Indrajanu, Tokoh Wayang Ramayana yang kurang dikenal | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Indrajanu, Tokoh Wayang Ramayana yang kurang dikenal Reviewed by maztrie on 4:22 AM Rating: 4,5

Indrajanu, Tokoh Wayang Ramayana yang kurang dikenal


INDRAJANU adalah wanara/kera hasil daya cipta Bathara Kuwera, putra Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Ia mengabdikan diri sebgaia salah satu prajurit kera Gowa Kiskenda dibawah pimpinan Prabu Sugriwa yang bertugas membantu Sri Rama dalam upaya merebut Dewi Sinta dari sekapan Prabu Rahwana, raja raksasa negara Alengka.

Indrajanu, kera berbulu merah belang hitam ini,selain tangkas, gesit dan trengginas, juga memiliki kesaktian dan keistimewaan pada sikunyha yang dapat dipergunakan sebagai senjata trisula. Dalam perang Alengka kesaktian sikunya banyak membinasakan prajurit-prajurit raksasa Alengka. Akhirnya Indrajanu berhadapan dengan Ditya Karadusana, suami Dewi Sarpakenaka yang muda. Perang pun berlangsung dengan seru karena keduanya memiliki keaktian yang seimbang. Tapi akhirnya kesaktian siku Indrajanu berhasil menewaskan Karadusana.

Sebagaimana para wanara lainnya, setelah perang Alengka, nasib Indrajanu tidak lagi diketahui.
Hiranyawreka
HIRANYAKAWREKA adalah raksasa keturunan Kalarahu, raksasa yang mati oleh senjata Cakra Sanghyang Wisnu dalam memperebutkan Cupu berisi Tirta Amrta (air kehidupan) dalam peristiwa pengeboran Laut Lavana (laut susu). Bertahun-tahun ia bertapa memuja Sanghyang Rudra, dewa keturunan Sanghyang Darmayaka (Wening) hingga mendapatkan kesaktian yang luar biasa; tidak terkalahkan oleh manusia dan makhluk lainnya di Tribuana (jagad Mayapada, Masdyapada dan Arcapada).

Hiranyawreka kemudian menyerang negara Kasi. Raja Kasi dapat ditaklukkan dan ia kemudian menobatkan diri sebagai raja Kasi. Prabu Hiranyawreka kemudian menyerang Suralaya untuk menuntut balas atas kematian leluhurnya. Ketika tak seorang dewa yang dapat mengalahkannya, Hyang Brahma terpaksa menyerahkan Dewi Titilaras, bidadari keturunan Sanghyang Taya untuk diperistri Prabu Hiranyawreka. Dari perkawinan ini ia mempunyai seorang putra yang diberinama Hinyarayaksa --- (Hinyarayaksa kelak bersekutu dengan Prabu Darmawisesa, raja Widarba menyerang negara Magada dalam memperebutkan Dewi Citrawati).

Prabu Hiranyawreka menerima ajakan Prabu Hiranyakasipu, raja negara Alengka untuk bersekutu menyerang negara Medanggili dan menaklukkan Maharaja Sunda (penjelmaan Sanghyang Brahma). Dalam peperangan tersebut Prabu Hiranyawrwka dan Prabu Hiranyakasipu tewas dalam peperengan melawan Maharaja Suman (pemjelmaan Sanghyang Wisnu) raja negara Medangpura, yang berubah wuiud menjadi Narasinga (orang berkepala harimau).
Hanggeni
HANGGENI adalah wanara hasil pemujaan Bathara Indra dari segumpal magma Kawah Candradimuka. Karena itu, ia dapat berbicara dan beradat-istiadat seperti manusia. Hanggeni merupakan salah satu senapati perang balatentara kera kerajaan Kiskenda di bawah pimpinan Prabu Sugriwa.

Hanggeni sangat sakti.Ia dapat berjalan di dalam kobaran api. Apabila marah dan berkerecah/mbeker (Jawa) dari tubuhnya akan keluar hawa panas dan rambutnya menyala seperti bara api. Memiliki sifat dan perwatakan : pemberani, setia, cerdik, tangkas, trengginas dan cekatan.

Pada saat perang besar Alengka, Hanggeni tampil sebagai senapati perang yang sangat ditakuti balatentara raksasa Alengka. Hawa panas yang keluar dari tubuh dan rambutnya banyak membunuh raksasa-raksasa Alengka. Setelah perang Alengka berakhir, ia ikut kembali ke Gowa Kiskenda, mengabdi pada Prabu Sugriwa. Seperti wanara yang lain, Hanggeni tidak dapat diketahui akhir hidupnya.
Hehaya
PRABU HEHAYA adalah raja negara Kanyakawaya. Ia masih keturunan Bathara Heruniwiyana, putra sulung Sanghyang Wisnu dari permaisuri Dewi Sripuyanti. Hehaya menjadi raja Kanyakawaya menggantikan kedudukan guru dan ayah angkatnya, Prabu Jamadagni yang mengundurkan diri, hidup sebagai brahmana di pertapaan Dewasana.

Pada mulanya Prabu Hehaya adalah raja berbudi luhur. Ia memerintah negara Kanyakawaya dengan arif dan bijaksana. Karena keagungan budinya, Dewa Detratenaya berkenan menganugerahinya sebuah kereta ajaib yang dapat terbang ke udara, dan menjadikan dirinya kebal terhadap segala macam senjata. Dengan kereta ajaibnya, Prabu Hehaya meluaskan kekuasaannya, menaklukan para raja dan negara sekitarnya serta merampas semua harta kekayaannya. Prabu Hehaya menjadi raja yang kejam, serakah dan haus kekuasaan serta harta benda.

Mengabaikan rasa kemanusiaannya, Prabu Hehaya menyerang pertapaan Dewasana, membunuh Resi Jamadagni, guru dan ayah angkatnya sendiri. Sebagai akibat dari perbuatannya, Prabu Hehaya akhirnya mati dibunuh Ramaparasu, putra bungsu Resi Jamadagni dengan Dewi Renuka. Tubuhnya hancur oleh hantaman parasu/kapak besar.
Heriya
PRABU HERIYA adalah pendiri dan raja pertama negara Maespati. Heriya merupakan putra sulung dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti cucu Bathara Dewanggana, turun ke-3 dari Bathara Surya. Adik kandung Heriya, Wisanggeni menjadi pertapa di pertapaan Adisekar dengan gelar Bagawan Ricika.

Heriya membangun kerajaan Measpati besama adiknya, Wisanggeni, dari puing-puing bekas kerajaan Masywa yang hancur oleh kemarahan Dewa Siwa. Prabu Heriya pernah menjadi jago para dewa untuk menghadapi pasukan perang raksasa dari Goamiring pimpinan Karadanawa yang menyerbu Kahyangan karena ingin memperistri Dewi Senggani. Permintaan Karadanawa ditolak para dewa karena Dewi Senggani adalah istri Sanghyang Ismaya.

Karena tak satupun dari para dewa yang dapat mengalahkan Karadenawa yang memiliki jubah perang anugrah Bathara Subrahmania, Bathara Surya turun ke Maespati meminta bantuan Prabu Heriya. Dalam peperangan di Mrepatkepanasan – nama sebuah lapangan di Kahyangan Jonggringslaoka – Prabu Heriya dapat membunuh Karadenawa dan mengusir para raksasa Goamiring dari kahyangan. Atas jasanya itu, Prabu Heriya mendapat anugrah Dewi Agniwati, bidadari keturunan Sanghyang Taya. Dari perkawinannya dengan Dewi Agniwati, Prabu Heriya mempunyai seorang putra yang diberi nama Kartawirya.
Prabu Heriya meninggal dalam usia lanjut beberapa tahun setelah Kartawirya naik tahta sebagai raja Maespati.
Godadarma
GODADARMA adalah patih negara Widarba dalam masa pemerintahan Prabu Darmasena, kakaknya sendiri. Godadarma merupakan saudara termuda dari tiga bersaudara putra Prabu Darmawisena, raja raksasa keturunan Bathara Dewanjali, dewa keturunan Sanghyang Darmajaka dari hasil perkawinan gandarwa dengan raseksi hutan Dandaka. Kakak sulungnya, Jonggirupaksa menjadi raja di negara Jonggarba.

Sebagaimana kakaknya, Prabu Darmawisesa, Godadarma sangat sakti, selain karena ketukanannya bertapa juga karena anugrah kesaktian dari kakeknya, Bathara Dewanjali.
Sebagaimana raksasa yang memiliki ilmu kesaktian, Godadarma memiliki sifat dan perwatakan berangasan, kejam, serakah, sombong dan mau menangnya sendiri. Godadarma sangat mendukung kakaknya, Prabu Darmawisesa yang ingin memperistri Dewi Citrawati, putri negara Magada yang diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati.

Ketika terjadi perang Magada, Gpdadarma merupakan senaparti pertama dari persekutuan seribu negara yang memusuhi Magada, maju perang menantang Bambang Sumanrtri, utusan resmi Prabu Arjunasasrabahu yang mendapat tugas membantu negara Magada dan memboyong Dewi Citrawati ke negara Maespati. Dalam perang tersebut, patih Godadarma tewas oleh Bambang Sumantri, dengan kepala terpenggal senjata Cakra

Diradasura
DIRADASURA berwujud raksasa berkepala gajah. Karena kesaktiannya, ia diangkat menjadi senapati perang negara Gowa Kiskenda, dibawah pemerintahan Prabu Maesasura, raksasa berkepala kerbau. Ia mempunyai saudara seperguruan bernama Lembusura, berwujud raksasa berkepala lembu (sapi), yang menjadi patih negara Gowa Kiskenda.

Diradasura pernah mendampingi patih Lembusura pergi ke Suralaya melaksanakan perintah Prabu Lembusura untuk melamar Dewi Tara, putri Bathara Indra dengan Dewi Wiyati. Ketika lamarannya ditolak Bathara Guru, ia mengamuk di Suralaya. Tak satupun bala tentara dewa yang dapat menandingi kesaktiannya.

Bathara Guru kemudian menugaskan Bathara Narada turun ke marcapada untuk meminta pertolonan Guwarsa/Sugriwa, putra bungsu Resi Gotama dengan Dewi Indradi dari pertapaan Grastina/Erraya. Sugriwa pada saat itu sudah berubah wujud menjadfi wanara (manusia kera) dan sedang bertapa di hutan Sunyapringga. Dalam pertenpuran di Mrepatkepanasan (nama lapangan kadewatan), akhirnya Diradasura dan Lembusura mati oleh Sugriwa
Brahmanakala
BRAHMANA KALA berwujud raksasa. Ia diyakini sebagai penjelmaan Bathara Wisnungkara, berwujud raksasa hitam, kerabat dekat Sanghyang Wisnu yang bertugas memberi kesejahteraan di dalam lingkungan raksasa, gandarwa dan Asura. Tugasnya sangat berat karena pada umumnya para gandarwa, raksasa dan Asura tidak mengenal ajaran kebajikan dan adat-istiadat, sehingga tindakan mereka serba penuh dengan kerusuhan. Untuk menyadarkan mereka bilamana perlu harus berani bertindak dengan kekerasan dan kekejaman.

Brahmana Kala tinggal di pertapaan Dwarawati. Ia bertugas menjaga keselamatan Dewi Shinta, putri Prabu Janaka dari negara Mantili yang merupakan penjelmaan Bathari Sri Widowati dan berusaha mempertemukannya dengan satria penjelmaan Sanghyang Wisnu. Brahmana Kala juga bertugas menyerahkan pusaka-pusaka Sanghyang Wisnu seperti panah Gowawijaya kepada Ramawijaya.
Setelah bertemu dengan Ramawijaya yang ia yakini benar sebagai satria penjelmaan Sanghyang Wisnu, yang saat itu dalam perjalanan ke Mantili untuk mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Sinta, dan menyerahkan panah Gowawijaya kepada Ramawijaya,.Brahmana Kala minta kepada Rawamijaya uhtuk mengakhiri hidupnya sebagai jalan ia kembali ke alam kelanggengan. Ramawijaya memenuhi permintaan Brahmana Kala. Ia segera bersemadi, dan dalam waktu singkat, Brahmana Kala lenyap dari arcapada.
Begasura
BEGASURA adalah putra tunggal Indrajid/Megananda, putra Prabu Dasamuka/Rahwana raja raksasa negara Alengka dengan permaisuri Dewi Tari. Ibunya bernama Dewi Sumbaga, bidadari keturunan Sanghyang Taya, yang merupakan adik Dewi Sumeru/Merusupadmi, istri Prabu Wisakarma dari Goawindu.

Begasura mempunya sifat perwatakan : pemberani, mudah naik darah, bengis, kejam dan mau menangnya sendiri. Hal ini karena ia selalu dimanja oleh ayahnya dan kakeknya, Rahwana. Begasura sangat sakti, selain karena tekun bertapa, ia juga mewarisi ilmu ayah dan kakeknya.

Pada waktu pecah perang besar Alengka, negara Alengka diserang balatentara kera Prabu Rama dalam upaya membebaskan Dewi Sinta yang disekap Prabu Dasamuka, Begasura tampil sebagai perang Alengka mendampingi ayahnya Indrajid. Sepak terjangnya sangat menakutkan lawan, karena kekejamannya. Begasura akhirnya tewas dalam pertempuran melawan Laksmana. Tubuhnya hancur oleh hantaman panah sakti Hendrasara
kalinggapati
PRABU KALINGGAPATI adalah raja negara Kalinggapura, sebuah negara kecil masuk dalam wilayah kekuasaan negera Maespati. Prabu Kalinggapati adalah raja keturunan Bathara Surya, dan masih bersaudara sepupu dengan Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja negara Maespati. Pertalian darah itu terajdi karena Dewi KastiyektI, ibu Prabu Kalinggapati adakah adik kandung Prabu Kartawirya dan sama-sama putra Prabu Heriya.

Prabu Kalinggati juga bersaudara ipar dengan Prabu Soda, raja negara Sodapura. Hal ini karena Dewi Sintren, istri Prabu Kalinggapati masih saudara kandung Prabu Soda, sama-sama putra Prabu Herutama.
Sebagai layimnya satria keturunan Hyang Surya, Prabu Kalinggapati memiliki sifat pemberani, trengginas, setia dan teguh dalam pendirian. Ketika terjadi perang di negara Magada memperebutkan Dewi Citrawati, ia ikut mendampingi Bambang Sumantri yang merupakan utusan resmi Prabu Arjunasasrabahu membantu negara Magada menghadapi serbuan persekutuan seribu negara pimpinan Prabu Darmawisesa dari Widarba, dan memboyong Dewi Citrawati ke Maespati.

Prabu Kalinggapati pernah tewas dalam peperangan melawan Rahwana / Dasamuka, ketika raja raksasa negera Alengka itu menyerang Maespati. Penyerangan terjadi akibat pesanggrahan Rahwana di bukit Nusamanik terendam luapan air sungai yang dibendung oleh tubuh Prabu Arjunasasrabahu yang bertiwikrama, sehingga menjadi sebuah danau untuk mandi dan bercengkerama Dewi Citrawati dan delapanratus selirnya. Tapi berkat kesaktian Bathara Pulasta, kakek buyut Prabu Dasamuka, Prabu Suryakestu dapat dihidupkan kembali.

Setelah Prabu Arjunasasra tewas dalam pertempuran melawan Ramaparasu, Prabu Suryakestu kembali ke negara Kidarba. Ia meninggal dalam usia lanjut.
Kapi Winata
KAPI WINATA adalah salah seorang diantara wadya wanara/kera kerajaan Kiskenda, balatentara Prabu Sugriwa. Ia terjadi atas ciptaan Bathara Yama, berwujud raksasa baik rioman muka maupun tubuhnya.

Di dalam lakon “Rama Tambak” dikisahkan, bahwa Kapi Winata kuasa mengangjkat gunung dan batu-batru sebesar gajah untuk mendasari tambak tersebut. Dalam perang besas Alengka, Kapi Winata-l;ah yang mudah mendapat lawan oleh karena seimbang besarnya dengan musuhnya yaitu para raksasa. Ketika Arya Kumbakumba (Aswanikumba) putra kedua Kumbakarna dengan Dewi Aswani, tampil sebagai senapati Alengka, Kapi Winata maju ke medan peran menghadapinya. Berkat kesaktiannya, ia dapat mendesak pertahanan barisan Alengka dan mencerai-beraikan gelar perang yang dibuat Arya Kumbakumba. Namun ia mengalami kesulitan untuk mengalahkan Kumbakumba yang cukup sakti. Untunglah ketika ia dalam keadaan terdesak,. datang Anoman menolongnya. Arya Kumbakumba akhirnya tewas dalam peperangan melawan Anoman.
Karadusana
Ditya KARADUSANA adalah raksasan hutan Dandaka yang waktu mudanya bernama Ditya Nopati, karena kesaktian dan keperwiraannya, ia berhasil dipilih menjadi suami Dewi Sarpakenaka, adik Prabu Dasamuka raja negara Alengka. Oleh Prabu Dasamuka ia diberi pangkat Tumenggung dan namanya menjadi Wira Karadusana.

Karadusana memiliki watak pemberani, kejam, bengis dan licik. Ia ikut memimpin pasukan raksasa negara Alengka ketika Prabu Dasamuka menyerang Suralaya dan negara Maespati. Karadusana dan pasukannya di bawah pimpinan Ditya Subahu melakukan berbagai tindakan brutal dan kejam, mengobrak-abrik pertapaan dan membunuh para cantrik serta menggangu para pertapa di kawasan hutan Dandaka. Tindakannya itu hanya dapat dihentikan oleh Ramawijaya dan Laksamana, dengan membunuh Ditya Subahu.

Ketika Dewi Sarpakenaka mengadukan tindakan Laksmana, adik Prabu Ramawijaya dari negara Ayodya yang memangkas habis hidungnya hingga grumpung, Karadusana langsung pergi ke hutan Dandaka untuk menuntut balas. Perang seru terjadi antara Karadusana melawan Laksamana. Akhirnya Karadusana mati oleh panah Bramasta yang dilepas Prabu Rama. Bramasta adalah panah sakti pemberian brahmana Wismamitra yang dahulunya milik Bathara Indra
Kiswamuka
PRABU KISWAMUKA adalah raja raksasa negara Girikemlaka. Konon ia putra Aswanikumba, yang berarrti cucu Kumbakarna dengan Dewi Aswani dari negara Leburgangsa, wilayah negara Alengka.
Ketika terjadi perang Alengka, Kiswamuka masih bayi. Setelah berakhirnya perang Alengka, ia hidup bersama neneknya, Dewi Aswani di Leburgangsa. Karena tekun bertapa, Kiswamuka menjadi sangat sakti. Ia mempunyai sifat dan perwatakan: pemberani, keras dalam pendirian, tegas dan cepat naik darah.

Setelah dewasa Kiswamuka menganggat dirinya menjadi raja Girikemlaka, yang merupakan nama baru dari Leburgangsa. Ketika mengetahui para leluhurnya tewas dalam perang Alengka oleh Prabu Rama dan Laksmana, Prabu Kiswamuka kemudian menyerang negara Ayodya untuk melakukan balas dendam. Tapi dapat dikalahkan oleh Prabu Rama.

Ketika dari pamannya, Prabu Bismaka/Dentawilukrama, raja negara Singgela, putra Prabu Wibisana, bahwa mahkota Prabu Dasamuka berada di tangan Prabu Sugriwa, Kiswamuka kemudian menyerang Goa Kiskenda untuk merebut mahkota tersebut. Ia akhirnya tewas dalam peperangan melawan Prabu Sugriwa
Mandrakestu
PRABU MANDRAKESTU adalah raja negara Kidarba. Di dalam sarasilah Parisawuli, Mandrakestu disebutkan dengan nama Brahmakestu, putra Bathara Brahmanadewa (putra Sanghyang Brahma), dengan Dewi Srinadi, putri Sanghyang Wisnu dari permaisuri Dewi Srisekar/Dewi Sri Widowati. Prabu Mandrakwestu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Prabu Meriya, raja negara Maespati dan dilanjutkan persahabatannya dengan Prabu Kartawirya, raja Maespati berikutnya.

Prabu Mandrakestu menikah dengan Dewi Isnawari, seorang hapsari keturunan Sanghyang Taya. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra kembar, masing-masing bernama Arya Suryakestu dan Arya Candrakestu, yang terus melanjutkan hubungan persaudaraan itu dengan pengabdiannya terhadap Prabu Arjunawijaya, raja negara Maespati yang termasyhur sebagai penjelmaan Sanghyang Wisnu dan mempunyai gelar yang sangat terkenal ; Prabu Arjunasasrabahu.

Setelah usianya lanjut dan merasa tidak mampu lagi memegang tampuk pemerintahan, Prabu Mandrakestu menyerahkan tahta kerajaan Kidarba kepada Arya Suryakestu. Sedangkan Arya Candrakestu menjadi raja di negara Takiya, menggantikan kedudukan mertuanya.
Mulati
DITYA MULATANI adalah putra angkat Detya Maliawan, adik Prabu Sumali, raja negara Alengka. Ia tercipta dari ari-ari Detya Jambumangli, putra tunggal Detya Maliawan. Meskipun memiliki bentuk tubuh agak pendek menurut ukuran raksasa, karena ketekunannya bertapa, Mulatani menjadi sangat sakti.

Detya Mulatani berwatak pemberani, jujur, setia dan penuh pengabdian. Ia mengabdikan diri di negara Alengka sejak masa pemerintahan Prabu Sumali hingga masa pemerintahan Prabu Dasamuka dengan pangkat Tumenggung. Menjelang akhir perang Alengka, dimana negara Alengka diserbu jutaan laskar kera Gowa Kiskenda dibawah pimpinan Prabu Sugriwa yang membantu Prabu Rama dalam upaya merebut dan membebaskan Dewi Sinta dari sekapan Dasamuka, Detya Mulatani diangkat menjadi patih negara Alengka menggantikan Patih Prahasta yang tewas dalam peperangan melawan Anila.

Setelah Indrajid/Megananda, putra Prabu Dasamuka dengan Dewi Tari tewas dalam peperangan oleh panah Surawijaya yang dilepas Laksmana, Mulatani maju ke medan perang memimpin sisa-sisa laskar perang Alengka. Ia akhirnya tewas dalam peperangan melawan Anggada, putra Resi Subali dengan
Prameya
PRAMEYA atau Kapi Sarpacita (Mahabharata) adalah wanara/kera ahli selam. Ia tercipta dari hasil pemujaan Bathara Waruna. Prameya dapat berbicara dan beradat-istiadat seperti manusia Oleh Bathara Waruna, Prameya disuruh mengabdi pada Ramawijaya di Pesanggrahan Maliawan. Ia kemudian menjadi salah satu senapati perang balatentara kera kerajaan Kiskenda di bawah pimpinan Prabu Sugriwa

Premeya mempunyai andil yang sangat besar dalam menyelamatkan pembuatan tambak/jembatan penyeberangan di atas laut untuk jalan menyeberang jutaan laskar kera ke negara Alengka. Ia berhasil menyelidiki dan menangkap Yuyurumpung, raksasa berkepala ketam/yuyu, punggawa Prabu Dasamuka yang mendapat tugas mengagalkan pembuatan tambak. Dengan ekornya, Prameya berhasil menarik tubuh Yuyurumpung ke daratan. Yuyurumpung akhirnya mati dalam pertempuran melawan Kapimenda.

Setelah berakhirnya perang Alengka, seperti halnya wanara lainnya, Prameya tidak dapat diketahui akhir hidupnya.
Pratalamaryam
PRATALAMARIYAM dalam cerita pedalangan Jawa dikenal pula dengan nama Bukbis. Ia putra Prabu Dasamuka, raja negara Alengka dengan Dewi Urangrayung putri Bagawan Minalodra dari negara Kandabumi. Pratalamariyam mempunyai mempunyai beberapa orang saudara seayah lain ibu masing-masing bernama : Indrajid/Megananda, dari ibu Dewi Tari, Trisirah, Trimuka dari ibu Dewi Wisandi,Yaksadewa dan Trimurda.Ia juga mempunyai saudara se ibu lain ayah bernama Trihangga/Trigangga, putra Dewi Urangayung dengan Anoman.

Pratalamariyam sangat sakti. Ia memiliki pusaka bernama Topengwaja, yang berkesaktian; siapa saja yang dipandang dengan mata topeng itu akan terbakar hangus. Pada waktu pecah perang Alengka, atas perintah Prabu Dasamuka, Pratalamariyam dengan dibantu Trihangga berhasil menculik Prabu Rama dan Laksamana yang di masukkan ke dalam Kendaga dan diberikan kepada Prabu Dasamuka. Kendaga berisi Prabu Rama dan Laksamana kemudian direbut kembali oleh Trihangga setelah Trihangga mengetahui bahwa ia putra kandung Anoman.

Perang seru terjadi antara Pratalamariyam dengan Trihangga. Akhirnya atas petunjuk Arya Wibisana, Anoman dapat membinasakan Pratalamariyam dengan menggunakan senjata kaca Raksa. Tubuh Pratalamariyam hangus terbakar oleh pantulan pandangan mata Topengwaja, pusakanya sendiri.

Pramujabahu
PRAMUJABAHU dikenal pula dengan nama Kapi Sarpacita. adalah salah seorang senapati wadya wanara/kera kerajaan Kiskenda, balatentara Prabu Sugriwa, yang membantu Sri Rama menyerang dan menggempur Negara Alengka.

Di dalam lakon “Rama Tambak” dikisahkan, ketika balatentara wanara/kera laskar Ramawijaya sedang membuat tanggul untuk jembatan penyeberangan angkatan perangnya ke Alengka, Yuyurumpung, raksasa berkepala gudul yang bertugas menjaga perairan Alengka, mengganggu pembuatan jembatan itu dengan meruntuhkan dasar tanggul. Akibatnya, berkali-kali wadya wanara membangun tanggul, sekian kali pula tanggul runtuh oleh perbuatan Yuyurumpung.

Apa yang diperbuat oleh Yuyurumpung, akhirnya dapat diketahui oleh Pramyjabahu yang sedang melakukan penyelidikan. Perang seru terjadi. Pramujabahu yang terdesak, dalam satu kesempatan dapat melilit tubuh Yuyurumpung dengan ekornya dan menariknya ke dataran. Akhirnya Yuyurumpung mati dalam pertempuran dengan kepala hancur
Rawatmeja
RESI RAWATMAJA adalah brahmana tua dari pertapaan Puncakmolah yang terletak di hutan Dandaka. Ia bersahabat baik dengan Garuda Sempati, putra Resi Bisrawa.

Resi Rawatmaja adalah brahmana wadat/tidak bersentuhan dengan lain jenis. Tapi untuk melaksanakan dharma, ia bersedia melakasanakan perintah Bhatara Narada untuk memperistri Dewi Kusalya, putri Prabu Banaputra raja negara Ayodya, yang sedang menderita penyakit lumpuh. Perkawinannya dengan Dewi Kusalya hanyalah sebagai perantara untuk dapat mempertemukan Dewi Kusalya dengan Dasarata. Oleh Dewata, Dasarata yang saat itu sedang berguru pada Resi Yogiswara di pertapaan Yogisrama telah ditetapkan menjadi suami yang sesungguhnya dari Dewi Kusalya.

Dengan air mukjizat Mayamahadi pemberian Bathara Narada, Resi Rawatmaja berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Kusalya dan berhak menjadi suaminya sesuai bunyi sayembara. Tapi belum usai pesta perkawinan, negara Ayodya telah diserang Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. Resi Rawatmaja yang berusaha melindungi Dewi Kusalya, dan membawanya lari ke pertapaan Puncakmolah, tewas dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka. Namun sebelum menemui ajalnya. Resi Rawatmaja masih sempat memberitahu Dewi Kusalya, bahwa suami yang sesungguhnya benama Dasarata dan kini berada di pertapaan Yogisrama menjadi murid Resi Yogiswara
Saksadewa
SAKSADEWA atau Yaksadewa adalah putra Prabu Rahwana/Dasamuka raja negara Alengka dengan permaisuri Dewi Satiwati. Ia mempunyai beberapa orang saudara seayah lain ibu masing-masing bernama ; Indrajid/Megananda, putra Dewi Tari, Pratalamariyam, putra Dewi Urangayung, Trisirah putra Dewi Tisnawati, Trimurda putra Dewi Wiraksi serta saudara kembar Trikaya dan Trimuka putra Dewi Wisandi.

Selain sakti, Saksadewa mempunyai pusaka panah sakti bernama Candrasa. Ia juga mempunyai kereta perang yang ditarik singa dan dapat terbang, pemberian Bathara Brahma.

Ketika Anoman mengamuk dan merusak Taman Hargasoka setelah berhasil menemui Dewi Sinta dan menyerahkan cincin Prabu Rama, Saksadewa diperintahkan Prabu Dasamuka untuk menangkap Anoman. Perang seru terjadi,. Kereta perang Saksadewa dapat dihancurkan Anoman, Yaksadewa sendiri akhirnya tewas dalam pertempuran melawan Anoman. Tubuhnya hancur dihantam batang pohon nagasari
Satabali
SATABALI adalah kera berkepala ayam jantan/jago. Ia merupakan wanara balatentara Gowa Kiskenda di bawah pemerintahan Prabu Sugriwa. Satabali adalah kera ciptaan Bathara Kuwera, yang ditugaskan untuk membantu Ramawijaya dalam upaya merebut kembali Dewi Sinta, dari tawanan Prabu Rahwana raja negara Alengka.

Satabali mempunyai kesaktian dalam suaranya. Suara kokoknya yang keras melengking mempunyai kekuatan gaib yang luar biasa, dapat didengar samopai radius ribuan meter. Dalam pasukan kera Gowa Kiskenda, Satabali mempunyai peranan yang sangat penting. Ia bertugas membangunkan para wadya wanara yang jutaan jumlahnya. Irama kokoknya juga bermacam-macam, sehingga bisa menjadi suatu isyarat atau pertanda tentang sesuatu peristiwa. Suara kokoknya inilah yang membuat pasukan kera Gowa Kiskenda selalu dapat mengetahui setiap gerakan pasukan Alengka yang kadang-kadang secara mendadak dan tersembunyi menyerang perkemahan Suwelagiri.

Setelah berakhirnya perang Alengka, sebagaimana wanara lainnya, Satabali tidak diketahui lagi nasibnya
Sempati
SEMPATI adalah burung Garuda yang dapat berbicara seperti manusia. Garuda Sempati adalah putra ketiga Resi Briswawa, yang berarti masih keturunan langsung Dewi Brahmanistri, putri Bathara Brahma. Ia mempunyai tiga saudara kandung masing-masing bernama; Garuda Harna, Garuda Brihawan dan Garuda Jatayu yang menjadi sahabat karib Prabu Dasarata, raja negara Ayodya.

Garuda Sempati bersahabat karib dengan Resi Rawatmaja dari pertapaan Puncakmolah. Ia pernah menyelamatkan Resi Rawatmaja dan Dewi Kusalya, putri Prabu Banaputra raja negara Ayodya dari kejaran Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. Sempati kalah dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka. Seluruh bulu di tubuhnya dicabuti oleh Prabu Dasamuka. Kemudian dalam keadaan terondol tubuh Sempati dilempar jauh ke angkasa, jatuh di lereng gunung Warawendya.

Dalam sisa hidupnya, dengan mantra sakti penawar racun ajaran Resi Rawatmaja, Sempati masih bisa menolong Anoman dan laskar kera Pancawati yang menderita kebutaan matanya karena diracun oleh Dewi Sayempraba, putri Prabu Wisakarma dari Gowawindu. Ia meninggal hanya beberapa saat setelah kepergian Anoman dan laskar keranya
Soda
PRABU SODA adalah raja negara Sodapura, sebuah negara kecil masuk dalam wilayah kekuasaan negera Maespati. Prabu Soda naik tahta kerajaan Sodapura menggantikan kedudukan ayahnya, Prabu Herutama, raja keturunan Bathara Sambo. Prabu Soda mempunyai adik kandung bernama Dewi Sintren yang menjadi istri Prabu Kalinggapati, raja negara Kalinggapura yang masih keturunan Bathara Surya.
Sebagai lazimnya satria keturunan Hyang Sambo, Prabu Soda memiliki sifat dan perwatakan arif bijaksana, setia, pemberani dan teguh dalam pendirian. Ketika terjadi perang di negara Magada memperebutkan Dewi Citrawati, Prabu Soda ikut mendampingi Bambang Sumantri yang merupakan utusan resmi Prabu Arjunasasrabahu membantu negara Magada menghadapi serbuan persekutuan seribu negara pimpinan Prabu Darmawisesa dari Widarba, dan memboyong Dewi Citrawati ke Maespati.
Prabu Soda pernah tewas dalam peperangan melawan Rahwana / Dasamuka, ketika raja raksasa negera Alengka itu menyerang Maespati. Penyerangan terjadi akibat pesanggrahan Rahwana di bukit Nusamanik terendam luapan air sungai yang dibendung oleh tubuh Prabu Arjunasasrabahu yang bertiwikrama, sehingga menjadi sebuah danau untuk mandi dan bercengkerama Dewi Citrawati dan delapan ratus selirnya. Tapi berkat kesaktian Bathara Pulasta, kakek buyut Prabu Dasamuka, Prabu Soda dapat dihidupkan kembali.

Setelah Prabu Arjunasasra tewas dalam pertempuran melawan Ramaparasu, Prabu Soda kembali ke negara Sodapura. Ia meninggal dalam usia lanjut
Suksara
PRABU SUKSARA adalah putra Prabu Brahmanatama, raja negara Alengka dengan permaisuri Dewi Sukati. Ia naik tahta menjadi raja negara Alengka ke-lima menggantikan ayahnya, Prabu Brahmanatama yang hidup sebagai brahmana. Raja-raja negara Alengka sebelumnya adalah: Prabu Hiranyakasipu, Prabu Banjaranjali dan Prabu Getahbanjaran, yang kesemuanya adalah keturunan Bathara Brahma.

Prabu Suksara menikah dengan Dewi Aswanti, seorang hapsari/bidadari yang masih keturunan Bathara Semeru. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama; Ditya Sumali dan Ditya Maliawan.

Walau berwujud raksasa, Prabu Suksara berwatak brahmana. Ia memerintah negara Alengka dengan sifat adil dan bijaksana. Setelah Ditya Sumali dewasa, Prabu Suksara menyerahkan tahta negara Alengka kepada putranya. Ia kemudian hidup sebagai brahmana karena ia berharap ada anak keturunannya yang lahir satria dan berwatak brahmana, yang menjadi kekasih Sanghyang Wisnu. Keingginannya kelak menjadi kenyataan. Salah satu keturunannya, Arya Wibisana menjadi sahabat dan kekasih Prabu Rama, raja titisan Sanghyang Wisnu
Suwandagni
RESI SUWANDAGNI adalah brahmana di pertapaan Argasekar. Ia putra kedua dari Resi Wisanggeni yang dalam Serat Ramayana dikenal dengan nama Ricika --- Resi Wisanggeni merupakan putra bungsu dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti cucu Bathara Dewanggana, turun ke-3 dari Bathara Surya. --- Kakak kandungnya, Jamadagni yang sebelum menjadi brahmana di pertapaan Dewasana, lebih dulu menjadi raja negara Kanyakawaya menggantikan Raja Gadi, kakeknya.

Resi Suwandagni menikah dengan Dewi Darini, seorang hapsari/bidadari keturunan bathara Sambujana, putra Sang Hyang Sambo. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Bambang Sumantri yang berparas tampan, dan Bambang Sukasarana/Sukasrana, berwujud raksasa kerdil/bajang.

Resi Suwandagni sangat sayang kepada putra-putranya. Pendidikannya diarahkan kepada hal-hal yang bersifat kesantikan, kesaktian dan menanamkan rasa kebaktian kepada umat. Olah keprajuritan sangat diutamakan, sehingga kedua putranya sangat mendalami jiwa keprajuritan dan kepahlawanan. Setelah dewasa, Bambang Sumantri mengabdi pada Prabu Arjunasasra / Arjunawijaya dan menjadi patih di negara Maespati. Sedangkan Sukasrana mengabdi pada Bathara Wisnu dan ditugaskan menjadi juru Taman Sriwedari di Kahyangan Untarasegara.
Resi Suwandagni moksa setelah mendengar, bahwa Bambang Sumantri/Patih Suwanda gugur dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka, raja negara Alengka, dan Sukasrana mati oleh tangan kakaknya sendiri.
Suryakestu
PRABU SURYAKESTU adalah putra Prabu Mandrakestu, raja negara Kidarba dari perwaisuri Dewi Isnawari. Di dalam sarasilah Parisawuli, Mandrakestu dikenal dengan nama Bramakestu, putra Bathara Bramanadewa, keturunan Bathara Brama, dengan Dewi Srinadi, putri Bathara Wisnu. Prabu Suryakestu mempunyai saudara kembar yang merupakan adiknya bernama Candrakestu, yang menjadi raja di negara Takiya. Suryakestu menjadi raja negara Kidarba menggantikan ayahnya yang meninggal karena usia lanjut.

Prabu Suryakestu dan negara Sakiya masuk dalam wilayah kekuasaan negara Maespati di bawah kekuasaan Prabu Arjunawijaya/Arjunasasra. Karena itu selain menjadi raja negara Kidarba, Prabu Suryakestu juga menjabat senapati perang negara Maespati. Karena kesaktian dan kesetiaannya, Prabu Suryakestu ditugaskan untuk membantu Bambang Sumantri berperang menghadapi raja-raja dari 25 negara di negara Magada dalam upaya mendapatkan Dewi Citrawati.

Prabu Suryakestu pernah mati dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka, saat menjaga keselamatan Prabu Arjunasasra yang sedang tidur bertiwikrama membendung aliran sungai menjadi telaga buatan untuk tempat pemandian Dewi Citrawati dan 800 orang selir berikut para dayangnya. Tapi berkat kesaktian Bathara Pulasta, kakek buyut Prabu Dasamuka, Prabu Suryakestu dapat dihidupkan kembali.
Setelah Prabu Arjunasasra tewas dalam pertempuran melawan Ramaparasu, Prabu Suryakestu kembali ke negara Kidarba. Ia meninggal dalam usia lanjut.
Tataksini
DITYA TATAKINI adalah punggawa raksasa negara Alengka. Karena kesaktian dan keahliannya dalam hal menyelam, ia dan saudaranya bernama Wilkataksini oleh Prabu Dasamuka ditugaskan untuk menjaga keamanan lautan dan pantai negara Alengka

Dengan kesaktiannya yang luar biasa. Tatakini berhasil menghisap tubuh Anoman masuk ke dalam perutnya. Waktu itu Anoman sedang terbang melintas di atas samodra menuju negara Alengka, sebagai duta Prabu Rama untuk mencari kebenaran keberadaan Dewi Sinta sebagai tawanan Prabu Dasamuka.

Berkat daya kesaktian Cupumanik Astagina, Anoman dapat bertiwikrama. Tubuh Anoman membesar sebesar bukit dan menjebol hancur dinding perut Tatakini. Ditya Tatakini mati seketika dengan perut hancur berantakan.
Urangrayung
DEWI URANGRAYUNG adalah putri Bagawan Minalodra dari pertapaan Kandabumi. Oleh Sanghyang Waruna ia dijodohkan dengan Prabu Dasamuka/Rahwana untuk meredam kemarahan raja negara Alengka tersebut menghancurkan kerajaan-kerajaan di dasar samodra. Dari perkawinannya dengan Prabu Dasamuka, Dewi Urangrayung mempunyai seorang putra lelaki berwujud setengah raksasa yang diberi nama Pratalamariyam atau Bukbis (cerita pedalangan).

Dewi Urangrayung tidak lama menjadi istri Prabu Dasamuka. Ia kemudian menikah dengan Anoman, putra Dewi Anjani dengan Bathara Guru/Sanghyang Manikmaya. Peristiwanya terjadi, Anoman yang dalam perjalanan pulang dari Kahyangan Jonggringsaloka setelah bertemu dengan Bathara Guru dan diakui sebagai putranya, di tepi samodra bertemu dengan Sanghyang Waruna. Mereka kemudian pergi ke kerajaan Kandabumi tempat tinggal Bagawan Minalodra. Di tempat itulah Anoman bertemu dengan Dewi Urangrayung dan jatuh cinta.

Waktu itu Dewi Urangrayung sudah menjanda dan punya seorang anak. Oleh Sanghyang Waruna ia dinikahkan dengan Anoman. Dari perkawinan tersebut Dewi Urangrayung mempunyai seorang putra berwujud kera putih yang diberi nama Trihangga/Trigangga. Kelak pada waktu pecah perang Alengka, kedua putra Dewi Urangrayung, yaitu, Pratalamariyam dan Trihangga saling berhadapan sebagai musuh karena membela kepentingan dan keyakinannya masing-masing.
Wil Kampana
WIL KAMPANA adalah wadyabala raksasa negara Alengka yang terkemuka. Kampana tercipta dari ari-ari Jambumangli, putra Resi Maliawan, yang karena daya cipta kesaktian Resi Pulastya, brahmana raksasa dari pertapaan Hargajembatan, menjelma menjadi seorang raksasa bertubuh pendek gempal dan berambut merah.

Kampana memiliki sifat dan perwatakan; pemberani, jujur, setia dan sangat berbakti. Ia sangat sakti, tubuhnya kebal terhadap segala macam senjata tajam.. Karena selain menjadi murid Resi Pulastya, Kampana juga pernah menjadi murid Resi Wisrawa, ayah Prabu Dasamuka. Dalam perang Alengka antara balatentara wanara Prabu Rama melawan balatentara raksasa Prabu Dasamuka, Kampana maju ke medan perang sebagai senapati pendamping, mendampingi senapati utama Patih Prahasta. Ia berhadapan dengan Kapi Winata, kera berwujud raksasa hasil daya cipta Bathara Yamadipati.

Wil Kampana yang sangat tangguh dan sakti tersebut, akhirnya mati binasa ditimpa batu yang dijatuhkan oleh Anoman yang mengeluarkan kesaktiannya yang berwujud angin puyuh, sehingga menerbangkan beribu-ribu batu yang menimbun tubuh Wil Kampana
Wilkataksini
Ditya WILKATAKSINI adalah punggawa raksasa negara Alengka. Karena kesaktiaannya ia ditugaskan oleh Prabu Dasamuka untuk menjaga keamanan pantai negara Alengka. Sedangkan saudaranya bernama Tatakini yang ahli menyelam, mendapat tugas menjaga keamanan samodra.

Karena memiliki pandangan mata yang sangat tajam, Wilkataksini berhasil menangkap bayangan tubuh Anoman yang terbang tinggi di balik gumpalan mega dalam upaya menyelusup masuk negara Alengka. Waktu itu Anoman sedang melaksanakan tugas sebagai duta Prabu Rama menuju negara Alengka untuk mencari kebenaran keberadaan Dewi Sinta sebagai tawanan Prabu Dasamuka.

Dengan kesaktiaannya Wilkataksini menyedot tubuh Anoman masuk ke dalam mulutnya untuk dikunyah. Wilkataksini akhirnyua mati sebelum melaksanakan niatnya. Anoman yang bertiwikrama berhasil menjebol rongga mulutnya sampai hancur
Wiraksi
DEWI WIRAKSI adalah raseksi dari hutan Dandaka. Berkat ketekunanya bertapa memuja Hyang Wrahaspati, Dewi Wiraksi memiliki berbagi ilmu kesaktian, diantaranya dapat berubah wujud menjadi wanita cantik.

Dewi Wiraksi menyaksikan terjadinya peristiwa berdarah di petapaan Puncakmolah, yaitu ketika Dasamuka/Rahwana membunuh Resi Rawatmaja dan menyiksa Garuda Sempati dengan mancabuti semua bulunya hanya karena ingin merebut Dewi Kusalya, putri Prabu Banaputra dari Kerajaan Ayodya.
Tertarik akan kegagahan kesaktian Rahwana, secara diam-diam Dewi Wiraksi membuntuti Rahwana ketika raja raksasa dari Alengka itu mengejar Dewi Kusalya ke pertapaan Yogisrama. Berkat aji panglimunanannya, Dewi Wiraksi mengetahui kalau Dewi Kuslya yang diserahkan Resi Yogiswara kepada Rahwana adalah Dewi Kusalya palsu. Dewi Wiraksi yang menghadang di perjalanan berusaha mengingatkan Rahwana bahwa yang dibawanya hanyalah Dewi Kusalya palsu ciptaan Resi Yogiswara, sedangkan Dewi Kusalya yang asli masih ada dipertapaan Yogisrama. Namun peringatan Dewi Wiraksi ini tidak digubris Rahwana. Rahwana baru menyadari kebenaran peringatan Dewi Wiraksi setelah sampi dikeputrian Alengka, Dewi Kusalya yang ingin dirayunya berubah menjadi selembar daun.

Rahwana yang marah keluar istana dan akan kembali ke pertapaan Yogisrama. Lagi-lagi Dewi Wiraksi mencegatnya dan mengingatkan Rahwama akan janjinya kepada Resi Yogiswara. Tertarik akan kecerdikan dan kesaktian Dewi Wiraksi, Rahwana kemudian mengambilnya sebaagi istri. Dari perkawinabn ini mereka mendapatkan seorang anak lelaki yang diberi nama Trimurda
Yogiswara
RESI YOGISWARA adalah brahmana sakti dari pertapaan Yogisrama yang berada di hutan Dandaka. Ia adalah guru Prabu Dasarata, raja negara Ayodya, juga menjadi guru Ramawijaya dan Laksmana, putra Prabu Dasarata dengan Dewi Kusalya dan Dewi Sumitra.

Resi Yogiswara pernah menyelamatkan Dewi Kusalya, putri Prabu Banaputra, raja negara Ayodya dengan permaisuri Dewi Barawati, dari nafsu angkaramurka Prabu Dasamuka, raja negara Alengka yang ingin memperistri Dewi Kusalya secara paksa. Prabu Dasamuka yang dalam keadaan nafsu birahi ditipunya dengan penyerahan Dewi Kusalya palsu yang diciptakan dari selembar daun. Resi Yogiswara juga menjadi wali perkawinan Dewi Kusalya dengan Dasarata yang waktu itu menjadi muridnya.

Resi Yogiswara berumur sangat panjang mencapai ratusan tahun. Konon ia ikut menyaksikan kelahiran Anoman, putra Dewi Anjani dengan Bathara Guru yang lahir di telaga Madirda. Resi Yogiswara juga masih mendengar kabar kematian Prabu Dasamuka oleh panah Guwawijaya, senjata pusaka Prabu Rawawijaya, muridnya sendiri.

Wisakarma
PRABU WISAKARMA adalah raja raksasa negara/kerajaan Kotawindu yang terletak di lereng Gunung Warawendya. Ia menikah dengan Dewi Merusupadmi/Dewi Sumeru (Mahabharata) salah seorang keturunan Sanghyang Taya. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang anak bernama Dewi Sayempraba. Adik Prabu Wisakarma yang bernama Dewi Wisakti menjadi istri Prabu Dasamuka, raja negara Alengka dan berputra kembar yang diberi nama Trikaya dan Trimuka.

Prabu Wisakarma adalah raksasa ahli racun. Ia menjadi sahabat dan orang kepercayaan Prabu Dasamuka. Prabu Wisakarma mempunyai sifat serakah, wataknya kejam, bengis dan mau benarnya sendiri. Dengan kesaktiaannya, Prabu Wisakarma membangun taman lengkap beserta istananya dengan mengambil pola taman dan istana Bathara Indra. Bahkan keindahan dan kemegahan taman istana Kotawindu melebihi keindahan Taman Indraloka.

Perbuatan Prabu Wisakarma membangkitkan kemarahan Bathara Indra. Panah angin dilepaskan Dewa Indra dari pintu kahyangan, menghantam dan memporak-porandakan istana Kotawindu. Prabu Wisakarma dan Dewi Merusupadmi/Dewi Sumeru tewas dalam peristiwa tersebut. Bekas istana Kotawindu kemudian berubah menjadi Goawindu dan dihuni oleh Dewi Sayempraba yang selamat dari tragedi panah angin Bathara Indra.

Wisakti
DEWI WISAKTI adalah raseksi dari Goa Windu yang terletak di lereng gunung Warawendya. Berkat ketekunannya bertapa memuja Hyang Cakra, hilang wujud keraksesian Dewi Wisakti dan berubah menjadi manusia biasa.

Sebagaimana dengan kakaknya,. Prabu Wisakarma, Dewi Wisakti juga memiliki keahlian dalam ilmu racun. Karena keahliannya dalam ilmu racun inilah maka Wisakti diambil istri oleh Dasamuka/Rahwana, raja raksasa dari kerajaan Alengka. Dari perkarinan ini ia mempunyai dua orang putra kembar yang diberi nama Trikaya dan Trimuka.

Dewi Wisakti selalu berpenampilan halus dan sopan santun, tapi dalam hatinya terkandung sifat kejam dan senang mencelakakan orang lain.

Perang Alengka merupakan malapetaka bagi Dewi Wisakti. Kedua putra kembarnya, Trimuka dan Trikaya tewas dalam peperangan melawan Anoman dengan jalan diadu kumba (saling dibenturkan) kepalanya. Sedangkan Dasamuka, suaminya tewas oleh panah Goawijaya Sri Rama dan tubuhnya ditimun gunung oleh Anoman. Karena merasa tidak mungkin tinggal di Akengka, Dewi Wisakti memutuskan kembali ke Goa Windu dan tinggal bersama Dewi Sayempraba, kemenakannya. Bebarapa tahun kemudian, Dewi Wisakti mati dalam keputusasaan, bunuh diri dengan jalan meminum racun buatannya sendiri.
Wisanggeni
RESI WISANGGENI adalah pertapa dari pertapaan Ardisekar. Dalam Serat “Ramayana”, Resi Wisanggeni dikenal dengan nama Bagawan Ricika, Resi Wisanggeni merupakan putra bungsu dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti cucu Bathara Dewanggana, turun ke-3 dari Bathara Surya. Kakaknya, Prabu Heriya menjadi raja di negara Maespati, negara yang dibangun besamanya dari puing-puing bekas kerajaan Masywa yang hancur akibat kemurkaan Dewa Siwa.

Resi Wisanggeni menikah dengan Dewi Setyawati, putri tunggal Raja Gadi dari negara Kanyakawaya. Perkawinan dapat berlangsung berkat bantuan Bathara Waruna yang berhasil memenuhi semua persyaratan yang diajukan Raja Gadi. Persyaratan itu antara lain ; Pertama ; calon pengantin pria mengadakan seribu ekor kuda berbulu merah yang sebelah telinganya berwarna hitam. Kedua, wajah valon pengantin pria harus mengesankan kecakapan yang dapat menembus hati yang melihatnya. Ketiga, calon pengantin pria datang ke negara Kanyakawaya diiringi para dewa, dan keempat ; Dewa Waruna sendiri yang bersabda kepada Raja Gadi bahwa sesungguhnya calon pengantin pria memang jodoh Dewi Setyawati.

Dari pekawinannya dengan Dewi Setyawati, Resi Wisanggeni mempunyai dua orang putra lelaki, yaitu Jamadagni dan Suwandagni. Karerna Resi Wisanggeni tidak menginginkan tahta, maka ketika Raja Gadi meninggal yang naik tahta sebagai raja negara Kanyakawaya adalah Jamadagni. Sedangkan Suwandagni mengikuti jejaknya hidup sebagai pertapa di pertapaan Ardisekar[pakdheDar]