Yang Diuja dan Diuji | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Yang Diuja dan Diuji Reviewed by maztrie on 1:33 AM Rating: 4,5

Yang Diuja dan Diuji

ORANG bilang yang terjadi sekarang ini adalah wolak-waliking zaman, tetapi kok sejak zaman kuno-makuno para priyayi panggah kepenak hidupnya -malah kepara diuja, boleh korupsi semaunya- sementara wong cilik, pidak pedarakan, panggah ora kepenak hidupnya. Karena itu, ngelmu yang mereka kembangkan adalah ngelmu beja, biar miskin asal bahagia.

Memang sih, diuja itu tidak selalu buruk. Ada yang berhasil mengaktualisasikan potensi-potensinya semaksimal mungkin -itulah sebabnya kenapa sistem kepengajaran kita sekarang disebut "kurikulum berbasis kompetensi"- potensi yang diaktualisasikan. Itu butuh suasana bebas, mardika, "leisure", yang konon ujar Joseph Pfieper "is the basis of culture". Sayang kata "diuja" sendiri mengandung maksud "dimanjakan", "apa-apa diperbolehkan", "permissive". Akibatnya anak-anak jadi tidak punya disiplin. Dalam ungkapan Ki Sastrapustaka, jiwanya tidak "nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuh". Motivasinya lembek, sementara "self controle"nya lembeeek buanget.

Inilah yang terjadi pada Lesmana Mandrakumara. Dasar anak ratu, apa-apa diladeni. Jadi ya "umpak-umpakan". Bilung yang paling suka. Waktu Lesmana Mandrakumara matur sama bapaknya Prabu Suyudana "nyuwun dhaup", Bilung kasih imbuhan: "Sama Pergiwa-Pergiwati sekaligus!". Lesmana tidak sempat olahraga, olah rasa. Jauh dari tapa brata. Jadi ya tidak sakti sama sekali, tidak digdaya!

Ini juga terjadi pada Samba, putra Sri Bathara Kresna yang "sekti mandraguna, mukti wibawa" itu. Dasar bagus tongkrongannya, ia cuma nunut kesaktian ayahnya. Akhirnya tidak pernah olah kasekten. Boro-boro "grandeur", "greatness", efektif saja -seperti yang dikemukakan oleh Stephen Covey- pasti tidak. Akibatnya cuma tapa ngrowot satu hari sudah masuk angin. Butuh jamu tolak angin! Belum lagi ayahnya amat protektif. Apa-apa dilarang, nanti jatuh. Sebenarnya dia sih tidak diuja, tapi diaja. Apa-apa aja (boleh juga ditulis dengan "ojo" - ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh, seperti wewaler dari Mangkunegara).

Ini lain dari Abimanyu, anak Arjuna dengan Subadra. Sejak kecil memang sudah suka "lelunga teki-teki/cegah dhahar lawan nendra". Biasa prihatin, tirakat. Dasar tedhak-turun-nya wong agung. Tetapi gagal ikut-ikut ayahnya jadi lelananging jagad. Sewaktu merayu Dewi Utari, Abimanyu berbohong, ngaku masih bujangan, padahal sudah punya istri. Abimanyu sampai sumpah: "Kalau saya bohong, saya bakal mati dalam Baratayuda dengan luka seribu luka!". Amit-amit. Bapaknya tidak usah pakai sumpah saja perempuan-perempuan itu sudah klepek-klepek kok (!). Abimanyu memang gentur tapanya, disiplin bolehnya olah keprajuritan. Tidak mengherankan bila dia lulus berbagai macam ujian, dari godaan raksasa lawamah, bidadari supiah, sampai ke napsu amarah.

Bener. Menjelang Bharatayudha, ketika putra itu pada bertapa mohon anugerah dewata. Siapa yang bakal memperoleh Wahyu Cakraningrat, panetep siapa yang bakal jadi raja Astinapura kelak setelah perang. Lesmana "diuja" itu nggak kuat akan goda, begitupun Samba "diaja" itu, tak berdaya melawan goda. Cuma Abimanyu yang tahan uji karena sejak dari sononya memang selalu "diuji". Memang sih ada yang curiga bahwa seluruh lakon ini telah dirancang (baca: konspirasi) antara Kresna dan Arjuna. Jadi, setelah Bharatayudha, Astinapura bakal jatuh ke tangan tedhak turun-nya Arjuna; tapi pesan moralnya jelas: Hanya mereka yang tahan uji seperti Abimanyulah yang bakal dapat Wahyu Cakraningrat!

Tapi masalah segera muncul: "Lha wong cilik, sudra, pidak pedarakan yang selalu diuji terus-menerus itu, selalu tirakat dan prihatin, apakah kelak juga bakal dapat Wahyu Cakraningrat?!" "Genah iya gitu lho," jawab Bilung, "Sekarang ini hanya rakyat yang punya wewenang untuk menentukan siapa bakal jadi presiden republik. Ini negeri demokrasi, Bung. Suara rakyat, suara Tuhan!". Weleh. Weleh. Weleh. Dahsyatnya Bilung. Tapi pada tataran historis-empiris bagaimana?!

Itulah batu ujian kita. Benarkah rakyat yang diuji itu kelak bakal teruji? Sesudah biasa tirakat, prihatin, kena busung lapar, lumpuh layuh, demam berdarah, flu burung, kesabet borax & formalin, di Jember bahkan kebanjiran lumpur, di Banjarnegara kelongsoran gunung -apa mereka bakal "mukti" pada hari kemudian?! Kembali Bilung njenggeges: "Elho. Yang diuji itu wejangan dari nenek moyang kita: Hanyakra manggilingan! Kalau sampai kiamat insan-insan akar rumput tu panggah di bawah terus, yang gagal tu ya kebijaksanaan warisan nenek moyang kita! Makanya apa yang disebut 'local wisdom' itu jangan diyakini kayak pegang ayat-ayat suci. Mesti dikritik! Jangan-jangan yang benar tu wejangan "sing mlarat tambah mlarat, sing sugih tambah mblegedhu!". Blais ane!

Mula ta mula, jangan lupa nasihat dari Raden Mas Panji Sosrokartono: Guru, muride pribadi/Murid, gurune pribadi/Piwulange sengsaraning sesami/ Pituwase aruming sesama", gitu. Zaman Kalabendu itu, seperti yang ditulis oleh Raden Mas Ngabehi Ranggawarsita, bakal malih jadi zaman Kalasuba. Percayalah! Kembali Bilung bisik-bisik di balik saka guru joglo dalem Randujapan: "Jangan-jangan yang bener itu 'yang diuja sansaya nggladrah, sing diuji sansaya ngemut driji."

Sebuah epitaf di sebuah kuburan tua di Yogya berbunyi: "Saya suwe saya abot urip neng donya, ning Gusti maringi aku kabejan lolos ing saben ujian".

Source