tangi | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
tangi Reviewed by maztrie on 6:43 AM Rating: 4,5

tangi

DALAM perbendaharan pitutur di Jawa, ada ungkapan berbunyi, ‘’Durung turu yen durung tangi, durung napak lemah yen durung ngrasakake esuk, awan, sore, lan bengi.’’’ Terjemahan bebasnya, belum tidur kalau belum bangun, belum menapak ke tanah kalau belum merasakan pagi, siang, sore,dan malam. Ada lagi begini: ‘’tangeh tangi dibisiki, mokal obah diiming-imingi.’’ Artinya, mustahilbangun dengan bisikan, mustahil bergerak diberi sesuatu yang menarik. Dan satu lagi: ‘’turua kaya turuning tetuwuhan, tangiya kaya angga-angga katekan mangsa ing pabaratan.’’ Artinya, tidurlahseperti tidurnya tumbuh-tumbuhan, bangunlah seperti laba-laba kedatangan mangsa (makanan) didalam pertempuran; di sini kehidupan laba-laba (yang setiap hari hanya menunggu di sarangnya) diibaratkan sebagai ‘’pertempuran panjang’’ dalam mencari rezeki dan menjalani kehidupan.

Dalam lakon Ramayana ada kisah menarik mengenai kasus tangi (bangun) yang khas, manusiawi, dan dapat jadi tepa palupi. Yang paling tragis, agaknya yang dialami Kumbakarana. Adinda Prabu Rahwana ini —meskipun berwujud raksasa— namun hatinya baik, dan tidak menyetujui polah-tingkah sang kakak yang ugal-ugalan sampai mencuri istri orang segala.

Sejak Rahwana menculik Dewi Sinta, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana telah mengingatkan. Mbok sudah, Sinta dikembalikan saja kepada Ramawijaya. Toh, selir Rahwana juga banyak. Apa Alengkadiraja kurang perempuan cantik yang layak jadi permaisuri? Bagaimana kalau Ramawijaya nglurug ke Alengka? Apakah tidak akan terjadi ontran-ontran serta banjir darah yang mengerikan?

Apalagi Sri Rama titisan Wisnu. Di belakangnya pun ada Prabu Sugriwa dengan pasukan keranya yang segelar sepapan dengan senapati-senapati sakti pilih tandhing. Seperti Hanoman, Anila, Jembawan, dan lain-lain.

Namun, ibarat orang turu kepati (tidur nyenyak seperti orang mati) dan tengah mimpi indah, Rahwana bergeming ‘’dibisiki dan diming-imingi kebenaran’ oleh adik-adiknya. Dia pun nekat, hambeguguk nguthawaton. Meskipun Ramawijaya dan balatentara kera dari Pancawati melabrak Alengkadiraja bagaikan air bah, Rahwana tetap mempertahankan Sang Dewi gegantilaning ati. Padahal, terang-terangan

Gunawan Wibisana telah menyeberang menjadi pandherek Rama untuk menghancurkan kezaliman sang kakak. Dia memilih ‘’bangun dengan mata terbuka’’ (dalam arti hidup dalam kesadaranpenuh/tahu mana benar dan salah) walaupun harus berhadapan dengan saudara sendiri dalam peperangan yang menentukan mukti mati seseorang.

Ini beda dari Kumbakarna. Begitu perang berkecamuk, dia memilih tidur. Ambil pusing apa pun yang terjadi. Perang rebutan Dewi Sinta bukan urusannya. Apalagi dia pun merasa tidak bermusuhan dengan Prabu Rama. Tetapi, nasib menentukan lain. Setelah Rahwana keseser dan mulai kehabisan senapati, dia memerintahkan Indrajid membangunkan sang paman. Di samping itu para abdi pun diperintahkan pula menyiapkan hidangan makan yang lezat dan menjadi kareman Kumbakarna.

Ternyata, membangunkan Kumbakarna luar biasa sulitnya. Ia baru dapat disadarkan setelah dicabut wulu-cumbu di jempol kakinya. Setelah bangun, Kumbalarna segera dipersilahkan menyantap hidangan yang tersedia. Dan karena tidurnya memang cukup lama, ia menyerbu hidangan tersebut karena rasa lapar yang tak tertahankan lagi.

Selesai makan, Rahwana pun datang. Di meja makan itu pula ia nantang Kumbakarna yang telah dihadiahi makanan terlezat di Alengkadiraja. Kemudian diceritakan pula bagaimana situasi negara yang tengah mengalami perang besar melawan Prabu Rama. Pendek kata, Rahwana menghujat, menyindir, memojokkan Kumbakarna. Mana balas budi baiknya kepada saudara setelah diberi kamukten selama ini? Masa, saudara punya masalah enak-enak tidur? Apa mau seperti Gunawan Wibisana yang menurut Rahwana jadi pengkhianat itu?

Kumbakarna legeg. Tidur salah, bangun salah. Sejenak ia termangu, menanggagapi kejadian ini. Konon, saat itulah dia menemukan kesadarannya yang kedua. Meskipun telah menyantap hidangan lezat sampai kenyang, ternyata dirinya baru nglilir. Belum benar-benar bangun dan kembali sebagai Kumbakarna asli. Belum kembali menapakkan kaki, mengarungi pagi, siang, sore, dan malam hari.

Maka, setelah menata hati, memusatkan pikiran dan akal budi, Kumbakarna berkata. ‘’Kaka Prabu, yen aku madeg senapati Ngalengka, babarpisan aku ora mbelani Kaka Prabu. Nanging, aku mbelani tanah wutah getihku saka mungsuh kang teka. Embuh mungsuh mau sapa. Aku ora perduli. Saiki uga aku pamit...’’

Akhirnya, Kumbakarna gugur di palagan. Ikut labuh geni jadi bebanten sebagai satria tama. Dibanding Gunawan Wibisana, mungkin Kumbakarna terhitung krinan (terlambat bangun). Tetapi, sumangga dipenggalih kanthi wening lan premati. Gunawan Wibisana sengaja bangun membela kebenaran dan melawan keangkaramurkaaan. Adapun Kumbakarna bangun dan berani mati membela negara dan harga diri pribadi. Memang, tangeh lamun nangekake wong turu kepati yen mung dibisiki utawa diiming-imingi.[pakdheDar]
~~maztrie~~
Creative Commons License