Kepemimpinan Nom-noman | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Kepemimpinan Nom-noman Reviewed by maztrie on 5:43 AM Rating: 4,5

Kepemimpinan Nom-noman

SUMANTRI Ngeger, kita tahu, adalah lakon populer dalam jagad pewayangan bagi penampilan pemimpin baru yang didukung kecerdasan, kedigdayaan, pengabdian, ketahanan terhadap ujian, dan kesetiaan.
Tradisi demikian menjadi bagian dari kisah-kisah rakyat tetang kelahiran kepemimpinan muda, seperti halnya legenda-legenda di sekitar Ajisaka, Anglingdarma, Bandungbandawasa, Damarwulan, dan Panembahan Senapati. Kenaikan tokoh muda ke paggung kekuasaan, sering menjadi tema-tema perbincangan menarik, yang secara politik dan kultural banyak dituangkan dalam karya-karya wiracarita tradisional. Kisah-kisah itu menjadi bagian dari proses-proses pendidikan umum, perkembangan nilai-nilai kepahlawanan, dan rasa cinta Tanah Aair dalam tradisi masyarakat Jawa.
Orang Jawa teramat sadar tentang apa arti kebudayaan dalam kehidupan mereka. Sebagaimana banyak diketemukan dalam kehidupan mereka yang bersifat keseharian, orientasi budayanya suka mengaitkan kejadian-kejadian di sekeliling dengan ungkapan-ungkapan moral dan budi pekerti, terutama dengan menukil karya-karya tentang moral atau peribahasa yang menarik.
Karena itu para pujangga, wali, atau tokoh kharismatik yang intelek, menjadi sangat dekat dengan mereka. Hal itu melahirkan pola hidup praksis yang mendapatkan polesan tradisi besar. Dalam melihat kehidupan, pengaruh kesusastraan yang mengandung ajaran moral dan adanya simbolik wayang menyebabkan mereka mempunyai suatu pandangan mengenai hakikat hidup yang lebih matang, yang bertumpu kepada rasa.
Gatutkaca Winisuda, Tumuruning Wahyu Cakraningrat atau Jumenengan Parikesit, merupakan contoh lakon yang sering dipergelarkan dala pertunjukan wayang kulit, dan ditonton dalam kaitan suatu spirit kultural. Tokoh muda diposisikan sebagai ksatria yang gagah berani, bila perlu menempuh kontroversi dalam kebenaran, darma dan penentangan terhadap ketidakadilan. Seperti diperlihatkan melalui ketajaman-ketajaman dialog dalam lakon Laire Wisanggeni. Wacana darma seperti itu mencuat dalam representasi Serat Tripama tentang keperwiraan Kumbakarna, Patih Suwandageni, dan Adipati Karna. Bahkan, Rama Kawya mengajarkan jalma-di martotama, tentang 2 model darma ksatria yang kontroversial dalam menghadapi penguasa lalim: Gunawan Wibisana ambalik ninggal maring ratu milih pati arja, menolak berpihak kepada ratu arubiru durjana duskarteng jagad. Apapun Kumbakarna bertahan di negerinya dengan sikap oposisional, bukan karena dorongan sifat danawa candhala murka melainkan sebagai putra-negeri kang nedya nglabuhi praja, matiyeng jurit dadi lamaking negara.
Secara umum, sistem kekuasaan Jawa mengakomodasi kaum muda dalam harapan mereka menjadi tamenging negara dan pemimpin masa depan. Di sini, sikap dan kapasitas personal menjadi penting. Serat Wulangreh menekankan, jejering satriya punika anteng jatmika ing budi, ruruh, wasis ing sabarang damel, sarta prawira lan weweka ing batin (ksatria itu haruslah bijaksana, berwatak sabar, trampil dalam segala pekerjaan, berani bertanggung jawab dan keberanian itu sebaiknya jangan dipamerkan). Untuk itu butuh pendidikan dan latihan: mulane wong anom den taberi angupaya ngelmi, dadia pikukuh (anak muda itu harus rajin mencari ilmu, supaya dapat dijadikan pegangan hidup).
Ditekankan Kitab Tambangprana, penempaan diri kaum muda harus menjadi tekad yang selalu ditekankan, dengan berguru kepada para resi, ulama, dan ahli ketatanegaraan, sebagai sarana menjalankan darma, membangun kesejahteraan yang merata dan menciptakan ketenteraman dunia. Juga berkiblat kepada orang-orang yang dapat dijadikan teladan akan keutamaan, yang melalui pergaulannya menarik hati untuk membangkitkan asmara rindu kemanusiaan.Dalam praktik kekuasaan, akomodasi terhadap kepemimpinan kaum muda dilaksanakan melalui pola nyantrik, baik dalam bentuk suwita maupun magang. Di tingkat atas, mereka yang disiapkan menjadi calon raja adalah putera mahkota, yang disebut Pangeran Adipati Anom atau Patih Muda, untuk mempelajari praktik dalam pemerintahan dengan berkedudukan sebagai orang ketiga, setelah raja dan patih kerajaan. Adapun mereka yang ingin menjadi priayi, harus melewati jalur suwita di rumah kerabat yang telah menjadi priaayi tingkat tinggi, untuk mengabdi dan membiasakan diri dengan keadaan setempat, juga untuk mempelajari sopan santun dan kebudayaan priayi. Ketekunan, kerajinan, kesetiaan, kejujuran dan kemampuan, akan menentukan lamanya waktu suwita. Jika lulus, akan memasuki tahap magang di salah satu bagian struktur pemerintahan. Jika telah diangkat menjadi jajar atau pangkat-pangkat lain di atasnya, ia telah diterima sebagai priayi dan mendapatkan hak untuk menggunakan pelbagai simbol sesuai kedudukannya. [suaramerdeka]