Seniman Hongaria Luncurkan Buku Wayang | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Seniman Hongaria Luncurkan Buku Wayang Reviewed by maztrie on 2:51 PM Rating: 4,5

Seniman Hongaria Luncurkan Buku Wayang

Seorang seniman Hongaria, Eszter Tari, menerbitkan buku Wayang Jawa sebagai hasil pendalamannya terhadap budaya Indonesia khususnya Wayang Kulit Jawa.

"Buku setebal 104 halaman tersebut ditulis dalam bahasa Hongaria dengan pengantar khusus dari Duta Besar Indonesia," Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Budapest Arena Sri Victoria kepada detikcom malam ini atau Kamis pagi (22/1/2009) WIB.

Acara peluncuran buku karya Eszter, yang pernah belajar di Indonesia atas beasiswa pemerintah Indonesia, telah berlangsung di KBRI Budapest pada 20/1/2009, dihadiri sejumlah dubes negara sahabat, pejabat Hongaria, para budayawan Hongaria termasuk penyair, wartawan serta tokoh masyarakat.

Kiss Marta penulis buku dongeng-dongeng Jawa dan Gabor Boros yang membuat film pariwisata Indonesia juga nampak hadir.

Dalam sambutannya, Duta Besar Mangasi Sihombing di samping menyatakan penghargaan kepada upaya Eszter Tari juga menjelaskan berbagai aspek filosofis dari pertunjukan wayang.

Menurut Sihombing, bentuk tangan wayang kulit yang hampir dapat menyentuh tanah melambangkan kewajiban memelihara lingkungan dan keinginan manusia untuk menggapai langit nilai-nilai kebajikan. Sedangkan bayangan yang dilihat pada layar sebagai perwujudan dari nilai-nilai tinggi, yang dipancarkan oleh Sang Pencipta.

Mahakarya

Penyair Hongaria Tibor Weiner Sennyey dalam membedah buku tersebut menekankan bahwa pertunjukan wayang kulit merupakan upaya meneruskan nilai luhur yang telah digali oleh para leluhur untuk keturunannya.

Secara tepat Tibor melihat penggabungan musik, lagu, syair dan seni membuat wayang kulit memberi makna kuat dalam sebuah pertunjukan wayang. Dia menilai wayang merupakan karya budaya terbesar Indonesia, yang dilahirkan oleh sebuah bangsa yang jujur dan ramah.

Tibor menyadari bahwa pertunjukan wayang kulit sudah semakin surut sesudah Perang Dunia II, namun dia yakin bahwa hal ini dapat dikembangkan lebih lanjut, karena memang dibutuhkan oleh umat manusia.

Dikatakan Tibor, epos Bharatayudha dalam wayang di mana keluarga Pandawa menentang keluarga Kurawa adalah dengan tujuan untuk menyelamatkan bumi.

Terkait ini Tibor memuji keberhasilan Indonesia menyelenggarakan Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim belum lama ini di Bali.

Epos dan Krisis

Tibor menekankan pesan-pesan tradisional dalam epos-epos kuno seperti Bharatayudha jika ditampilkan kembali kepermukaan akan dapat menolong penyelesaian berbagai masalah lingkungan hidup seperti deforestasi, depresi dan krisis ekonomi maupun keguncangan mentalitas.

Tibor sangat menghargai upaya Eszter Tari yang disejajarkannya dengan sejumlah intelektual Hongaria, yang berupaya menyuguhkan nilai-nilai luhur dari bangsa Asia termasuk Indonesia seperti Sandor Korosi Csoma, Schmidt, Techi, Kacsvinszky, Baktay, Bela Hamvas atau Nandor Varkonyi.

Dubes Sihombing menganjurkan pengembangan seni wayang, yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia dan bukan milik dari satu bangsa lagi. Disebutkan bahwa alam demokrasi akan menyumbang kepada kemajuan budaya, dan sebaliknya budaya akan memperkuat demokrasi dan perdamaian global.

Acara peluncuran buku karya Eszter Tari ini dimeriahkan dengan tarian Jawa yang mendapat apresiasi tinggi dan mendapat perhatian media massa setempat. [detik]
~~maztrie~~
Creative Commons License