Mburu Antenge Pikir | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Mburu Antenge Pikir Reviewed by maztrie on 2:51 AM Rating: 4,5

Mburu Antenge Pikir

JIKA sekali waktu njajah desa milang kori ke pelosok melihat dari dekat kehidupan wong cilik, banyak hal yang akan membuat kita trenyuh. Meskipun tanah Jawa sudah menangi rejaning jaman, ternyata banyak nasib mereka yang belum berubah. Hidupnya tetap sederhana. Puluhan tahun jadi tani-utun, buruh nggarap sawah orang lain di desanya. Rumahnya pun masih rumah kayu warisan orang tua. Hanya, hidupnya kelihatan santai, damai, dan bahagia. Tidak kemrungsung. Pagi sebelum ke sawah ngurusi perkutut klangenan-nya lebih dulu. Menambah ketan hitam, mengganti air minumnya, kemudian menggantungkan sangkarnya di teritis. Sudah itu menikmati teh nasgithel di beranda. Nyamikannya ubi rebus. Sambil mengisap rokok tingwe, sesekali metheti, atau nyingsoti, dan puas ketika burung kesayangannya manggung bersahut-sahutan: aur keteg koong koong kong. Jika sudah demikian, ia jadi tampak sangat bahagia, tampak mulia, serasa beban hidup lenyap seketika. Maka, ketika ke sawah manggul pacul pun dia melangkah dengan gagah sambil rengeng-rengeng Mijil, Sinom, atau Dandanggula.

Karena itulah, hingga kini kebiasaan memelihara perkutut terhitung masih mbalung sungsum bagi orang Jawa yang ’’nggegegi Jawane’’. Seperti halnya memelihara ayam aduan, mancing, udud klembak menyan, nglaras uyon-uyon atau campursari sambil menikmati teh nasgithel, masang wayang kulit idolanya di ruang tamu, dan lain-lain. Meskipun ada juga kegemaran yang kadang menjurus ke hal-hal negatif, seperti judi, dan adu jago, namun klangenan sendiri sering dijadikan obat, atau ’’tamba ati’’ bagi orang Jawa dalam mencari dan menemukan kenteraman hidup. Atau dengan kata lain, klangenan bukan untuk bersenang-senang saja, melainkan cara untuk memperoleh: padhange pikir, resiking ati, dan warasing jiwa-raga. Contohnya seperti kebiasaan memelihara perkutut itu.

Bagi orang Jawa (di Jawa) bunyi perkutut yang khas bukan saja terdengar indah, merdu, namun juga menenteramkan, memberikan suasana nyaman pada lingkungan. Bahkan tidak jarang mereka menganggap perkutut burung ’’sakral’’, sehingga menembak burung ini pun dianggap tabu, dan memelihara perkutut dianggap laku olah batin bagi yang bersangkutan. Itulah sebabnya pengakuan nilai perkutut di Jawa kadang bukan hanya berpedoman pada kemerduan suara, keindahan wujud, dan kejinakannya melulu, akan tetapi sudah menggunakan pertimbangan spiritual (rohani). Soalnya, banyak yang percaya jika perkutut dapat memberikan sinyal-isyarat lewat berbagai macam cara atas sejumlah peristiwa kosmis yang sulit dijangkau atau dideteksi akal-budi manusia. Dengan demikian, perkutut seolah dianggap sekumpulan mata facet dari kutub-kutub magnet yang mampu menangkap gejala alam dan memancarkan kembali ke dalam bentuk sederhana dan mudah dipahami secara inderawi oleh pemiliknya.

Maka tidak mengherankan jika sampai hari ini klangenan memelihara perkutut belum terkalahkan oleh tren memelihara burung berkicau, seperti: jalak, cucak rawa, hwabie, poksay, murai, kenari, dan lain-lain. Sebab, jika kicau jalak atau cucak hanya merdu dan memberikan suasana alamiah, anggung-nya perkutut lebih dari itu. Mitosnya tidak jauh berbeda dari suara gagak yang sering jadi tanda akan datangnya kematian atau marabahaya. Mirip suara prenjak yang jadi pertanda datangnya tamu serta rezeki. Setara dengan suara burung malam, seperti kulik dan tu’u, yang suka dikaitkan dengan hantu dan pencuri.

Memelihara perkutut sudah cukup tua, membuat burung ini seakan telah menyatu dengan kehidupan orang Jawa. Buktinya, primbon mengenai perkutut sudah ada sejak berbabad-abad lalu. Seperti ’’Katuranggan Oceh-Ocehan’’ dari Kasunanan Giri (1478-1670) yang ditulis begitu njlimet. ’’Katurangganing Kapal lan Peksi’’ yang ditemukan di Kasunanan Bonang (Tuban) ketika ekspedisi Speelman (VOC) menyerang basis-basis Trunajaya di Jatim. ’’Karuman Wasiteng Wali’’ yang ditemukan di Padepokan Kanigoro, Gunung Pasir, antara Probolinggo-Pasuruhan, berangka 1512, di mana DG Hollander menelitinya pada tahun 1896.

Ternyata banyak klangenan di Jawa bukannya main-main, dan keliru jika kebiasaan tersebut hanya dinilai dari pandangan wadhag belaka. Contohnya, memelihara perkutut dan menghayati suaranya bukan hanya luru seneng, tetapi sesungguhnya mburu antenge pikir lan urip. Memberi aba-apa perkutut juga merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan hewan dan alam semesta. Seluruh gerak kehidupan perkutut dalam sangkarnya pun dapat dijadikan kaca benggala. ’’Sapa kang menehi kabecikan marang liyan, bakal winales becik dening liyan.’’ Maka, lebih terpuji lagi jika masih suka nguri-uri kebiasaan, pada waktu-waktu tertentu melepas kembali perkutut peliharaanya ke alam bebas, pulang ke habitatnya. Artinya, klangenan memelihara perkutut juga menjadi pelajaran berharga bagi kita: ’’Sapa seneng ngrungokake tangise liyan, ora pantes nangisi barang darbeke kang ilang.’’

Source