Agar Urip Tidak Keblondrok | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Agar Urip Tidak Keblondrok Reviewed by maztrie on 6:17 AM Rating: 4,5

Agar Urip Tidak Keblondrok

HIDUP sungguh tiada beda dari dol-tinuku. Kadang bathi, namun tak jarang pula merugi. Bathi dan rugi tidak hanya ditentukan oleh kecakapan saat dodolan tetapi juga kejelian saat kulakan. Bathi juga tidak hanya bisa ditakar dari selisih angka kulakan dan dodolan, tetapi juga dari kesanggupan untuk aweh atau kemampuan untuk memberi.
Boleh jadi lebih banyak yang mengira bahwa keberhasilan dodolan itu hanyalah berupa kesuksesan untuk menangguk untung ketika barang atau jasa yang ia jajakan laku terbeli.
Boleh jadi pula keberhasilan terpenting dalam dol-tinuku itu dimengerti hanya berada pada ‘’titik’’ menjual. Padahal, sejatinya tidak.Orang bisa jualan karena ia dapat kulakan. Kulakan yang baik akan menjadikan jualannya baik pula. Sebaliknya, kulakan yang buruk muskil akan berujung pada jualan yang baik. Itulah hukumnya.
Lebih tepatnya alur kausalitas dol-tinuku.Jika hendak diperterang lagi, tak mungkin seseorang pandai menjual kalau ia tak memiliki kepintaran membeli buat kulakan. Kulakan tidak asal kulakan, bukan waton kulakan, melainkan kulakan yang mawa waton.
Di kalangan pedagang di wilayah Kebumen, pernah dikenal ungkapan magang beras. Ini adalah aktivitas kulakan beras. Bila hendak magang beras, isuk umun-umun (pagi-pagi sekali) harus sudah sampai di tempat magang. Bukan di pasar tradisional seperti pada umumnya, melainkan sebuah tempat khusus yang menjadi ajang bertemunya pedagang yang hendak kulakan beras.
Mengapa harus datang pagi-pagi sekali..? Dengan datang gasik, para pengulak bisa lebih dahulu candhak kulak adol prungu. Mereka akan lebih leluasa untuk memilih barang yang hendak dikulak itu sekaligus menerapkan prinsip ‘’ana rega ana rupa’’.
Ya, itu karena nantinya beras yang dijual bermacam-macam. Harga yang akan disematkan bakal bergantung pada kualitas tiap-tiap beras.Jika pilihan sudah dijatuhkan, jika soal harga telah tersepakati, penjual akan mendapatkan girik dari pengulak. Girik itulah yang menjadi ‘’surat sakti’’ buat mengirimkan berasnya ke toko atau warung pengulak.
Begitu pula hidup, ‘’capaian keuntungan’’ sekarang tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan untuk unjuk diri saat ini, melainkan yang jauh lebih penting adalah kepintaran dan ketepatan ketika ‘’kulakan’’. Lagi pula, selain menjalankan dengan tepat, setiap orang hendak kulakan harus memiliki modal. Bukan hanya bandha nekad. Bukankah ini sejalan benar dengan ungkapan ‘’amek geni adedamar, golek banyu apikulan warih’’.Tidak hanya menerapkan ‘’ana rega ana rupa’’ tetapi setiap orang yang kulakan harus ‘’pinter milih barang sing apik, regane sing murah’’. Ada barang bagus tetapi tidak pintar memilih, juga sama saja. Begitu pula pintar memilih barang apik tetapi harganya tidak ‘’bagus’’, sungguh tiada beda. Itu keblondrok namanya
Ya, tidak ada yang lebih menyakitkan dalam candhak-kulak dol-tinuku kecuali mengalami apa yang disebut keblondrok. Bagaimana dengan hidup yang keblondrok..? Sungguh jauh lebih menyakitkan!
Menata DodolanSebagaimana urip, yang semuanya mesti ditata, begitu pula dodolan. Setelah kulakan, kewajiban setiap bakul adalah mendasarkannya. Ia mesti menyesuaikan dodolan dengan wadah yang dimiliki. Barang harus ditata dengan baik sehingga membangkitkan minat pembeli. Meski demikian, tidak semua harus didasarkan. Mesti disesuikan dengan panggonan. Yang tersimpan baru disok jika dasarannya berkurang.
Wadah kulakan tentu berbeda dari wadah untuk dodolan. Misalnya kulakan roti mari pakai blek rapet, dodolan-nya pakai blek kaca. Tidak hanya dimasukkan, tetapi juga ditata agar menawan. Roti yang ‘’ayu’’ ditata sehingga menjadi mainan mata.
Tak hanya itu, setiap bakul harus ingat bahwa ‘’bakul ora nggragas, ora kepingin mangan barang sing didol’’. Harfiahnya, bakul tidak tamak, tak ingin makan barang yang dijual.
Memang kerap kali terjadi, terutama para bakul anyaran, untuk segera menikmati jualannya. Di sinilah kiranya pelajaran untuk menahan diri, untuk tidak keselak muluk bisa dipetik untuk menegakkan urip. Ya, tidak mudah tergoda untuk melik yang melok.Orang dagangan itu memang dhuwite akeh, tetapi jangan pernah menganggap itu uang sendiri. Sebagai orang tua, dia juga harus bisa ngandhani anak-anaknya bahwa golek bathi iku saka sithik. Yang kasat mata itu tidak langsung mendadi duweke lan hake, sebab bakul harus bisa membayangkan bahwa dari penjualan dua juta, hanya sekian ribu rupiah saja yang menjadi haknya. Jika silau, keselak muluk, tunggu saja kebangkrutannya.
Orang dodolan itu tidak makjegagik jadi besar. Segala sesuatu dibangun dari kecil. Justru yang tiba-tiba menjadi besar, biasanya ora langgeng, tapi justru biasanya cepat kukut-nya.Angger MurahBetapapun harus diingat bahwa pembeli adalah raja. Pembeli juga tidak (semuanya) bodoh. Ada yang berprinsip angger murah, tetapi tak kurang pula yang berpegangan kacek sithik ning barange luwih apik.Karena itu, njupuk bathi aja kakehan. Sacukupe wae. Sebab, pedagang yang hanya ngawula bathi akan dititeni pembeli. Kesetiaan pembeli justru mesti dipelihara. Dengan layanan prima, baik materi, ulat, dan tempat yang nyaman untuk disambangi, makin terbangunlah loyalitas pembeli.
Demi pembeli agar tidak lari, tak jarang memilih ngempit, yakni mengambil barang yang diinginkan pembeli dari dasaran pedagang lain. Jadi tak harus komplet dagangannya ketika modal cupet. Namun untuk itu, bakul harus mempunyai wawasan yang luas, harus tahu toko siapa yang dodolan barang yang dicari pembeli. Dengan begitu justru bakul tersebut bisa ‘’bathi ora modhal’’ karena tidak ada bakul ora bathi.
Bagaimana jika ada pembeli yang ‘’rewel’’? Jangan dilawan, jangan disepelekan, tapi perlu tetap diladeni dan dipuaskan. Betapapun itu aset. Menjengkelkan apa pun, kalau dilayani mungkin sekali yang model cerewet macam begitu akan berbagi cerita kepada yang lain. Wong sing sengitan wae isa seneng, apamaneh sing ora....
Hal lain yang hampir selalu dihadapi adalah orang utang. Untuk yang ini, harus pilah-pilih, mana yang utangnya bener dan yang tidak bener.
Bebakulan juga kadang menghadapi wong ngemplang. Namun terhadap yang seperti ini tak perlu gentar. Sebab, kalau sudah berani ngemplang, pasti tidak akan berani datang lagi. Orang ngemplang sebenarnya nutup dalane rejeki, nutup dalane silaturahmi.
Yang juga tidak boleh dilupakan oleh bakul adalah aweh kepada pembeli setianya. Setiap waktu, pada saat menjelang Lebaran misalnya, ia harus memberikan hadiahSuatu ketika ada orang membeli barang yang tidak ada di toko itu.
Begitulah kira-kira pelajaran urip dari orang berburu bathi dengan candhak kulak dol tinuku. Ya, urip yang bukan sekadar urip, apalagi urip-uripan, melainkan urip yang nguripi dengan ngempakake dayaning urip. Bukan jenis urip yang keblondrok. [suaramerdeka]