Guyu | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Guyu Reviewed by maztrie on 6:07 AM Rating: 4,5

Guyu

SEMUA orang pasti tidak akan lupa. Sejak 80-an, di akhir film humornya Warkop DKI, pasti tertulis pesan: ‘’tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.’’ Tentu kita juga sudah mafhum. Pesan unik itu adalah kritik sosial mereka terhadap praktik politik Orde Baru, yang mulai tidak main-main dalam memainkan kendali.

Begini dikekang, begitu ditendang. Salah-salah tertawa pun akan dilarang jika membahayakan kekuasaan. Tetapi, bagaimana Dono-Kasino-Indro bisa punya pendapat seperti itu? Bahwa tertawa mungkin saja dilarang? Pernahkah terjadi, pada zaman kapan misalnya, tertawa itu dilarang? Jawabnya, Dono-Kasino-Indro bisa mengutarakan seperti itu karena mereka orang Jawa. Esensi pesan tersebut pun jelas dipungut dari celah lembar halaman sejarah kehidupan orang Jawa. ‘’Lho!? Ah, yang bener? Masa iya di Jawa pernah terjadi larangan tertawa? Sampean jangan ngawur, jangan ngaco! Jangan mendiskreditkan orang Jawa. Mana buktinya...’’ Mungkin, begitulah komentar seseorang yang cethek pikiran dan wawasannya saat mendengar pandangan dan sikap hidup orang Jawa ‘’seakan-akan’’ disamakan dengan pandangan dan sikap pemerintah yang streng dan kaku waktu itu.

Tetapi, nuwun sewu, di Jawa memang ada ‘’arangan tertawa’’ itu. Buktinya, ada tiga unen-unen begini: geguyon parikena, geguyon dadi tangisan, dan guyon maton. Geguyon parikena artinya, bercanda atau berkelakar yang mengarah pada tujuan tertentu yang disamarkan (sindiran). Adapun geguyon dadi tangisan artinya, semula bercanda akhirnya banyak yang menangis. Mengapa demikian, karena geguyon tadi kebablasan membuat banyak orang tersinggung, sakit hati, sehingga menimbulkan pertengkaran. Kemudian guyon maton, artinya berkelakar yang beralasan, atau punya landasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Lebih jauh lagi, di Jawa ada unen-unen lain yang sangat tepat untuk menjelaskan, pandangan di atas, yaitu: ‘’aja ngomong waton, nanging ngomonga nganggo waton.’’ Jangan asal bicara, tetapi bicaralah menggunakan alasan (landasan) yang jelas. Nah, kalau ngomong saja ada aturannya, tentu yang namanya guyu (tawa), ngguyu (tertawa), geguyon (bercanda/berkelakar) juga demikian.

Terus terang, di Jawa, sikap dan polah tingkah tidak boleh sembarangan. Artinya, tertawa atau bicara, sebagai cara mengekspresikan pikiran dan perasaan manusia, serta cara berkomunikasi pada sesama, memang tak pernah dilarang. Namun, bagi orang dewasa, tertawa atau bicara harus empan papan. Menyesuaikan dengan keadaan, menyesuaikan dengan kepantasan. Di sinilah dhodhok selehing larangan tadi. Orang Jawa harus pandai-pandai membaca, mengenal situasi, dapat manjing ajur ajer (menyatu menyesuaikan diri), menggunakan tatakrama, tepa salira, dalam setiap tindak perbuatan kita. Artinya, tertawanya tidak salah, wong tertawa itu manusiawi. Tetapi, apa yang ditertawakan, atau menertawakan ‘’apa’’, itu yang kadang dinilai kurang tepat menurut adat budaya Jawa.

Dulu, ketika SMP, saya dan beberapa teman laki-laki melihat kancing baju seorang ibu guru terbuka. Karena tidak tahu, beliau pun juga tidak merasa risih dan tidak segera mengancingkannya. Padahal, kami sempat melihat sekilas-sekilas apa yang tersembunyi di baliknya. Seperti kebiasaan anak-anak, kami bergerombol, membicarakannya dengan berbisik, dan cekikikan menertawakannya. Saking asyiknya menikmati tontonan tersebut, tahu-tahu Pak Mangun (Wakil Kepala Sekolah) sudah di belakang kami, langsung menjewer telinga saya dan bertanya dengan suara sember. ‘’Le, kowe ki dha nggeguyu apa, ta? Cekikan kok ora uwis-uwis...’’Karena teman-teman bungkam, saya pun ikut bungkam. Akibatnya, jeweran di telinga bukannya mengendor, melainkan makin ditarik dan mulai dipuntir. Melihat saya peringisan, teman-teman bukannya membela, tetapi malah menutup mulutnya menahan tawa. Gila betul!

Maka, daripada kelamaan kena jewer saya beranikan menjawab pertanyaan Pak Mangun. ‘’Anu...Pak. Itu...kancing baju Bu Pami lepas....’’ Lalu apa kata Pak Mangun? Sambil memelototi kami semua, beliau menasihati dengan ketus. ‘’Bocah wis padha gedhe ora ngerti tatakrama!’’ Mendengar kata-kata seperti itu, teman-teman langsung menunduk. ‘’Kuwi mbok anggep tontonan? Iya? Mbok anggep lelucon, nganti mbok geguyu kaya ngono? Hayo, jawab!’’ Tanpa menunggu hardikan selanjutnya, saya segera menjawab singkat: ‘’Bukan, Pak. Kami...kami salah. Kami minta maaf.....’’ Singkat cerita, Pak Mangun menunjuk salah satu teman, Prastowo, untuk memberitahu Bu Pami. ‘’Sekarang, sana Prastowo memberitahu Bu Pami. Mau tidak?’’ Sambil menjawab mau, Prastowo lari mendekat Bu Pami. Apa yang dikatakan, saya tidak mendengar. Yang jelas, setelah diberitahu Bu Pami segera mengancingkan bajunya. Sejenak wajahnya memerah, tetapi selanjutnya seperti tak pernah terjadi apa-apa lagi.Di Jawa, guyu, ngguyu, tidak ada yang mengganggu gugat. Namun, untuk geguyon dan utamanya: nggeguyu, ada saru-siku yang harus dijadikan pedoman ketika melakukannya. [pakdhedar]
~~maztrie~~
Creative Commons License