demi beroleh tirta amerta pawitrasuci. Tak ia pedulikan segala bujuk rayu saudara-saudaranya agar siswa kinasih Pandita Drona itu membatalkan niatnya. Dengan tekad yang golong-gilig, bebasan dipalangana mlumpat, didhadhungana mbradhat.

Sebaliknya, jika hati masih miyar-miyur akan mudah wurung atau cabar wigar. Sekalipun demikian, sebenarnya tidak selalu mudah untuk mengatasi bingung. Itulah kenapa, berbagai lembaga konsultasi dan rubrik konsultasi di berbagai media senantiasa diminati. Kebanyakan persoalan yang dilontarkan berkutat pada kebingungan.

Bingung tidak hanya karena dihadapkan pada dua pilihan atau lebih yang sama-sama tidak mengenakkan. Terhadap ketersediaan pilihan-pilihan yang sama-sama menjanjikan, tidak jarang orang juga dibuat tidak kalah bingungnya.

Dalam kisah pewayangan, kerap kali tatkala ksatria utama didera kegamangan atau diliputi kebingungan, para panakawan kemudian hadir tak hanya untuk memberikan penghiburan. Lebih dari itu, mereka juga memberikan keteguhan dan peneguhan hati sebagai bagian dari pembulatan tekad.

Itulah kenapa pada masa Orde Baru yang lalu, aksi kebulatan tekad marak di mana-mana. Di manamana orang berhimpun dan menyatakan kebulatan tekad untuk mendukung seseorang menjadi pemimpin —presiden utamanya. Kebulatan tekad dianggap sebagai saudara kandung musyawarah untuk mufakat, bukan voting yang dianggap sebagai pilihan ”terakhir” mengambil putusan secara demokratis.

Kembali pada para panakawan sebagai pamomong, mereka tidak hanya ing ngarsa sung tuladha (di depan memberikan contoh) dan ing madya mangun karsa, tetapi juga senantiasa tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan) agar yang diasuh tidak tenggelam dalam kebingungan.

Dengan begitu, sebagian dari lirik lagu ”Celeng Mogok” yang pernah sangat populer pada dekade 80-an lewat irama tayub dan semenjak beberapa waktu lalu terpopulerkan kembali dalam irama campursari,tak perlu terjadi kalau sudah terbangun sikap antepan. Begini salah satu petikan darinya yang sangatmudah diingat itu: Ngetan bali ngulon, tiwas edan ra kelakon. Ye piye-piye, Mas, Mas...Ye piye-piye,Mas, Mas....[PakdheDar]