Ruwatan di Daerah Surakarta | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Ruwatan di Daerah Surakarta Reviewed by maztrie on 6:32 PM Rating: 4,5

Ruwatan di Daerah Surakarta

Judul Buku : Ruwatan di Daerah Surakarta
Penulis : Soetarno
Penerbit : CV. Cendrawasih, 1995, Surakarta
Bahasa : Indonesia
Halaman : 95


Pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Jawa mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai tontonan dan sebagai upacara baik upacara ritual atau pun upacara seremonial. Pertunjukan wayang kulit untuk upacara ritual misalnya untuk upacara ruwatan. Pertunjukan wayang kulit untuk upacara ruwatan dipergunakan oleh orang Jawa sebagai pembebas manusia dari kekuatan supranatural buruk yang mengancam manusia yang sial (Jawa: sukerta) keberadaannya di muka bumi. Di dalam tradisi Jawa orang-orang yang keberadaannya nandhang sukerta (berada dalam “dosa”) maka ia harus diruwat, sebab kalau tidak hidupnya akan sengsara dan membahayakan lingkungan. Ia diyakini menjadi makanan atau mangsa Bathara Kala. Bathara Kala adalah anak Bathara Guru yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikan.

Karya-karya sastra Jawa yang memuat cerita tentang Bathara Kala dan wong sukerta misalnya Kitab Parthayajna, Kitab Sudamala, Kitab Smaradahana, Kitab Kresna Kalantaka, Pakem Kandhaning Ringgit Purwa dan Serat Centhini. Serat Centhini menyebutkan ada 19 jenis wong sukerta, Serat Manikmaya 60 jenis, Serat Pustaka Raja Purwa 136 jenis. Wong sukerta tersebut misalnya ontang-anting (anak tunggal laki-laki), kembang sepasang (dua anak perempuan semua), bungkus (lahir masih terbungkus selaput pembungkus bayi), orang yang ketika menanak nasi merobohkan dandang (tempat menanak nasi).

Lakon ruwatan yang sering dipergelarkan di daerah Surakarta adalah Murwakala/ Purwakala. Dapat dikatakan Murwakala memuat penghayatan kejawen atas eksistensi manusia, adanya di dunia beserta segala hal yang berakibat di dalamnya. Dalam lakon ini yang menjadi titik pandangan manusia akan dirinya, bukan manusia yang baik dan sempurna, melainkan keadaan manusia yang terlibat bencana atau salah kedaden. Keadaan seperti ini dipandang sukerta, sengsara, dan kotor sehingga memerlukan peruwatan, pelepasan dan pembersihan sehingga dapat mengantarkan ke alam sempurna selanjutnya mampu mengarahkan hidupnya dalam kedudukan sewajarnya.

Untuk pergelaran wayang kulit lakon Murwakala diperlukan perlengkapan sebagai berikut gamelan satu perangkat, wayang kulit satu kotak, kelir dan blencong. Sesajian yang disiapkan antara lain:

  1. Tuwuhan, antara lain terdiri pisang raja setundun, cengkir gadhing/kelapa muda, tebu, daun beringin, daun elo, daun kara, daun kluwih. Kembar mayang, air bunga setaman.

  2. Bara dan ratus wangi (menyan)

  3. Kain mori

  4. Gawangan kelir dihias kain batik lima buah, dilengkapi padi 4 ikat, satu stel pakaian bekas milik yang akan diruwat

  5. Bermacam-macam nasi (nasi golong, nasi wuduk, nasi kuning masing-masing dengan perlengkapannya)

  6. Bermacam-macam jenang

  7. Jajan pasar, misal buah-buahan, makanan kecil

  8. Benang lawe, minyak kelapa untuk menyalakan blencong

  9. Hewan misal burung dara, ayam, bebek masing-masing sepasang

  10. Bermacam-macam rujak dengan perlengkapannya

  11. Sajen buangan

  12. Air sumur atau sendang untuk mandi yang diruwat

Mantra merupakan aspek yang penting dalam upacara ruwatan. Mantra adalah perkataan atau kalimat yang dapat mendatangkan daya gaib. Para dalang ruwat bahkan merahasiakan mantra tersebut. Alasannya kalau diucapkan tidak pada saat ruwatan bisa menimbulkan akibat yang kurang baik. Mengenai mantra ini setiap dalang tidak sama, tergantung kemampuan, pengalaman dan tradisi atau pakem yang dianut. Namun diantara mantra-mantra tersebut yang pokok adalah sastra bathuk (caraka balik), sastra dhadha (sastra bedhati), sastra telak (huruf di langit-langit) dan sastra gigir (huruf di punggung).

Dalam upacara ruwatan dalang merupakan tokoh penting yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pergelaran wayang mau pun bertanggung jawab secara spiritual apapun yang terjadi terhadap pelaksanaan upacara ruwatan. Untuk itu diperlukan syarat-syarat tertentu antara lain sudah lanjut usia (dalam arti telah masak betul pengalamannya), setidak-tidaknya sudah pernah mantu (menikahkan anak). Dalam beberapa adegan pergelaran wayang untuk ruwatan yang penting adalah pecakapan antara Dalang Kandha Buwana dengan Bathara Kala di mana terjadi adu argumentasi. Dalam argumentasi tersebut Dalang Kandha Buwana dapat menjelaskan asal-usul Kala serta membaca tulisan yang terdapat dalam tubuhnya. Kala mengaku kalah dan akhirnya minta diruwat.

Di daerah Surakarta dalang ruwatan bisa dibedakan antara dalang versi Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Dalam upacara ruwatan keduanya sama-sama menggunakan lakon Murwakala, disertai dengan berbagai macam sesaji dan upacara ruwatan dilaksanakan siang hari antara pukul 09.00 – 12.00. Perbedaannya dalang ruwat Kasunanan harus bisa menunjukkan bahwa ia masih “keturunan” dalng Panjangmas, sedangkan dalang ruwat Mangkunegaran tidak harus keturunan dalang Panjangmas yang penting sudah mampu dan matang pengalamannya.

Pelaksanaan ruwatan dewasa ini mengalami berbagai perubahan. Perubahan tersebut dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu:

  1. Perubahan teknis, tokoh wayang yang digunakan yang pokok saja (Bathara Guru, Wisnu, Kala), adegan diperpadat, waktu dipersingkat.

  2. Perubahan sosial, pandangan orang terhadap pergelaran wayang untuk upacara ruwatan saat ini kurang memperhatikan fungsi ritual.

  3. Perubahan pendidikan, adanya bentuk-bentuk pendidikan kesenian baik langsung maupun tidak langsung, sangat mempengaruhi tingkah laku, dan sikap seniman dalang ruwat.

Buku ini juga memuat cerita Murwakala versi Mangkunegaran dan Kasunanan secara ringkas, serta beberapa mantra yang digunakan oleh dalang ruwat versi Panjangmas (Kasunanan) seperti Jantur Wa Kala Mur, Santipurwa, Aksara ig Telak dan versi Mangkunegaran seperti Aksara ing Bathuk, Aksara ing Dhadha (Sastra bedhati), Gumbala Geni, Padusan Kala.

Melalui upacara ruwatan dengan pergelaran wayang kulit dapat terungkap nilai-nilai yang terkandung dalam pola kehidupan masyarakat setempat serta pergelaran tersebut dapat menjadi sarana sosialisai dan pembentukan diri masyarakat yang bersangkutan, dengan berbagai perubahan yang terjadi.[pakdhedar]

~~maztrie~~
Creative Commons License