Nggayuh Keprabon | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Nggayuh Keprabon Reviewed by maztrie on 1:38 AM Rating: 4,5

Nggayuh Keprabon

MEMANG sih, pada sesorahnya sewaktu beliau berusia 61 thit, Sri Sultan HB X menyatakan bahwa beliau tidak akan mencalonkan diri lagi untuk menjadi Gubernur DIY. Sebuah langkah strategis yang petungnya genep betul; karena dengan menyatakan tidak bersedia mencalonkan diri sebagai gubernur -padahal DIY sebagai daerah istimewa justru keistimewaan disini: Gubernurnya tidak pakai pemilihan. Rakyat Jogja dititipkan kepada gubernur hasil pemilihan kelak yah, mirip-miriplah dengan wasiat Bung Karno: Menitipkan rakyat Indonesia kepada "Penguasa" Indonesia berikutnya -tepatnya; "Kutitipkan Indonesia kepadamu!"


Kenapa? inilah yang dipertanyakan oleh segenap rakyat DIY. Dalam pisowan agung yang dilakukan kemudian, Sri Sultan ngendikan bahwa beliau milih "lengser keprabon" untuk "nggayuh keprabon" yang lebih tinggi: Indonesia. Bukankah pada tahun 2004 lalu, lewat jalur Golkar, bila semula ada puluhan DPW yang mau memilih beliau akhirnya cuma 7 yang milih, salah satu alasannya adalah karena beliau masih di butuhkan di DIY, plus ini yang menjengkelkan: Menganggap beliau hanyalah pas untuk jadi pimpinan lokal - lha wong Mbah Marijan saja sewaktu Merapi meletus, diperintahkan oleh Sri Sultan untuk turun gunung karena berbahaya, dia mokong kok; alasannya, karena yang dhawuh "Cuma" gubernur, bukan Sri Sultan ( tepatnya Sri Sultan HB IX yang mengangkat Mbah Marijan jadi juru kunci Merapi). Sri Sultan HB IX seperti sudah waskita ("visioner" istilah yang di pakai Sofien Effendi- karena DIY sudah melangkah maju dibanding daerah yang lain menuju ke negeri demokrasi ber-bhineka-tunggal). Beliau juga waskita ing budi (kalau Mbah Marijan baru membaca seprapat, Sri Sultan sudah tamat).

Tapi lalu bagaimana dengan "pangandika"-nya untuk netepi kewajibannya sebagai tokoh (!) nasional, yang bakal kukuh menggenapkan "trus", kepercayaan rakyat seperti yang dalam pewayangan telah di lakukan oleh Bhisma maupun Bima. Maksudnya, bila kelak beliau terpilih sebagai tokoh nasional beliau tidak akan lupa "asal-usul"-nya. Apa yang diteladankan oleh Bupati Bantul asal Minang, Idham Samawi "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" -bukankah elok untuk diteladani sekalipun itu "hanya" dari bupati?! Inilah yang disesel-seselkan oleh para wasis seperti J Kristiadi " pangandikane ratu tan kane wola-wali ", mesti "Hamot" (apa pun pendapat rakyat perlu didengar), "Hamong" ( berbeda-beda toh dimong juga ), "Hamemangkat" (mengamgkat semua jadi lebih mulia).

Baru dengan demikian bolehnya "nggayuh keprabon" bisa disetarakan dengan "ratu ngawangga" Adipati Karno. ("Kok jauh-jauh to Mas; lha mbok bapaknya langsungkan bisa jadi teladan?!", bisik Bilung (maksudnya Sultan HB IX).

Pada posisinya ini, apa yang diputuskan oleh Sri Sultan tidaklah semata-mata "lengser keprabon" apa lagi "nyingkiri kadonyan", tetapi melindungi rakyat Ngayogyakarta dari mereka yang "budi candala " dan " laku dursila"!.

Inilah makna laku rohani Sri Sultan untuk lengser keprabon sekaligus nggayuh kamulyan.

Source