Tragedi Gendari tanpa Klimaks | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Tragedi Gendari tanpa Klimaks Reviewed by maztrie on 5:18 AM Rating: 4,5

Tragedi Gendari tanpa Klimaks

Ia buta. Rambut putihnya memanjang. Ia membawa tongkat kayu yang tak lurus. Itulah Destarata. Penampilan penari alusan Sulistyo Tirtokusumo sebagai Destarata yang tak bisa melihat itu cukup kuat. Destarata hadir di antara para prajurit Kurawa yang tengah berlatih. Walau singkat, penampilan Sulistyo turut memaknai pementasan Gendari.

Di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu 8/6 malam lalu, koreografi Gendari karya Elly Luthan kembali dipersembahkan. Ini bukan karya baru Elly. Karya itu pertama kali dipentaskan pada 2002. Bila dulu Gendari adalah koreografi tari yang pekat, kali ini agak cair, antara lain berkat peran serta produser Bram Kushardjanto, yang melibatkan paguyuban ibu-ibu Surabaya dan Jawa Timuran, yang biasa meludruk.
Mulanya pada awal pertunjukan ini muncul beberapa penari dari kelompok Sahita Solo di panggung. Kita tahu, ini strategi untuk melumerkan penonton karena anak-anak Sahita itu terkenal dengan kemampuan bercandanya. Ibu-ibu paguyuban Jawa Timuran itu bergabung dengan mereka, lalu panggung menjadi ruang keseharian yang penuh guyon. Sahita terlihat sebagai pemegang kendali.
Para ibu itu "gojekan" dan menari. Tampak gerak badan khas tari Pakarena dari Makassar, juga sepakan kaki ala tarian Dayak, Kalimantan. Menurut Elly, ada pula unsur tari Minang yang dimasukkan. Slamet Rahardjo kemudian masuk panggung. Ia menembang. Musik gamelan Jawa pimpinan komposer Blacius Subono mengiringi tembang ini.
Sebagai pembuka, mengantar ke arah inti pertunjukan, humor ibu-ibu ini menyenangkan. Tapi sayang, porsinya terlalu lama. Kisah Gendari, sebagaimana kita tahu auranya, adalah tragedi. Ia diambil dari epos Mahabharata. Gendari gagal menjadi istri Pandu, yang ia cintai. Gendari diserahkan untuk dikawini kakak Pandu, Destarata yang buta. Dalam amarah, Gendari lalu mengandung seratus bayi. Merekalah para Kurawa, yang kelak darahnya bertumpahan di medan Kurusetra.
Elly mengangkat kegetiran Gendari. Gendari adalah sosok perempuan dalam kepasrahan atau justru sosok yang menolak garis nasib. Elly ingin mengangkat sisi-sisi kemanusiaan Gendari: kepedihannya sebagai seorang ibu dan kesabarannya dalam menahan derita bahwa ia berada di pihak hitam. Selama ini tradisi kita, bagi Elly, terlalu memihak kepada sisi-sisi Pandawa, serta melupakan pergolakan jiwa Gendari.
Panggung ditata sederhana. Bagian yang paling menarik adalah ketika munculnya Sulistyo Tirtokusumo. Penari senior ini tidak banyak bergerak, ia hanya berdiri. Tak ada tari tunggal atau duet yang diperlihatkannya. Ia seolah hanya menatap dengan mata batin para prajurit yang bermain-main tongkat dengan berbagai variasi blocking. Ia seolah menangkap adanya firasat-firasat buruk yang bakal dilakoni para prajurit itu.
Bagian lain yang terbagus adalah ketika para penari perempuan menari dengan mata dibebat kain hitam. Di sini Elly mampu memetaforakan, baik kebutaan Destarata maupun takdir pahit yang bakal menyeret Gendari dan anak-anaknya. Para perempuan dengan mata tertutup secarik kain hitam itu lalu naik ke paha prajurit, dan berdiri menantang ke depan.
Seharusnya bagian ini yang mendapat porsi besar dalam koreografi pada malam itu. Bagian ini adalah bagian yang bisa menjadi titik yang menyeret penonton ke suasana pedih. Bagian ini bila diperpanjang bisa menjadi satu-kesatuan dengan adegan saat para prajurit Kurawa meraung-raung. Seorang prajurit (diperankan oleh penari Jarot B. Darsono) bahkan meraung-raung sampai turun ke kursi penonton dan ke luar gedung pertunjukan. Raungannya bahkan masih terdengar sayup-sayup ketika ia sudah berada di luar gedung pertunjukan.
Elly tampaknya harus mengadopsi keinginan produser, hingga pasrah dengan manajemen gedung yang tak memberi waktu adaptasi bagi para pemeran, karena butuh dana untuk tambahan waktu sewa gedung. "Idealnya, ada waktu pengendapan sehari sebelumnya," kata dia. Memang pertunjukan ini cukup lancar, meski ia tampak kerepotan mengatur ritme dan tempo pertunjukan. Bagian awal amat cair dan lama, menjadikan bagian tengah yang penting itu sampai-sampai terasa kurang porsinya. Walhasil, malam itu tragedi Gendari tanpa klimaks. Ibnu Rusydi dan Seno Joko Suyono [tempo]