festival sinden internasional 2009 | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
festival sinden internasional 2009 Reviewed by maztrie on 3:03 PM Rating: 4,5

festival sinden internasional 2009

PEREMPUAN berkacamata dan berbusana kebaya warna merah hati itu beranjak dari tempat duduknya. Tepuk tangan meriah sekali. Dengan langkah kecil-kecil ia menuju ke mimbar di tengah panggung. Setelah menghaturkan sembah seraya membungkuk kepada para penonton, dia duduk timpuh dengan anggunnya. Hening. Sejenak kemudian dia mulai melantunkan gending Ketawang Kinanthi Sandhung Pelog Barang, suwuk dan dilanjutkan macapat Dhudhuk Wuluh. Dengan suaranya yang bening terlantun pula Ayak-ayakan Mijil Sulastri wolak-walik, beralih ke srepeg Slendro Manyura, kemudian diselingi Palaran Mijil, lalu ditutup dengan srepeg dan suwuk. Ketika sampai pada bagian cengkok miring, penonton seolah-olah berhenti bernafas, terkesima oleh tarian nada-nada yang dibawakan oleh perempuan itu dengan sempurna. Kalau tidak disebutkan namanya barangkali penonton tidak akan menduga bahwa perempuan itu adalah orang Jepang asli, kelahiran Chiba, 31 Januari 1967. Dialah Nyi Hiromi Kano, perempuan asal Jepang yang telah lama berguru pada KRT. Prajanegara, Nyi Supadmi, dan Nyi Sudarti. Sinden hasil pendidikan Tokyo College of Music dan STSI Surakarta ini memang terkesan lebih nJawani dibanding namanya. Malam itu dia membuktikan bahwa Seni Sinden, salah satu seni kebanggaan bangsa Indonesia, telah berhasil dikuasainya. Tak kalah dibanding para pesinden dalam negeri.

Hiromi tidak sendirian. Masih ada sederet nama pesinden dan penabuh gamelan asal mancanegara yang menyemarakkan Festival Sinden Internasional 2009 di Gedung Sasana Langen Budaya Taman Mini Indonesia Indah, Minggu malam itu (10/5/2009). Selain Hiromi Kano, festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Kertagama bekerjasama dengan Gala Budaya World Performance itu juga mengundang Nyi Elisabeth Sekar Arum (AS), Nyi Sylvie Chantriaux (Perancis), Nyi Maeg O’Donoghue William (AS), dan Ibu Kitsie Emerson (penabuh kendang asal AS). Sementara dari negeri sendiri tampil pula Nyi Tri Wulandari, Nyi Heni Savitri, Nyi U’un Febri Andari, Nyi Sriyanti, dan Nyi Putri Anjarsari.

Dengan diiringi oleh kelompok karawitan Redi Waluyo pimpinan Ni Wati, mereka tampil memukau di hadapan ratusan undangan yang hadir. “Luar biasa! Saya sangat bangga!” demikian komentar seorang ibu ketika menyalami para pesinden di akhir acara.

Festival Sinden Internasional 2009 merupakan buah pemikiran Bapak H. Harmoko, yang kemudian menjadi program utama Yayasan Kertagama tahun ini. Dengan ditandai penyampaian penghargaan kepada Alm. Nyi Tjondroloekito, Nyi Ngatirah dan Nyi Supadmi, festival ini memberikan warna tersendiri di dalam percaturan maupun sejarah perjalanan seni tradisi Indonesia. Sebagai sebuah peristiwa budaya, FSI 2009 menjadi simbol kesejatian, persahabatan dan perdamaian dunia, sekaligus membuktikan peranan budaya Indonesia dalam percaturan internasional.

Dalam kata pengantarnya, Bapak H. Sudwikatmono – Ketua Dewan Pembina Yayasan Kertagama – mengatakan bahwa festival ini menengarai terangkatnya seni Sinden untuk dinikmati lebih luas lagi sampai ke dunia internasional.

"Profesi seorang Widu Pangidung atau seorang Pesinden sungguh mulia. Akan tetapi, sayangnya pada saat ini masih banyak para orang tua yang enggan bahkan melarang anak perempuannya untuk memasuki sekolah di SMKI (jurusan karawitan/sindhen) atau di Institut Kesenian Indonesia, karena profesi Pesinden dianggap kurang terhormat,” kata Ki Roesman Hadikusumo dalam sambutan tertulisnya. “Melalui Festival Sinden Internasional yang diikuti sembilan peserta, masing-masing 5 pesinden lokal dan 4 pesinden asing, kita harapkan dapat mengangkat harkat dan martabat pesinden. Dan dengan banyaknya peminat dari manca negara belajar sinden, semoga festival ini dapat menjadi sarana diplomasi budaya di tingkat dunia,” imbuhnya.

Kesembilan sinden Minggu malam itu tidak sedang berlomba untuk memperoleh pengakuan atas prestasi masing-masing. Namun mereka sedang menjadi pelaku sebuah proses penduniaan sebuah karya seni tradisional. Seni Sinden berikut muatan kearifan budaya yang berupa piwulang (ajaran) tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam bait-bait tembang gubahan para pujangga kita telah menjadi kebanggaan dunia, tak hanya bagi orang-orang Indonesia.

Kehadiran para pesinden asing di tengah-tengah kita semestinya menghentakkan kesadaran dan kebangkitan kita sebagai sebuah bangsa yang telah dibentuk oleh peradaban luhur turun-temurun. Dan kini, warisan kebudayaan itu telah memasuki wilayah kerjasama dengan bangsa-bangsa lain, yang - syukurlah - telah turut tergetar oleh cara-cara bangsa kita mengekspresikan keindahan. [skd-merdeka]