Bima Bothok [Wayangan Jumat Legen Putaran Ke12] | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Bima Bothok [Wayangan Jumat Legen Putaran Ke12] Reviewed by maztrie on 1:19 AM Rating: 4,5

Bima Bothok [Wayangan Jumat Legen Putaran Ke12]

Di Kerajaan Manahilan atau sering disebut juga kerajaan Ekacakra bertahtalah seorang raja raksasa yang masih ganas, bernama Prabu Dawaka atau Prabu Baka. Pada setiap bulan sekali Prabu Baka minta kepada rakyatnya untuk menghidangkan hidangan istimewa berupa ingkung manusia (daging manusia utuh) Tentu saja hal tersebut membuat rakyatnya hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Banyak diantara mereka yang secara diam-diam mengungsi ke negara Pancala untuk meminta perlindungan. Suasana di Ekacakra semakin sepi. Di sana-sini banyak dijumpai rumah tak berpenghuni.

Mengetahui keadaan yang seperti itu, Prabu Baka marah-marah. Ia menyerukan agar semua penduduk tidak boleh meninggalkan negara Manahilan. Bagi yang melanggar perintah tersebut akibatnya akan lebih mengerikan. Sejak perintah diberlakukan, penduduk Manahilan tidak ada lagi yang berani mencoba meninggalkan negerinya yang tidak ia senangi.
Di wilayah Giripurwa, yang masih berada dalam kekuasaan Manahilan, hiduplah seorang petapa atau Resi yang bernama Hijrapa. Ia hidup bersama isteri dan tiga anaknya. Di dalam himpitan rasa cemas dan takut, keluarga Resi Hijrapa mampu mengekspresikan perasaan gembira ketika kedatangan tamu istimewa, yaitu Dewi Kunti dan ke lima anaknya. Kedatangan para kesatria pewaris tahta Hastinapura tersebut mampu memberi rasa tenang dalam jiwanya. Sebagai tanda terimakasih karena terbebaskan dari rasa cemas dan takut, keluarga Resi Hijrapa menjamu para tamunya dengan sebaik-baiknya. Kunthi sendiri merasa tidak enak karena ia dan anak-anak

menjadi beban keluarga Resi Hijrapa. Namun Kunthi mencoba menghilangkan rasa tidak enak tersebut, karena bagaimanapun juga ia dan kelima anaknya terutama si kembar Nakula dan Sadewa yang masih kecil, perlu untuk tinggal sementara waktu di Giripurwa yang merupakan daerah terpencil, untuk menenangkan diri, dari rasa trauma sehabis peristiwa yang menimpa Bale sigala-gala.

Beberapa hari setelah Kunthi dan Pandawa tinggal di Giripurwa, ada seorang Resi dari pertapaan Andongcinawi, bernama Janadi bersama putrinya Endang Manohara, menemui Resi Hijrapa. Ia berkeluh atas sikap Resi Janaka kakaknya yang ingin mengawini Endang Manohara, anaknya. Keprihatinan Resi Janadi dikarenakan Endang Manohara tidak mencintai, dan tidak mau dikawin oleh Pakdenya Sedangkan Resi Janaka memaksa kehendaknya untuk mengawini keponakannya. Resi Janadi tidak kuasa mencegah niat Resi Janaka Kakaknya. Ia kalah dalam berperang adu kesaktian, maka akhirnya ia melarikan diri bersama Endang Manohara menuju Giripurwa.

Mendengar pengaduan Resi Janadi kepada Resi Hijrapa, Permadi atau Harjuna putra Dewi Kunthi nomor 3 terpanggil untuk membela yang teraniaya. Ia menawarkan diri untuk menghadang Resi Janaka yang inging memaksa Endang Manohara. Belum lama Permadi meninggalkan Giripurwa, untuk menemui Resi Janaka, datanglah utusan dari Prabu Baka untuk mengingatkan bahwa dua hari lagi Resi Hijrapa mendapat giliran untuk menghidangkan anaknya kepada Prabu Baka.

Resi Hijrapa tidak bisa menolaknya, ia sangat sedih. Pada malam harinya Sang Resi memanggil isteri dan ketiga anaknya. Ia mengatakan bahwa besok lusa, salah satu anaknya harus dikorbankan untuk makanan Prabu Bapa. Rawan anak nomor dua menyatakan sanggup untuk dikorbankan. Dengan alasan jika yang dikorbankan kakaknya bapaknya pasti sangat sedih karena anak sulung tersebut sangat dicintai bapaknya. Demikian pula jika yang dikorbankan adiknya, ibunya akan sangat berduka, dikarenakan ibunya sangat mencintai anak bungsu tersebut. Dengan pernyataan Rawan tersebut, Resi Hijrapa dan isterinya sangat terpukul hatinya. Betapa selama ini tanpa disadari pasangan tersebut telah melakukan tindakan yang tidak adil bagi anak-anaknya. Tangis haru keluarga Resi Hijrapa memecah sepinya malam. Kunti terjaga dan tanpa sengaja mendengar apa yang dibicarakan Resi Hijrapa sekeluarga. Hanya Bimasena satu-satunya yang dapat menolong keluarga tersebut, demikian pikir Kunthi. Malam itu juga Kunthi membangunkan Bima untuk meminta pertolongan atas kesulitan keluraga Resi Hijrapa.

Lega hati Kunthi tak terkira, mendengar bahwa anaknya yang gagah perkasa bersedia menolong keluarga Resi Hijrapa, alih-alih sebagai balas jasa atas kebaikan keluarga Resi Hijrapa.

Dari kesediaan Harjuna untuk menolong Endang Manohara dan kesediaan Bima menolong Resi Hijrapa keduanya membuahkan hasil Resi Janaka yang ingin memaksakan kehendak kepada Endang Manohara dikalahkan Permadi. Suksma Resi Janaka nitis menjadi satu dengan Permadi. Mulai saat itu, Permadi juga disebut Janaka. Atas keberhasilannya, Resi Janadi memberi anugerah kepada Permadi yaitu berupa: Kuda Ciptawiloho, Cemeti Kyai Pamuk dan Panah Baleragas. Selain itu Permadi juga mengawini Endang Manohara yang jatuh cinta kepadanya.

Keberhasilnya Permadi diikuti oleh keberhasilan Bimasena. Setelah dengan tekad bulat Bima sanggup dihidangkan kepada Pabu Baka, Resi Hijrapa mengolesi sekujur tubuh Bimasena dengan bumbu bothok. Didampingi oleh Rawan anaknya, Resi Hijrapa menghidangkan Bimasena beserta beberapa gerobak nasi kepada Prabu Baka. Melihat hidangan Bima yang dibothok. Prabu Paka sangat gembira. Namun ketika hidangan tersebut mulai disantap, dan daging Bima digigit, gigi Prabu Baka patah. Maka marahlah raja raksasa yang ganas itu. Namun Bima tidak mempunyai rasa takut sedikitpun. Dilawanlah Raja raksasa yang telah memakan banyak korban tersebut. Sampai akhirnya pusaka Kuku Pancanaka yang dimiliki Bimasena mampu menembus jantung Prabu Baka. Dan berakhirlah riwayatnya. Para perajurit lari ketakutan. Rakyat Manahilan yang telah lama teraniaya dan hidup dalam ketakutan kini hidup bebas lepas dari rasa cemas dan takut.

Cerita wayang Jumat Legen putara ke 12 yang dipentaskan pada hari Kamis 11 Juni 2009 mulai jam 20.30 di Rumah Budaya Tembi, bertutur tentang pembebasan bagi yang teraniaya yang dilakukan oleh kedua kesatria Pandawa, Permadi dan Bimasena. Ki Kiswan Dwi Nawaeka dalang dari Ngambah, Mulyodadi Bambanglipuro Bantul, berhasil membawakan cerita tersebut dengan segar. Sebelumnya, Ni Susanti dari Terong II Dlingo, Bantul, dalang putri cilik yang masih duduk di V SD mementasan fragmen Wahyu Cakraningrat. Pentas wayang rutin setiap malam Jumat Legi tersebut hasil kerjasama antara Radio MBS, Jogya TV, Pemda Bantul, Pepadi Komba Bantul dan Rumah budaya Tembi.[TEMBI]

~~maztrie~~
Creative Commons License