wot kejujuran, jembatan keteguhan | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
wot kejujuran, jembatan keteguhan Reviewed by maztrie on 6:15 AM Rating: 4,5

wot kejujuran, jembatan keteguhan

TAK sekadar sebagai wot besar penghubung perjalanan, jembatan juga merupakan titik jumpa. Di kreteg-lah yang agal dan yang alus, yang rasional dan irasional, bersua. Di sanalah aneka kemungkinan bisa terjadi, termasuk insiden yang mencelakakan, sehingga tak jarang kepastian mesti dipertaruhkan, juga kejujuran. Kalau saja ada jembatan atau sekadar wot, tentu perjalanan para Keting untuk ngunggah-unggahi Andheandhe Lumut takkan berpenghalang. Namun kali yang akan mereka lewati sedang banjir, sehingga perjalanan mereka tertahan.”Untunglah” ada Yuyukangkang. Makhluk yang dalam berbagai drama Jawa kerap kali ditampilkan dalam paras dan perilaku tak elok itu merelakan diri untuk menyeberangkan perawan-perawan yang tampil dalam performa tercantik mereka. Namun buat makhluk berjenis laki-laki seperti dia, tentu tak ada pertolongan yang bersifat gratis. Dia mau menyeberangkan Keting Abang, Keting Ijo, dan Keting Biru.
Paling tidak, ciuman mesti dia dapatkan dari ketiganya.Demi sebuah obsesi besar untuk berjumpa dan sekaligus menaklukkan cinta sang lelenanging jagad Andheandhe Lumut, putri-putri cantik itu rela melepaskan kehormatan masing-masing. Itu pula yang kemudian menjadi titik lemah mereka di mata Andheandhe Lumut sehingga tak lolos saat ”audisi”.Pilihan sikap lain, sekalipun menghadapi tantangan yang sama, justru ditunjukkan oleh Keting Kuning yang berangkat paling belakang. Dia juga harus mampu melalui kali tanpa wot, tanpa kreteg, yang sedang banjir.
Ada pula Yuyukangkang yang beberapa saat sebelumnya telah berhasil memperdaya saudara-saudara tua Keting Kuning.Namun Keting Kuning justru kukuh. Dia kukuh untuk bisa segera menyeberangi kali, meski tanpa wot, namun sekaligus kukuh untuk mempertahankan kehormatannya dari tangan jahil Yuyukangkang. Dengan sada lanang, senjata anugerah dewa, dia justru mampu mengendalikan Yuyukangkang. Kekukuhan macam itu pula yang kemudian menjadi modal besar untuk menaklukkan cinta Andeande Lumut.Kejadian serupa para Keting juga dialami oleh Kumbayana dalam cerita pewayangan.
Tergesa-gesa dia menuju ke Negeri Astina agar bisa menjadi guru para kstaria. Namun di tengah jalan, dia terhalang sungai yang sedang meluap airnya. Sayembara pun terucap dari mulutnya, ”Barangsiapa bisa menyebarangkanku, jika laki-laki akan kudaku sebagai sedulur sinarawadi, jika perempuan akan kujadikan istri.”Seketika hadir di hadapannya seekor kuda. Betina! Kepada Kumbayana ia menawarkan jasanya.
Memang, dalam sekejap kuda yang tak lain adalah jelmaan Dewi Wilotama itu berhasil membawa Kumbayana ke seberang kali. Namun untuk semua itu, Kumbayana yang kelak berjuluk Pandhita Drona harus memperistri kuda betina hingga nanti beranak Aswatama, ksatria yang dalam wayang purwa digambarkan berkaki kuda.Rama TambakLain Keting Kuning, lain Drona, berbeda pula Wibisana dalam epos Ramayana. Sebagai adik kandung Rahwana, kehadirannya di tengah-tengah bala Rama sudah pasti memantik kecurigaan, lebih-lebih Sugriwa. Karena itu, kepada Rama, dia meminta agar Wibisana menunjukkan kejujurannya dengan membangunkan jembatan yang menghubungkan antara Pantai Maliawan dan pesisir negeri Alengka.Dengan kesaktiannya, yang disebutnya sebagai pertolongan dewa, dalam sekejap Wibisana berhasil mewujudkan sebuah jembatan panjang yang tak lain berupa tambak.
Namun Sugriwa merasa belum cukup semua itu sebagai tanda kejujuran. Menurutnya, belum terbukti kekuatan tambak itu. Padahal, Rama memiliki ribuan prajurit kera. ”Kalau tambak itu tidak kukuh, akan binasalah prajurit kera ke laut. Kita akan ditertawakan rakyat Alengka, karena tertipu oleh Wibisana,” kata Sugriwa, sebagaimana ditulis oleh Sindhunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin.Karena itu, Sugriwa mengusulkan Anoman untuk menguji jembatan tersebut. Rama menyetujui dan kera putih nan sakti itu pun bertindak. Anoman terbang. Dari sebuah ketinggian, putra Anjani itu mengerahkan Aji Wundri. Terjunlah dia dengan daya tujuh gunung seribu gajah. Jebol serta berantakanlah tambak Wibisana karenanya.Hampir saja Sugriwa melampiaskan amarahnya kepada Wibisana. Untunglah Anoman justru yang mencegah. Kepada pamannya itu dia menyakinkan bahwa tidak layak jika kejujuran diukur dengan kegagalan.
Kejujuran harus diterima dengan kepercayaan saja, sekalipun nafsu perang memang bisa membutakan segala-galanya.Begitu berartinya jembatan dalam dunia pewayangan, baik yang bersumber dari Mahabharata maupun Ramayana. Ketiadaannya bisa menjadikan seseorang menjadi tampak kukuh pada pendirian, tapi di sisi lain ambisi untuk memenangi ”pertarungan” kerap kali melindih nilai-nilai yang mestinya dijunjung tinggi. Pada setting waktu yang lebih baru, betapa bisa disaksikan bahwa jembatan atau wot sekalipun, tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur transportasi. Jembatan, bagi segenap warga desa, kerap kali menjadi titik temu untuk menjunjung tinggi keguyubrukunan lewat gugur gunung untuk mendandani atau membangunnya.
Kemegahan jembatan tak jarang sebagai penanda kemajuan sebuah desa, sebaliknya ketiadaannya menunjukkan adanya ketertinggalan.Pembangunannya juga kerap kali diwarnai berbagai isu hangat. Mulai dari rivalitas antarindividu atau kelopok yang terlibat sampai hal-hal yang sering disebut irasional. Bukankah hingga beberapa tahun yang lalu, isu adanya culik yang siap menggondol anak-anak untuk dijadikan tumbal pembangunan jembatan masih sering terdengar.Memang, hingga kini pun sejumlah jembatan masih saja dilekatkan dengan hal-hal yang bersifat mistik, bahkan horor. Sampai sekarang, di sejumlah jembatan masih bisa ditemukan sesaji.Di Jembatan Silugangga, Juwana, Pati, misalnya, masih bisa dijumpai rombongan calon pengantin yang melepaskan ayam hidup dari atas mobil yang mereka tumpangi demi harapan akan keselamatan.
Begitu pula para pengendara sepeda motor atau mobil tak lupa membunyikan klaksonnya ketika melewati jembatan tertentu. Ya, jembatan memang menjadi titik sua, dari yang agal sampai yang alus, dari yang rasional sampai yang irasional, dari yang kukuh sampai yang mudah goyah, juga yang jujur dengan yang munafik.Konon, sebelum menuju alam yang kekal, manusia juga mesti meniti wot ogal-agil, yakni sebuah jembatan yang jauh lebih tipis daripada sehelai rambut dibelah tujuh. Ya, sirathal mustaqim. [
suaramerdeka]
~~maztrie~~
Creative Commons License