kreteg | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
kreteg Reviewed by maztrie on 2:40 AM Rating: 4,5

kreteg

DALAM cerita Ramayana terdapat sebuah peristiwa yang menarik untuk tepa-palupi, yaitukisah penyeberangan Ramawijaya ke Alengkadiraja dalam lakon Rama Tambak. Sumangga dibayangkan. Tanpa Prabu Rama dan balatentara kera dari Sukowati berhasil nambak Bengawan Silugangga, rasanya mustahil mereka menyerbu Alengkadiraja. Karena jelas mereka tidak mungkin menyeberangi bengawan sebesar itu secara lelawaran atau membuat jembatan, uwot, atau titian. Betapa dahsyat perjuangan di sana sampai-sampai tidak lengkap rasanya menikmati epos Ramayana tanpa menyimak dengan seksama penyeberangan besar dan kolosal ini. Soalnya, dalam hidup keseharian ini kita sering menjumpai keadaan yang hakikatnya mirip seperti yang melatarbelakangi peristiwa Rama Tambak. Akan tetapi, rasanya keinginan tersebut tidak mampu diwujudkan. Ibaratnya: kepengin mabur ora duwe swiwi, kepengin nyabrang bengawan ora bisa nglangi.

Rasanya mustahil Ramawijaya berhasil menyeberang tanpa bantuan pasukan kera yang ribuan jumlahnya itu. Nah, misalnya kula-panjenengan yang punya idam-idaman semacam dirasakan Prabu Rama, padahal kita hanya titah sawantah, ijen tanpa rowang, apa yang harus diperbuat? Mungkinkah jembatan itu dapat dibuat begitu saja? Rasanya mokal, dan ngayawara. Seandainya nekat, sama halnya dengan soroh amuk. Paribasan wong wuta nyasak ombaking samodra. Di dalam oleh filsafat kejawen, orang Jawa mengenal tiga macam kemampuan manusia untuk menangkap dan mengolah kasunyatan, yaitu, melalui cipta (akal/rasio/pikir/penalaran), kemudian karsa (kehendak), dan rasa (intuisi/rasajati).
Di sini, kasunyatan yang dimaksud adalah mengandung unsur-unsur suwung, temen, nyata (hampa, benar, dan nyata). Dengan kata lain, kasunyataan adalah kebenaran. Karena itulah, siapa pun yang pernah mendaki sampai ke puncak gunung akan selalu terperangah dan nglumpruk melihat dan merasakan kasunyatan di sana yang sangat ngedab-edabi. Ternyata saat di puncak gunung itu, kita tetap jauh dengan langit. Di sana pun tidak terdapat jembatan untuk menyeberang (meniti) ke puncak-puncak gunung lain.

Rasanya pun juga mustahil dibangun jembatan raksasa semacam Suramadu atau kabel ban yang menghubungkan puncak Gunung Merapi dan Merbabu. Sampai di pinggang gunung, jika kita mencermatinya dengan seksama, burung juga sudah langka. Demikian pula sato kewan, dan gegremetan lain. Artinya, apabila kita berada di puncak gunung sama halnya telah berada ”di atas” habitat burung. Karena itulah, di sana tidak ada jalan lagi untuk melanjutkan langkah kita, kecuali turun kembali ke bawah; ke arah kasunyatan hakiki yang dapat kita miliki dan terjangkau sebagai titah sawantah ini.
Kasunyatan adalah realitas tak terbantah. Karena itu, jika ingin mengalahkan kasunyatan yang demikian besar, yang mungkin ndrawasi, dan bisa jadi mbilaeni, orang Jawa pasti akan mengingatkan: ”Mbok dipun panggalih rumiyin. Sampun kesesa, mbujeng pangangen-angen ingkang dereng temtu saged karegem kenceng.” Mengapa demikian? Karena yang disebut galih hakikatnya adalah inti atau pusat yang terdalam. Artinya, menggalih merupakan penggunaan rasa yang dipercaya kekuatannya lebih tinggi daripada rasio atau nalar kita. Di sini, dengan arif orang Jawa menyadari bahwa di dalam diri kita penuh dengan keinginan-keinginan beraneka yang sangat berbahaya jika diuja begitu saja. Seperti unen-unen: ”angkara gung ing angga anggung gumulung.”Perbuatan: ”nyabrang bengawan”, atau mabur menyang puncaking gunung”, mau tidak mau harus diperhitungkan masak-masak. J

angan sekadar: kaduk wani kurang deduga. Misalnya, dari posisi wong cilik ongklak-angklik ingin menjadi penguasa (orang besar yang berpangkat). Bagaimana caranya? Adakah jembatan yang dapat memudahkan sampai ke sana? Tentu saja ada. Akan tetapi, ya harus dicari, kalau sudah ditemukan, dibangun sedikit demi sedikit. Dibuat sekuat mungkin, dicoba, kalau rusak diperbaiki. Dan yang lebih penting lagi, menyiapkan batin dan fisik untuk menjalani laku yang akan ditempuh. Soalnya, dengan sebatang bambu orang bisa menyeberangi sungai. Dengan sepercik nyala api, orang bisa memperoleh jalan setapak dalam kegelapan hingga berkilometer-kilometer jauhnya. Dengan menyambung huruf demi huruf, kata demi kata, orang dapat menciptakan dokumentasi kebudayaan manusia. Alat yang dapat dijadikan jembatan ada di sekitar kita. Mulai dari yang remeh-temeh hingga yang terkesan canggih dan kokoh. Hanya, untuk memilih dan menentukan mana yang cocok, diperlukan proses khas Jawa yang diwariskan oleh para winasis kita, yaitu: neng-ning-nung-nang. Apa pun yang akan ditempuh harus dipikirkan dengan tenang (meneng) lebih dulu.

Melalui ketenangan batin itu akan tercapai kebeningan (ening), sehingga mampu berpikir dan merasakan dengan baik (anung), sehingga menghasilkan nang (kemenangan). Orang miskin, ingin punya rumah, jembatannya antara lain harus memiliki uang untuk beli rumah. Jadi, sebelum punya rumah bekerja keras supaya punya uang yang halal, adalah benar. Tetapi, jika mencarinya itu dengan merampok, korupsi, cari pesugihan, tentunya jembatan seperti tidak akan murakabi tumrap bebrayan agung (seperti Suramadu) karena diam-diam kita telah menebar duri di depan telapak kaki sendiri. [pakdhedar]
~~maztrie~~
Creative Commons License