Tokoh Wayang Mahabarata yang kurang dikenal | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Tokoh Wayang Mahabarata yang kurang dikenal Reviewed by maztrie on 5:51 AM Rating: 4,5

Tokoh Wayang Mahabarata yang kurang dikenal

DITYA ANCAKOGRA adalah senapati perang balatentara negara Surateleng pada jaman pemerintahan Prabu Sitija, putra Prabu Kresna, raja negara Dwarawati dengan Dewi Pretiwi, putri Prabu Nagaraja dari krajaan Sumur Jalatunda. Ia tercipta dari bekas tempat sesaji (=ancak-Jawa) yang karena daya kesaktian Cangkok Wijayamulya milik Bambang Sitija, menjelma menjadi makhluk raksasa yang buas dan kejam.

Ancakogra sangat sakti dan menjadi senapati kepercayaan Prabu Sitija. Ia membantu Bambang Sitija merebut negara Surateleng dari kekuasaaan Prabu Narakasura. Ancakogra juga menjadi pemimpin pasukan balatentara negara Surateleng tatkala Prabu Sitija yang sudah bergelar Prabu Narakasura menyerang dan merebut negara Prajatisa/Trajutisna dari kekuasaaan Prabu Bomantara.

Ketika terjadi perselisihan antara Prabu Sitija/Bomanarakasura dengan Prabu Gatotkaca, raja negara Pringgandani yang berkaitan dengan masalah hak pemilikan hutan Tunggarana, Ancakogra mendapat tugas memimpin pasukan balatentara Surateleng dan Prajatisa untuk menyerang negara Pringgandani. Ancakogra tewas dalam pertempuran melawan Gatotkaca. Dadanya hancur terkena hantaman Aji Brajamusti.
Arimbaji
ARIMBAJI adalah putra tunggal Prabu Arimba/Hidimba raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Rumbini. Ketika usianya menginjak remaja, Arimbaji meninggalkan negara Pringgandani pergi bertapa dan mengembara. Sejak itu ia tak pernah kembali lagi ke negara Pringgandani.

Ketika terjadi pergantian tampuk pemerintahan negara Pringgandani dengan pengangkatan Dewi Arimbi menjadi raja menggantikan Prabu Arimba yang tewas dalam peperangan melawan Bima/Werkudara, Arimbaji telah menjadi raja di negara Gowasiluman di hutan Tunggarana. Karena itu ia merelakan tahta dan negara Pringgandani dikuasai oleh Dewi Arimbi.

Prabu Arimbaji menikah dengan gandarwa wanita bernama Dewi Kalaladru. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra yang berwajah sangat menakutkan dan diberi nama : Arya Ajibarang. Prabu Arimbaji tewas dalam peperangan melawan Prabu Bomantara, raja negara Prajutisa. Perperangan terjadi karena Prabu Bomantara ingin menguasai hutan Tunggarana.
Bakasura
PRABU BAKA atau Waka yang dikenal pula dengan nama Bakasura adalah raja raksasa negara Giripura (pedalangan Jawa). Sedangkan menurut Mahabharata, Bakasura adalah seorang raksasa hutan yang karena kesaktiannya berhasil menguasai kota Ekacakra, dan tinggal di sebuah gua diluar kota. Konon ia masih keturunan Bathara Kalagutama, putra Bathara Kala dengan Dewi Pramuni dari Kahyangan Setragandamayit.

Prabu Baka sangat sakti. Berwatak kejam dan bengis. Ia memerintah negara dengan penuh kejaliman, membuat rayatnya menderita Apalagi ia memiliki kebiasaan aneh, gemar memakan daging manusia, yang setiap saat harus dihidangkan oleh para punggawanya.

Akhir riwayat Prabu Baka diceritakan: ia tewas dalam peperangan melawan Bima, salah seorang satria Pandawa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Menurut Mahabharata, Bima dan keempat saudarnya bersama Dewi Kunti tengah hidup menyamar di Ekacakra, setelah selamat dari peristiwa pembakaran Istana Kardus (Balai Sigala-gala), dan bermaksud menolong keluarga brahmana yang putrinya akan dikorbakan untuk santapan Bakasura. Sedangkan menurut cerita pedalangan (Jawa), Bima datang ke negara Giripura untuk menolong Wiku Ijrapa dan putranya, Rawan yang akan dijadikan santapan Prabu Baka

Badrahini


DEWI BADRAHINI adalah seorang hapsari keturunan Bathara Bramana, turun ke-tiga dari Sanghyang Taya, adik Sanghyang Wenang. Ia menjadi istri ketiga dari Prabu Basudewa, raja negara Mandura. Kedua istri Prabu Basudewa yang lain ialah kakak beradik, Dewi Mahira/Maerah dan Dewi Mahindra/ Maekah. Dewi Badrahini mempunyai watak; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun). Dari perkawinannya dengan Prabu Basudewa, ia memperoleh seorang putri cantik bernama Dewi Rara Ireng atau Dewi Sumbadra, yang diyakini sebagai titis Bathari Sri, istri Sanghyang Wisnu.
.
Akibat dari ulah Kangsa, putra Dewi Maerah {Kangsa sesungguhnya putra Dewi Maerah dengan Prabu Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan berhasil menggauli Dewi Maerah) yang ingin merebut tahta kerajaan Mandura dan membinasakan purtra-putri Prabu Basudewa yang lain, Dewi Badrahini terpaksa harus berpisah dengan putri tunggalnya. Demi keselamatan jiwanya, Dewi Sumbadra yang masih kecil harus tinggal di padepokan Widarakandang dalam asuhan Demang Antagopa dan Nyai Sagupi. Setelah Kangsa mati terbunuh dalam peperangan melawan Kakrasana dan Narayana, putra Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Maekah, Dewi Badrahini dapat berkumpul kembali dengan Dewi Sumbadra.

Dewi Badrahini hidup bahagia sampaihari tuanya. Ia meninggal setelah perkawinan Dewi Sumbadra dengan Arjuna, salah satu dari lima satria Pandawa, putra Prabu Pandu, raja negara Astina dari permaisuri Dewi Kunti, adik Prabu Basudewa
Hasti
PRABU HASTI adalah putra Suhotra dengan Dewi Sawarna. Ia naik tahta kerajaan Astina menggantikan kedudukan kakeknya, Prabu Bharata. Pada masa pemerintahannya, Astina berkembang menjadi negara besar. Prabu Hasti juga membangun pusat pemerintahan baru, di lembah yang sangat subur tidak jauh dari daerah Kurusetra.

Prabu Hasti menikah dengan Dewi Yosadari, putri raja Trigarta. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Wikuntama.

Prabu Hasti berumur sangat panjang. Ia mati dalam keadaan bertapa, duduk bermudra di sebuah puri di Kurusetra.
Ijrapa
RESI IJRAPA adalah sesepuh rakyat Giripurwa. Ia mempunyai seorang putra benama Rawan. Rakyat negara Giripurwa pafa waktu itu sedang mengalami ketakutan, karena raja mereka Prabu Baka yang mempunyai kebiasaan aneh memakan daging manusia. Untuk memenuhi kebutuhannya itu Prabu Baka memerintahkan rakyatnya setiap saat mengadakan korban jiwa.
Rawa akhirnya mendapat giliran untuk dijadikan korban.

Dalam persamaan saatnya, Pandwa yang dalam pengembaraan setelah selamat dari kebakaran rumah damar yang mereka tempati di hutan Krumandala dalam pesta rakyat Bale Sigal;a-gala, tiba di negara tersebut dan Bima menyediakan diri untuk menjadi pengganti Rawan.

Akhirnya Prabu Baka dapat dimusnahkan oleh Bima. Sebagai balas jasa terhadap Bima dan Pandawa, Resi Ijrapa dan Rawa berjanji kelak bersedia menjadi tawur Pandawa untuk kemenangannya di dalam perang Barathayuda. Janji itu benar-benar mereka tepati. Menjelang perang Barathayuda, Resi Ijrapa dan Rawan dataing ke perkemahan Pandawa dan melaksanakan niatnya, mati sebagai tawur Pandawa.
Jajagwreka

Yaksa atau raksasa JAJAGWREKA hanya dikenal dalam cerita pedalangan (Jawa). Konon Jajagwreka tercipta dari daya kekuatan Bathara Bayu. Ia berwujud gandarwa, berbudi luhur dan suka menolong. Jajagwreka memiliki 6 (enam) saudara tunggal Bayu – makhluk yang kelahirannya atas daya cipta Bathara Bayu, mereka adalah ; Anoman, Garuda Mahambira, Gunung Maenaka, Gajah Situbanda, Naga Kwara dan Bima.

Jajagwreka muncul dalam lakon ‘Wahyu Makutarama’ sebagai murid Bagawan Kesawasidi di puncak gunung Kutarunggu. Bersama dengan keenam sauadara tunggal Bayu, ia bertugas menjaga keselamatan Bagawan Kesawasidi dan menjaga ketenteraman lingkungan kawasan gunung Kutarunggu dari gangguan prajurit Kurawa yang bertamaksud memboyong Bagawan Kesawasidi ke negara Astina.

Setelah Bagawan Kesawasidi kembali kewujud aslinya sebagai Sri Kresna setelah mengajarkan ajaran Asthabrata kepada Arjuna, Jajagwreka meninggalkan gunung Kutarunggu, kembali hidup bersama golongan gandarwa.
Janaloka
JANALOKA adalah cantrik di pertapaan Andong Sumiwi, dan merupakan orang kepercayaan Bagawan Sidik Wacana. Ketika Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati, putri kembar Endang/Dewi Manuhara dengan Arjuna, akan mencari ayahnya ke kesatrian Madukara, wilayah negara Amarta, Janaloka diperintahkan menyertai kedua putri tersebut.

Sebelum berangkat, Janaloka mengikrarkan sumpahnya di hadapan Bagawan Sidik Wacana. Dengan mempertaruhkan nyawanya ia akan menjaga keselamatan dan kehormatan Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati. Bila ia melanggar sumpah tersebut, ia akan mendapat malapetaka, kehilangan tempat berteduh, kehausan , kelaparan serta mati dicincang orang banyak.

Di tengah hutan Janaloka melanggar sumpahnya sendiri. Ia ingin memperistri Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati. Kutuk pun menjadi kenyataan. empat berteduh dikala hujan dan panas menjadi tumbang, mata airpun menjadi kering dan tak satupun tumbuh-tumbuhan yang ada untuk dimakannya, sehingga mengalami kesengsaraan yang luar biasa.Janaloka akhirnya mati dicincang prajurit Kurawa, yang sedang mencari sepasang patah (pengiring penganten) kembar untuk pelayan mempelai putri sebagai persyaratan rencana perkawinan Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna dari Dwarawati dengan Laksmanamandrakumara, putra Prabu Duryudana, raja negara Astina, yang gagal karena akhirnya Dewi Siti Sundari menjadi istri Abimanyu, puta Arjuna dengan Dewi Sumbadra
Jimambang

DEWI JIMAMBANG adalah putri tunggal Jin Wilawuk, naga bersayap yang menjadi pendeta di pertapaan Pringcendani. Atas usaha ayahnya, Dewi Jimambang berhasil menjadi isteri Arjuna, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Arjuna yang kalah dalam peperangan melawan Jin Wilawuk, akhirnya bersedia diboyong ke pertapaan Pringcendani dan menikah dengan Dewi Jimambang.

Sebagai hadiah perkawinan, kepada Arjuna, Bagawan Wilawuk memberikan sebuah cupu berisi minyak Jayengkaton, yang berkhasiat ; apabila diusapkan pada kelopak mata dapat melihat segala sesuatu yang bersifat siluman ( = alam gaib). Dengan bantuan minyak Jayengkaton , Arjuna dan saudaranya Pandawa dapat menundukkan raja-raja Jin di hutan Mertani.

Dari perkawinannya dengan Arjuna, Dewi Jimambang memperoleh dua orang putra masing-masing bernama ; Bambang Kumaladewa dan Bambang Kumalasakti.
Kanwa
RESI KANWA adalah brahmana dari pertapaan Parwata. Dalam cerita pedalangan Jawa ia dikenal dengan nama Bagawan Jayawilapa dari pertapaan Yasarata. Ia mempunyai seorang putrid tunggal bernama Dew Ulupi/Palupi, hasil perkawinannya dengan seorang hapsari.

Resi Kanwa pernah menolong Ajuna yang dalam keadaan tidak sadar tubuhnya melayang-layang di udara setelah kalah berperang melawan Prabu Pracona, raja raksasa negara Gilingwesi, dan tubuhnya dbuang keluar dari Suralaya. Dengan kesaktiannya Resi Kanwa menarik tubuh Arjuna, jatuh di hadaoannya, dan mengjidupkannya kembali Arjuna dari kematian. Arjuna kemudian dinikahkan dengan Dewi Ulupi, dan berputra Bambang Irawan.

Resi Kanwa berumur sangat panjang. Ia hidup dari jaman Bagawan Abiyasa saat menjad raja negara Astina bergelar Prabu Krisnadwipayana, sampai jaman Parikesit (4 generasi). Ia mati moksa setelah menghadiri penobatan Parikesit menjadi raja negara Astina menggantkan Prabu Kalimataya / Prabu Puntadewa.
Saragupita
ARYA SARAGUPITA adalah patih negara Mandura pada jaman Prabu Basudewa. Ia masih saudara sepupu Prabu Kurandapati, raja negara Widarba, ayah dari Dewi Maekah dan Dewi Maerah – keduanya menjadi istri Prabu Basudewa.

Arya Saragupita berperawakan tinggi besar dan gagah perkasa. Mempunyai sifat dan perwatakan; pemberani, jujur, setia dan sangat berbakti. Selain menguasai ilmu tata pemerintaan dan tata kenegaraan, Saraggupita juga ahli dalam tatagelar perang serta mahir mempergunakan senjata lembing dan gada. Ia menikah dengan Dewi Prabawati, dan mempunyai seorang putra yang diberi nama, Arya Prabawa.

Akhir riwayatnya diceritakan: Arya Saragupita tewas bersama-sama dengan Prabu Basudewa dalam peperangan melawan Prabu Bomanarakasura/ Sitija, putra Prabu Kresna dengan Dewi Pratiwi tatkala raja negara Surateleng/Prajatisa itu menggempur negera Mandura. Jabatan patih negara Mandura kemudian digantikan oleh putranya, Arya Prabawa
Widandini
ARYA WIDANDINI adalah salah seorang dari 100 orang keluarga Kurawa (Sata Kurawa) yang terkemuka. Ia putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa. Dari 100 orang saudaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah ; Duryudana (raja negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Wikataboma, Citraksa, Citraksi, Citraboma,Citrayuda, Carucitra, Dursasana (Adipati Banjarjumut), Durmagati, Durmuka, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, dan Dewi Dursilawati.

Arya Widandini berwatak keras hati, cerdik pandai dan angkuh. Ia pandai dalam olah ketrampilan mempergunakan senjata gada dan trisula. Dengan kesaktiannya ia berhasil merebut negara Purantara dan mengangkat dirinya menjadi raja bergelar Prabu Windandini. Adik kesayangannya Anuwenda diangkat menjadi patih negara Purantara.

Pada saat berlangsungnya peran Bharatayuda, Prabu Widandini diangkat sebagai senapati perang Kurawa dan mengerahkan seluruh balatentara negara Purantara ke medan perang Kurusetra. Prabu Widandini dan Anuwenda tewas dalam peperangan melawan Arjuna.[pakdheDar]
~~maztrie~~
Creative Commons License