Wahyu Tirta Manik Mahadi | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Wahyu Tirta Manik Mahadi Reviewed by maztrie on 2:34 PM Rating: 4,5

Wahyu Tirta Manik Mahadi


Para Pandawa meninggalkan Ngamarta, Abimanyu diserahi ememgang pemerintahan.

Patih sangkuni mengambil kesempatan baik mengusulkan agar Suyudanamenyuruh prajurit Ngastina untuk menguasai Ngamarta. Raja Suyudana setruju , tetapi Basukarna tidak menyetujuinya. Brahmana Kestu datang di Ngastina akan membatu rencana penyerangan negara Ngamarta. Basukarna panas hatinya. Brahmana Kestu ditarik dibawa ke alun-alun dan dihajarnya. Brahmana Kestu mengambil pusaka Manik maninten dipukulkan kepada Basukarna. Basukarna menjadi arca. Arca dibuang , jatuh di Amarta.

Prajurit Kurawa bersama Brahmana Kestu menyerang negara Ngamarta.

Patih Sengkuni bisa menemui para putra Pandawa (Abimanyu, gatotkaca, Antarja, Wisanggeni, Prabakusuma). Sengkuni dengan gaya marah para Pandawa diminta menyerah dan akan dipenjara di Ngastina. Gatotkaca melawan, Sengkuni mundur keakutan. Kartamarma melawan gatotkaca , terjadilah perang hebat. Brahmana Kestu tampil ke depan. Abimanyu, gatotkaca, Antarja, Prabakusuma dan Irawan berubah menjadimenjadi arca karena kesaktian pusaka manik maninten. Wisanggeni bisa meloloskan diri, lari ke hutan. Negara Ngamarta dikuasai Kartamarma dan dibantu Brahmana Kestu.

Wisanggeni tiba di Gua Windu bekas kerajaan Wisakarma. Di gua itu terdapat pakaian Hyang Guru. Pakaian disembah lalu dibawa pergi, di hutan berjumpa Arjuna di hutan. Arjuna menjawab, bahwa sedang mencariw ahyu. Wisanggeni menyarankan agar Arjuna mau mengenkan pakaian Sang Hyang Guru yang dibawanya. Arjuna menurut anjuran Wisanggeni. Arjuna menyembah, lalu mengenakan pakaian sang Hyang Guru, dan naik tahkta di Kahyangan.

Wisanggeni mencari Puntadewa, Bima, Nakula dan sadewa. Mereka ditemukan di gunung Himawan. Mereka sedang berkumpul dan berunding akan mencari Wahyu Tirta manik mahadi (air manikam sangat indah). Wisanggeni menyarankan agar Puntadewa dan Bima pulang ke Amarta, sebab negara Amarta dikuasai Kartamarma. Para Pandawa telah menjadi arca. Mendenagr kata-kata Wisanggeni itu Bima bangkit marahnya.

Bima masuk istana Ngamarta dan mengamuk, tetapi kemudian menjadi arca karena kesaktian pusaka manik maninten. Puntadewa melihat sejumlah arca bangkit amarahnya seketika triwikrama berubah menjadi raksasa besar lagi dasyat, mengaku bernama dewa Amral. Brahmana Kestu dikejar hendak ditelannya. Brahmana Kestu hendak menggunakan pusaka, tetapi terlebih dahulu terkena aji gelap sayuta. Brahmana Kestu hanyut terbawa angin topan. Setelah jatuh ke bumi Brahmana Kestu akan bersembunyi ke guwa Windu, berganti pakaian. Tetapi pakaian telah tiada lalu kembali ke kahyangan.

Brahmana Kestu dikeroyok oleh para dewa. Brahmana Kestu tidak mampu melawan serangan para dewa, lalu turun ke dunia, berjumpa dengan Dewa Amral, dan pergi ke Dwarawati. Brahmana Kestu mionta tolong agar dimabilkan pakaiannya. Raja Dwarawati mau menolong bila diberi upah Tirta Manik Mahadi beserta kendi Pratala. Raja Dwarawati menyuruh agar Dewa Amral menolong. Dewa Amral bisa merebut pakaian Sang Hyang Guru. Arjuna menampakkan diri dan menghormat. Pakaian diberikan kepada Brahmana Kestu . Dewa Amral menerima tirta Manik Mahadi . Para putera Pandawa dan basukarna serta Bima disiram Tirta Manik mahadi dan kembali ke asal mula. Tirta Manik mahadi menyembuhkan orang sakit, menghapus rasa susah dan memberi ketentraman dunia.

***

Wahyu ini berupa air yang dapat menyembuhkan orang sakit, menghapus rasa susah dan memberi rasa ketentraman. Semula wahyu ini dimiliki Batara Guru tetapi akhirnya diberikan kepada Prabu Puntadewa .

Semula Batara Guru menjelma menjadi seorang pendeta di Astina dan berusaha membunuh para Pandawa. Dengan kesaktiannya para putra Pandawa dan Bima dibuat tak berdaya, semua jadi arca.

Hal ini menimbulkan kemarahan Prabu Puntadewa sehingga ia bertriwikrama atau merubah wujudnya menjadi raksasa besar dan akan membunuh Batara Guru.

Karena ketakutan Batara Guru akan kembali ke Kahyangan Jongringsaloka dan terlebih dahulu akan ke gua dimana ia menyimpan pakaiannya. Namun pakaian Batara Guru terlebih dahulu ditemukan Arjuna dan menggantikan Batara Guru di Kahyangan Jonggringsaloka. Dengan demikian pada saat Batara Guru asli tiba di kahyangan ditolak para dewa dan diusirnya. Pada saat akan kembali di dunia mendapat ancaman dari Puntadewa, akhirnya minta perlindungan pada Prabu Kresna.

Atas saran Prabu Kresna Batara Guru dengan memberikan Wahyu Tirta Manik Mahadi kepada Puntadewa ia dapat memperoleh kedudukannya kembali di Kahyangan Jonggringsalaka, selanjutnya Arjuna mengembalikan pakaian Batara Guru dan Puntadewa kembali ke ujudnya yang asli.