Wahyu Kastuba Urip | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Wahyu Kastuba Urip Reviewed by maztrie on 7:50 PM Rating: 4,5

Wahyu Kastuba Urip


Prabu Kalwasesa dari negara Bumirengka yang ingin bersaudara dengan Dur-yudana, tetapi niat itu membuat marah Adipati Karna sehingga terjadi perselisihan.

Sementara itu di Partapaan Girikembang Begawan Indratenaya memerintahkan anaknya yang bernama Jayalengkara agar mencari Wahyu Kastuba Urip sebagai sarana kembalinya para Pandawa.

Di perjalanan Jayalengkara mendapat pohon besar berdaun satu dan berbuah satu dan disitulah tempat wahyu. Jayalengkara kemudian melepaskan panah pada pohon itu, yang lalu berubah ujud menjadi Rujakpolo, buahnya menjadi Jamus Kalimasada, dan daunnya menjadi keris Pulanggeni.

Di perjalanan Jayalengkara diculik oleh Prabu Kalawasesa. Peristiwa itu segera dila-porkan oleh Petruk kepada Begawan Indratenaya dan terjadilah peperangan antara Kalawasesa dan Indratenaya. Indratenaya kemudian berubah ujud menjadi Arjuna, Kalawasesa berubah menjadi Bima, mahkotanya menjadi Puntadewa dan Sumping menjadi Nakula serta Sadewa, sedangkan Jayalengkara menjadi Angkawijaya
Wahyu Legundi Wulung
Duryudana akan mencari Wahyu Legundi Wulung yang bertempat di Pertapaan Langencipta. Yang berhak menurunkan wahyu adalah Begawan Nirucahya. Sementara raja Tawanggantungan Prabu Gudakumara ingin mengacaukan para raja dan ksatria yang akan mencari wahyu.

Sementara Arjuna dan para panakawan juga mencari wahyu telah sampai di bawah pohon Legundi Wulung. Demikian juga para Kurawa, tetapi Arjuna yang berhasil mendapatkan wahyu, sedangkan Begawan Nirucahya berubah menjadi Prabu Kresna
Wahyu Linggamaya
Negara Astina kedatangan Dewa Katong dan Dewa Kahana yang akan membantu Suyudana untuk membunuh para Pandawa. Sebagai usaha yang pertama adalah membunuh Semar dan Prabu Kresna.

Sementara itu Kresna menerima laporan dari Begawan Drona bahwa di Astina ada Pendeta, tiba-tiba datang Dewa Kahana yang meminta Prabu Kresna hadir di Astina.

Sementara Arjuna menerima wangsit bahwa dewa akan menurunkan wahyu, maka atas petunjuk Semar ia dibawa ke kahyangan karena kebetulan sekarang di Suralaya sedang kosong.

Arjuna menjadi Batara Guru, Gareng menjadi Narada dan Petruk menjadi Yamadipati. Sementara itu Yudistira kehilangan Prabu Kresna, oleh karena dibawa oleh Dewa Katong ke Astina maka Puntadewa berangkat menyusul ke Astina.

Setelah sampai di Astina, Prabu Kresna ternyata akan dibunuh, maka Puntadewa berubah ujud brahala putih, Dewa katong dan Dewa Kahana ketakutan, lalu cepat-cepat pergi menuju ke kahyangan. Dewa Katong dan Dewa Kahana melihat di kahyangan ada Batara Guru dan Narada, maka terjadi peperangan. Batara Guru berubah ujud menjadi Arjuna dan telah membawa Wahyu Linggamaya. Batara Narada dan Yamadipati berbah ujud menjadi Gareng dan Petruk. Dewa Katong dan Dewa Kahana berubah ujud menjadi Batara Guru dan Narada.[pakdhedar]

~~maztrie~~
Creative Commons License