Wahyu Jatmika | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Wahyu Jatmika Reviewed by maztrie on 1:30 PM Rating: 4,5

Wahyu Jatmika


Semar, Arjuna, dan Jamus Kalimasada dan senjata Cakra hilang dari Keraton Amarta. Tiba-tiba Begawan Sidik Mercubuwana datang dan ingin menggabungkan negara Amarta, Astina, Dwarawati, dan Mandura menjadi satu. Namun, para raja negara itu tidak setuju terjadi peperangan.Karena kesaktian Mercubuwana, Karajaan Amarta dapat dikuasai dan para Pandawa terpaksa meninggalkan negrinya.

Sementara Begawan Ispadajati dari Sonyaruri menerima Prabu Kresna, Gatotkaca, dan Abimanyu yang disertai para panakawan. Prabu Kresna minta bantuan untuk menghadapi Mercubuwana dan Ispadajati menyanggupi.

Di sisi lain Prabu Jatiwasesa dihadap Wasesajati dari Kerajaan Gedahbantala menerima Mercubuwana yang melaporkan bahwa Ispadajati menjadi jagonya Pandawa. Maka raja berangkat ke Amarta. Peperangan terjadi Mercubuwana melawan Ispadajati, Mercubuwana menjadi senjata Cakra, Wasesajati menjadi Kalimasada, Begawan Ispadajati berubah menjadi Semar
Wahyu Jatiwasesa
Menceritakan tentang wahyu yang membuat siapa pun yang memilikinya akan menurunkan raja-raja yang berkuasa. Wahyu yang disebut Jatiwasesa itu dikuasai oleh Resi Mayangkara, yakni Anoman. Yang berusaha mendapatkan wahyu itu di antaranya adalah para Kurawa dan putra-putra Pandawa. Pihak Kurawa dipimpin Begawan Drona dan Adipati Karna, sedangkan para putra Pandawa diwakili Gatotkaca dan Wisanggeni.

Resi Mayangkara memberi syarat, barang siapa dapat memanah sasaran “mandrakresna” atau sasaran hitam dengan menggunakan gendewa yang tersedia, boleh mengambil Wahyu Jatiwasesa. Ternyata semuanya gagal.

Kegagalan ini tidak membuat Drona berputus asa. Ia berniat mencuri kendaga (peti kecil) tempat penyimpanan wahyu itu. Niat ini diketahui oleh Wisanggeni. Karenanya, Wisanggeni lalu mencipta sebuah kendaga tiruan dan ia masuk kedalamnya. Kendaga tiruan itulah yang akhirnya dicuri Drona.

Sementara itu, Resi Mayangkara memberitahukan kepada Gatotkaca, bahwa yang akan sanggup me-manah “mandrakresna” hanyalah Abimanyu. Ternyata benar. Abimanyu sanggup melepaskan anak panah tepat ke sasaran, dan seketika itu “mandrakresna” berubah ujud menjadi Prabu Kresna, sedangkan gendewanya beralih rupa menjadi Arjuna. Saat itu pula Wahyu Jatiwasesa masuk ke tubuh Abimanyu.

Di Kerajaan Astina, dengan gembira Drona melapor pada Prabu Anom Duryudana bahwa tugasnya berhasil. Dengan bangga ia membuka kendaga tiruan, ... ternyata isinya adalah Wisanggeni. Karena merasa dipermalukan Drona lalu mengutuk Wisanggeni, anak Arjuna itu akan mati muda sehingga tidak sempat menyaksikan Baratayuda.

Sebaliknya, Wisanggeni juga mengutuk Begawan Drona, kelak dalam Baratayuda akan mati berdiri.[pakdhedar]

~~maztrie~~
Creative Commons License