WAYANG GAUL DAN JARAN THEK DI TEMBI | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
WAYANG GAUL DAN JARAN THEK DI TEMBI Reviewed by maztrie on 2:33 AM Rating: 4,5

WAYANG GAUL DAN JARAN THEK DI TEMBI

Bunyi suling yang seakan menjerit tajam, bersama irama tabuhan yang rancak, memecah keheningan malam selepas isya. Sesekali terdengar bunyi cambuk yang beradu dengan batako, cetaaar... Empat orang remaja berpakaian hitam meloncat kesana kemari sambil menunggang kuda kepang di halaman depan komplek Tembi Rumah Budaya. Mereka menari beriringan membentuk lingkaran. Kemudian tampil bocah-bocah yang masih duduk di Sekolah Dasar, yang bergerak luwes dan lincah.

Secara keseluruhan, kesenian jaran thek dari Ponorogo ini tampil dengan atraktif. Gerakannya variatif dan dinamis. Mereka bergerak maju maupun mundur. Diselingi gerak silat dan adegan tarung. Beberapa pemain terkesan kesurupan dan dipulihkan oleh pawangnya. Seorang pemain meledakkan tawa penonton dengan gaya yang seenaknya. Ia memanjat pohon di pojok halaman, dan hilang di rimbunan daun. Sang pawang pun menyusul, dan menyuruhnya turun. Pemain ini juga memeragakan salto yang ciamik.

Di Ponorogo, menurut salah seorang personilnya, jaran thek merupakan kesenian yang terpinggirkan, kalah pamor dengan reog. Maka kelompoknya mencoba mengangkat kesenian ini dengan modifikasi tertentu dari kacamata anak muda.

Usai penampilan jaran thek selama hampir satu jam, ganti wayang gaul tampil. Disebut wayang gaul karena bergaya populer dengan dialog sehari-hari khas remaja. Meski ceritanya masih mengambil dari pakem Mahabharata, yakni saat Pandawa dan Kurawa belajar pada Dorna, namun situasinya mencerminkan masa kini.

Pada masa belajar itu tampak perbedaan sikap dan perilaku antara Pandawa dan Kurawa. Pandawa rajin dan serius belajar, sedangkan Kurawa berpolah seenaknya. Dalam pentas ini, Kurawa diwakili oleh Duryudana, Dursasana dan Citraksi, yang bermata melotot dengan wajah tengadah.

Saat ujian tiba, Pandawa dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Sedangkan Kurawa kelimpungan. Malah menggunakan handphone untuk bertanya. Maka Kurawa pun gagal lulus. Penggambaran perilaku dan dialog Kurawa dalam pementasan ini segar dan jenaka.

Muncul pula Karna yang ingin ikut bertanding melawan Arjuna. Kemampuan Arjuna memanah diimbanginya dengan baik. Sebagai anak kusir, Karna dilarang menjadi murid sekolah pilihan Dorna. Duryudana lantas mengangkatnya sebagai ksatria sehingga kasta mereka sama. Adegan ini ditutup dengan tulisan ’bersambung’ di layar.

Malam itu, 10 Juli, Kampung Halaman, Komunitas Belajar dan Bermain Anak Tembi (Kobate), dan Komunitas Ho’e mementaskan kreasi anak-anak muda dari Dusun Tembi Bantul dan Desa Singgahan Ponorogo.

Pentas Kobate ini merupakan kelanjutan dari pembuatan film dokumenter ‘Wayangku Mencari Soulmate’ yang difasilitasi Kampung Halaman. Dalam film ini para remaja berterus terang menyatakan ketidaktertarikan mereka pada wayang. Selanjutnya, mereka membuat wayang sesuai imajinasi mereka sendiri.

Figur wayang yang ditampilkan malam itu bukan wayang kulit tapi wayang yang terbuat dari kasa. Bentuknya direka menurut imajinasi para remaja ini. Diukir sederhana dan ditempel kertas warna-warni. Saat ditampilkan di layar, cahaya lampu menembus kasa sehingga membentuk siluet hitam. Namun warna-warni kertasnya masih tampak, memberi aksen yang menarik. Wayang ini tidak hanya menghadap ke samping tapi juga ke depan.

Wayang dimainkan oleh beberapa orang sekaligus. Satu orang memegang satu wayang --ada yang lebih. Mereka juga mengisi vokal. Di belakangnya seorang dalang menuturkan narasi cerita.

Pementasan wayang berdurasi 30 menit ini masih belum membangun ketegangan, lebih pada penggambaran suasana anak muda sehari-hari. Tapi modalnya sebagai tontonan cukup besar, tinggal disempurnakan pada olah vokal, dinamika alur dan gerakan wayang. Kreasi budaya anak-anak muda ini menarik dan asyik, wajib dilanjutkembangkan. [tembi ]