Para Pandawa | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Para Pandawa Reviewed by maztrie on 12:05 PM Rating: 4,5

Para Pandawa

Jarang tulisan yang membahas republik wayang dikaitkan dengan manajemen usaha apalagi negara, padahal menarik sekali mencermati sifat para Pandawa kalau dikaitkan dalam kenyataan yang ada.


Kita mengenal Yudistira, sisulung, yang begitu penyabar dan pengayom maka memang cocok dia sebagai pucuk pimpinan yang membawahi semua saudaranya. Memang sih pernah terpeleset saat main judi, tapi gimana lagi ya .. hobby sih.

Pandawa kedua namanya Bima dengan tubuh tinggi besar ini cocok sebagai mentri pertahanan, selain kuat dan waspada serta sifat yang berangasan juga punya anak yang lengkap, ada angkatan udara [Gatotkaca], angkatan laut [Antasena] dan gerilya [Antareja, karena bisa masuk tanah lalu muncul disuatu tempat], sedang Bima sendiri berfungsi sebagai angkatan daratnya.

Ranking ketiga mas Arjuna dengan kepandaian merayu dibutuhkan menjadi menteri luar negeri, banyaknya istri juga mengikat hubungan keluarga dan memperbaiki hubungan negara, selain itu dia juga punya akses ke Dewa di Kahyangan sebagai “Super Power” dunia wayang, klop sudah fungsinya, sebagai duta besar dan punya saham ditiap negara.

Nah Nakula ini dikenal sebagai Pandawa yang paling tampan dan jujur walau sering membanggakan ketampanan nya, fungsinya lebih kearah menteri dalam negeri yang membuat negara dalam keadaan damai , rakyatnya manut ... biasanya kalau pimpinannya wajahnya tampan pasti banyak yang milih seperti banyak foto caleg dijalanan yang di modif berwajah “baik”.

Kemudian Sibungsu Shadewa ini dikenal sangat pintar, ini merupakan “think tank” /menristeknya para Pandawa, bisa meramal masa depan dengan kepandaiannya di ilmu perbintangan yang dikuasainya, jadi Shadewa cocok menjadi planner, yang membuat langkah-langkah kedepan apa saja yang harus dilakukan kakak-kakak nya dalam menjalankan tugas.

Kalau dipandang dari sisi negara, semua fungsi bisa dibilang sudah tercakup semua ... menjelang perang Bharatayudha dan pengangkatan Kresna sebagai konsultan, dilihat bahwa fungsi angkatan laut dan gerilya kurang berguna, lha perangnya saja dimedan terbuka Kurusetra kok, maka dengan segala cara biar tampaknya “adil” dan penghematan dana maka Antareja dan Antasena di “tiadakan” saat mau perang bharatayudha... fungsi angkatan laut dan gerilya dihilangkan, ini juga sebagai taktik manajemen .. perampingan dan efisiensi biaya dan sumber daya wayang [bukan sumber daya manusia lho].

Kelihatannya suatu negara yang ideal ya, sayangnya ini terjadi di Republik Wayang ... saingannya Republik Mimpi. [ topmdi ]
~~maztrie~~
Creative Commons License