Wahyu Kayu Manik Imandaka | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Wahyu Kayu Manik Imandaka Reviewed by maztrie on 1:27 PM Rating: 4,5

Wahyu Kayu Manik Imandaka


Wahyu ini diterima Pandawa berkat usaha Sadewa. Semula wahyu ini dimiliki Begawan Sukmaningrat dari Guwa Korisanga. Oleh Begawan Sukmaningrat wahyu ini akan diberikan kepada siapa saja yang dapat menerangkan makna Wahyu Kayu Manik Imandaka ini dan sebabnya dimiliki Begawan Sukmaningrat di Guwa Korisanga.

Semula Prabu Boma Narakasura datang dan meminta wahyu itu, berhubung ia tidak dapat menerangkan makna wahyu itu, ia akan memaksa dan membunuh sang Begawan tetapi terkena kesaktian Sukmaningrat dan terpental dari pertapaan.

Selanjutnya Sadewa datang dan dapat mene-rangkan makna dari wahyu itu sehingga wahyu dapat diterimanya. Kayu adalah lambang kehidupan, manik lambang kekuatan, artinya orang hidup hendaknya menjadi memaniking dunia, hal ini bisa terjadi bila memiliki daya yang timbul dari keimanan. Sedangkan Guwa Korisanga (artinya sembilan pintu) yang dimaksud adalah lubang sembilan yang dimiliki manusia.

Setelah Begawan Sukmaningrat berkenan memberikan wahyu, ia kembali ke ujudnya yang asli yakni Sang Hyang Wenang
WAHYU KAYU MANIK IMANDOYO KUMOLO SARI
Di Negeri Dwarawati menerima tamu dari negeri Trajutrisna Prabu Narakusuma yang berkeinginan mencari wahyu penguat negeri, tetapi belum selesai pembicaraannya muncul Pendeta Durna utusan dari Astina untuk meminjam kaca Paesan (cermin) milik raja Dwarawati untuk melihat dimana wahyu akan diturunkan Dewa. Keinginan Durna tak dikabulkan justru menjadi pertengkaran, yang akhirnya Pendeta Durna dan pengiringnya diusir dari Dwarawati.

Rombongan Pendeta Durna tidak kembali ke Astina, tetapi menghadap Batari Durga di kahyangan Kondowaru untuk menanyakan dimana wahyu berada. Setelah mendapat keterangan Batari Durga, Durna dan rombonganya menuju ke pertapaan Guwa Pintu tempat bersemayamnya Begawan Sukmaningrat. Sementara itu R. Sadewa dihutan bertemu seekor Harimau putih jelmaan Batara Kamajaya yang membeberkan isi teka-teki Begawan Sukmaningrat agar Sadewa mampu menebak dan memiliki wahyu yang akan diturunkan Dewa. Maka R.Sadewa pergi menuju pertapaan Guwa menghadap Begawan Sukmaningrat dan mengutarakan maksud dan tujuan ia menghadap sang Begawan.

Setelah R.Sadewa mampu menjawab teka-teki yang diajukan sang Begawan, akhirnya R.Sadewa berhak menerima wahyu tersebut setelah memberikan wahyu tersebut kepada R.Sadewa, Begawan Sukmaningrat yang ternyata Sang Hyang Wenang kembali ke Kahyangan. Dengan memiliki wahyu, R.Sadewa kembali ke Amarta namun diperjalanan ia bertemu dengan R.Sutejo yang meminta agar wahyu diberikan, tetapi dipertahankan maka terjadilah perkelahian keduanya, dan R.Sadewa melarikan diri, tetapi Pendeta Durna menghadang dan merebut wahyu yang dimiliki R.Sadewa. Dengan memiliki Wahyu dengan jalan merampas dan merebut, atas kehendak dewa Pendeta Durna menjelma menjadi seekor babi hutan dan ketika para Kurawa mencari pendeta Durna diberitahu pendeta Durna dimangsa babi hutan yang ada didepannya. Akhirnya babi hutan jelmaan Durna dikejar akan dibunuh oleh para Kurawa dan melarikan diri masuk istana Amarta untuk menyerahkan diri dan mengembalikan wahyu kepada R. Sadewa. Setelah wahyu diserahkan dan mohon ampun atas segala kesalahannya, pendeta Durna beralih rupa seperti sediakala, tetapi tiba-tiba datang Kresna yang beralih raksasa untuk merebut kembali wahyu untuk diserahkan kepada R.Sutejo. Prabu Puntadewa yang berwatak jujur sangat marah dituduh pihak Pandawa merampas wahyu yang bukan miliknya, akhirnya Puntadewa karena amarahnya membuat dirinya berubah ujud menjadi raksasa besar, namun tak ada yang kalah dan menang. Melihat situasi ini, diturunkanlah dewa ke bumi untuk melerai peperangan dua raksasa, melihat kehadiran Sang Hyang yang menjelma dan masuk ke sukma Kyai Semar yang memberitahu kepada Batara Kresna bahwa yang berhak memiliki wahyu adalah R.Sadewa karena R.Sadewalah yang mampu memenuhi syarat-syarat yang diajukan Dewa dan R.Sadewalah yang menerima langsung wahyu dari tangan dewa yang bertugas menurunkan wahyu. Melihat kekeliruannya, Prabu Kresna meminta ma'af ke pihak Pandawa, karena telah bertindak salah tanpa ditelusuri dulu kebenarannya.

Maka dengan berdiamnya wahyu di istana Amarta negeri menjadi aman, tenteram dan damai.[pakdheDar]

~~maztrie~~
Creative Commons License