PRABU PRACONA TEWAS DI TANGAN GATOTKACA | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
PRABU PRACONA TEWAS DI TANGAN GATOTKACA Reviewed by maztrie on 5:08 AM Rating: 4,5

PRABU PRACONA TEWAS DI TANGAN GATOTKACA

Bantul melalui PEPADI Komda Bantul-nya terus melakukan pembinaan kesenian tradisional wayang kulit. Kecuali melakukan latihan, pertemuan dan pementasan secara rutin, pada bulan Juni 2009 lalu PEPADI Komda Bantul telah membuka sanggar atau tempat latihan seni pedalangan yang diberi nama Ayodya. Sanggar ini beralamatkan di Sembungan, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sanggar yang lebih diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja ini dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Pentas rutin yang dilakukan PEPADI Komda Bantul setiap Malam Jumat Legi yang diselenggarakan di Pendapa Rumah Budaya Tembi merupakan upaya mereka untuk terus melestarikan dan mengembangkan kesenian wayang kulit. Pentas rutin ini dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul, Rumah Budaya Tembi, berbagai stasiun radio, dan Jogja TV.
Seperti biasanya, sebelum pementasan dalang dewasa dilakukan di Pendapa Rumah Budaya Tembi, terlebih dahulu dalang cilik ditampilkan. Dalang cilik yang ditampilkan pada malam Jumat Legi, 16 Juli 2009 lalu bernama Bayu Aji Widiyanto. Dalang cilik ini masih duduk di kelas VI SD. Ada pun lakon yang ditampilkannya adalah “Prabu Pacona Lena”.
Penampilan dalang cilik yang berlangsung mulai pukul 20.00-21.00 WIB ini dimaksudkan sebagai bentuk dorongan atau penyemangat bagi dalang-dalang cilik (calon dalang beneran) agar terus bergiat dalam mengolah diri di dunia seni pedalangan. Regenerasi adalah sesuatu yang penting di dalam dunia kesenian sebab tanpa regenerasi kesenian yang ada akan musnah. PEPADI Bantul melihat hal ini sebagai sesuatu yang serius dan perlu terus ditangani sebab bagaimanapun kesenian, khususnya wayang kulit telah menjadi identitas kultur Jawa bahkan menjadi warisan budaya luhur yang diakui secara internasional.
Suara dari dalang cilik seperti Bayu Aji Widiyanto jelas belum bisa menyamai dalang-dalang dewasa. Akan tetapi kemauannya untuk bergelut dengan kesenian tradisional semacam itu patut diapresiasi. Tidak banyak memang anak-anak seusia dia yang senang bergelut dengan kesenian tradisional seperti wayang kulit. Iming-iming di luar kesenian tradisional terasa lebih menarik, mudah, mewah, dan kelihatan wah. Tidak aneh jika banyak anak-anak yang lebih mengenal tokoh Naruto, Aang, Barbie, Sponge Bob, dan seterusnya dibandingkan tokoh Gatotkaca, Arjuna, atau yang lain. Tidak ada salahnya mereka mengenal tokoh-tokoh asing itu sejauh mereka juga mengenal tokoh-tokoh lokal. Sebab bagaimanapun tokoh-tokoh yang muncul di dalam kesenian lokal telah menunjukkan karakter atau kepribadian lokalnya dengan segala keteladanan budi pekerti yang luhur. Di dalam ketokohan wayang tersebut terkandung begitu banyak filofosi atau ajaran yang bila dikupas tidak akan ada habisnya seperti kita mengupas karakter manusia itu sendiri yang demikian kompleks.
Bayu Aji Widiyanto menampilkan lakon ”Prabu Pracona Lena” dalam durasi 1 jam (pakeliran padat). Tentu saja ia harus meringkas jalan cerita yang biasa ditampilkan sekitar 7-8 jam. Pada intinya lakon Prabu Pracona Lena menggambarkan terjadinya huru-hara karena Prabu Pracona merusak Kayangan. Hal tersebut dilakukannya karena dewa menolak keinginannya untuk mempersunting salah satu bidadari yang bernama Batari Irim-irim. Tidak ada satu dewa pun yang sanggup mengalahkan Prabu Pracona. Kebetulan pada waktu itu Dewi Arimbi melahirkan putranya yang kemudian diberi nama Raden Tetuka.
Bayi Tetuka dipinjam dewa dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka. Berasamaan dengan dimasukkannya bayi Tetuka ke dalam kawah dimasukkan juga aneka macam senjata pusaka ke dalam kawah itu. Akhirnya Tetuka keluar kawah sebagai remaja yang sakti. Tetuka inilah yang kemudian dapat membunuh Prabu Bantul melalui PEPADI Komda Bantul-nya terus melakukan pembinaan kesenian tradisional wayang kulit. Kecuali melakukan latihan, pertemuan dan pementasan secara rutin, pada bulan Juni 2009 lalu PEPADI Komda Bantul telah membuka sanggar atau tempat latihan seni pedalangan yang diberi nama Ayodya. Sanggar ini beralamatkan di Sembungan, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sanggar yang lebih diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja ini dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Pentas rutin yang dilakukan PEPADI Komda Bantul setiap Malam Jumat Legi yang diselenggarakan di Pendapa Rumah Budaya Tembi merupakan upaya mereka untuk terus melestarikan dan mengembangkan kesenian wayang kulit. Pentas rutin ini dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul, Rumah Budaya Tembi, berbagai stasiun radio, dan Jogja TV.
Seperti biasanya, sebelum pementasan dalang dewasa dilakukan di Pendapa Rumah Budaya Tembi, terlebih dahulu dalang cilik ditampilkan. Dalang cilik yang ditampilkan pada malam Jumat Legi, 16 Juli 2009 lalu bernama Bayu Aji Widiyanto. Dalang cilik ini masih duduk di kelas VI SD. Ada pun lakon yang ditampilkannya adalah “Prabu Pacona Lena”.
Penampilan dalang cilik yang berlangsung mulai pukul 20.00-21.00 WIB ini dimaksudkan sebagai bentuk dorongan atau penyemangat bagi dalang-dalang cilik (calon dalang beneran) agar terus bergiat dalam mengolah diri di dunia seni pedalangan. Regenerasi adalah sesuatu yang penting di dalam dunia kesenian sebab tanpa regenerasi kesenian yang ada akan musnah. PEPADI Bantul melihat hal ini sebagai sesuatu yang serius dan perlu terus ditangani sebab bagaimanapun kesenian, khususnya wayang kulit telah menjadi identitas kultur Jawa bahkan menjadi warisan budaya luhur yang diakui secara internasional.
Suara dari dalang cilik seperti Bayu Aji Widiyanto jelas belum bisa menyamai dalang-dalang dewasa. Akan tetapi kemauannya untuk bergelut dengan kesenian tradisional semacam itu patut diapresiasi. Tidak banyak memang anak-anak seusia dia yang senang bergelut dengan kesenian tradisional seperti wayang kulit. Iming-iming di luar kesenian tradisional terasa lebih menarik, mudah, mewah, dan kelihatan wah. Tidak aneh jika banyak anak-anak yang lebih mengenal tokoh Naruto, Aang, Barbie, Sponge Bob, dan seterusnya dibandingkan tokoh Gatotkaca, Arjuna, atau yang lain. Tidak ada salahnya mereka mengenal tokoh-tokoh asing itu sejauh mereka juga mengenal tokoh-tokoh lokal. Sebab bagaimanapun tokoh-tokoh yang muncul di dalam kesenian lokal telah menunjukkan karakter atau kepribadian lokalnya dengan segala keteladanan budi pekerti yang luhur. Di dalam ketokohan wayang tersebut terkandung begitu banyak filofosi atau ajaran yang bila dikupas tidak akan ada habisnya seperti kita mengupas karakter manusia itu sendiri yang demikian kompleks.
Bayu Aji Widiyanto menampilkan lakon ”Prabu Pracona Lena” dalam durasi 1 jam (pakeliran padat). Tentu saja ia harus meringkas jalan cerita yang biasa ditampilkan sekitar 7-8 jam. Pada intinya lakon Prabu Pracona Lena menggambarkan terjadinya huru-hara karena Prabu Pracona merusak Kayangan. Hal tersebut dilakukannya karena dewa menolak keinginannya untuk mempersunting salah satu bidadari yang bernama Batari Irim-irim. Tidak ada satu dewa pun yang sanggup mengalahkan Prabu Pracona. Kebetulan pada waktu itu Dewi Arimbi melahirkan putranya yang kemudian diberi nama Raden Tetuka.
Bayi Tetuka dipinjam dewa dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka. Berasamaan dengan dimasukkannya bayi Tetuka ke dalam kawah dimasukkan juga aneka macam senjata pusaka ke dalam kawah itu. Akhirnya Tetuka keluar kawah sebagai remaja yang sakti. Tetuka inilah yang kemudian dapat membunuh Prabu Pracona. [TEMBI]
~~~maztrie~~~