Yang Muda yang Tak Murang Tata | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Yang Muda yang Tak Murang Tata Reviewed by maztrie on 6:00 AM Rating: 4,5

Yang Muda yang Tak Murang Tata

KETIKA yang tua kian lamban geraknya, bahkan sulit pula untuk dipercaya, kepada siapa lagi harapan mesti diberikan kalau bukan kepada yang muda. Itu pun bukan tanpa soal. Kepada yang muda, tak jarang diucapkan kata-kata seperti durung titi wancine, nggege mangsa, bahkan bocah nom ngerti apa kalau bukan malah cah nom murang tata.
Dari khazanah tembang macapat, kita tidak hanya beroleh lirik dan nada klasik Jawa, di samping aneka piwulang luhur. Dari nama-namanya saja, secara filosofis (othak-athik gathuk?), perjalanan hidup manusia tergambarkan.
Mijil, yang dalam bahasa Jawa berarti keluar atau lahir, sering disebut sebagai perlambang awal kehidupan manusia di alam padhang.
Maskumambang, yang berasal dari kata mas (emas) dan kumambang (terapung), dianggap sebagai gambaran sikap haru penuh gembira lantaran kelahiran seorang bayi bak emas terapung-apung.
Itulah kenapa, dalam setiap kesempatan si buah senantiasa kinanthi, ke mana-mana digandeng. Itulah kinanthi.
Adapun kehidupan anak muda tergambarkan, setidaknya pada tembang sinom, dhandhanggula, asmaradana, durma, dan gambuh.
Sinom itu si (e)nom, yang muda atau bahkan dari kata isih enom, masih muda. Dalam beberapa tafsir, sering dikemukakan bahwa yang muda itu belum banyak pengalaman, belum matang batinnya, dan kerap kali salah menentukan langkah lantaran grusa-grusu.
Gambaran itu kian ditambah oleh jiwa dhandhanggula. Dhandhang itu burung gagak, sedangkan gula itu gula yang berasa manis. Dianggaplah bahwa yang muda adalah mereka yang senantiasa hidup dalam gemerlap manisnya dunia dan menuruti nafsu belaka.
Jiwa muda juga dikira sebagai jiwa yang mudah terbakar oleh bara asmara, sebagaimana dalam asmaradana. Seolah-olah kehidupannya hanya digerakkan oleh motif asmara. Adapun dua tembang lainnya, yang menggambarkan kehidupan yang muda, adalah gambuh dan durma.
Gambuh dikeratabasakan sebagai gampang nambuh, yakni sikap angkuh serta acuh tak acuh atau belum pandai namun sok pintar.
Bagaimana dengan durma..? Munduring tata karma adalah keratabasa untuknya, yang artinya kemunduran dalam hal tata krama.
Begitulah stigmatisasi yang kerap dilekatkan kepada yang muda. Sebuah gambaran yang jelas-jelas bertolak belakang dengan mereka yang bersebut tua.
Ya, mereka sudah tua dianggap sudah mungkur, yakni menoleh ke belakang untuk merenungkan yang dilakukannya pada masa lalu. Itulah pesan tembang pangkur. Kondisi itu berlanjut pada perpisahan jiwa dari raga (pegating ruh), megatruh. Kematian telah datang menjelang, yang kemudian secara fisik ia akan dibungkus kain kafan, dipocong. Tembang pocung gambarannya. Teranglah bahwa tembang-tembang tersebut, jika diurutkan sebagai sebuah narasi kehidupan manusia dalam deretan alur tarik lurus, telah menempatkan anak muda pada titik yang rawan dan serba mengkhawatirkan. Sayang, memang. Kondisi itu berbeda sama sekali pada mereka yang dianggap sudah tua. Sebab, yang tua dianggap telah memiliki menebing budi lantaran sudah mau mungkur. Namun benarkah realitasnya seperti itu..? Nanti dulu. Jangan-jangan, semua itu hanyalah hasil othak-athik mereka yang sudah bergolong tua demi sebuah keagungan di atas citra negatif terhadap yang muda.
Krisis AnutanPada tataran realitas faktual, justru sulit terbantahkan bahwa terjadinya krisis keteladanan dan kepemimpinan pertama-tama bukan pada barisan muda, melainkan justru pada yang tua. Kepada yang tua, apalagi yang diharapkan kalau bukan pada dirinya sudah nyarira tunggal segala muna-muni, tindak-tanduk, solah-bawa, dan tandang grayang yang pantas sebagai sosok ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Namun alih-alih mau dan mampu menjadi pamong buat yang muda, yang (merasa) tua justru tak jarang menjadi bagian dari masalah itu sendiri.
Akhir-akhir ini sering sekali dikemukakan ikhwal terjadinya krisis keteladanan. Padahal, keteladanan itu mutlak dimiliki oleh setiap pemimpin, lebih-lebih yang bergolong tua, agar pantas berada di titik ing ngarsa sung tuladha. Sebab, bagaimana gudel bisa nusu kebo dengan baik, jika kerbau yang diturut justru bergerak lamban, jika tidak malah bingung sendiri. Memang, kalau dunia binatang sebagai gambaran, kerbau adalah binatang yang pada umumnya bergerak sangat lamban. Sebaliknya, yang masih tergolong gudel relatif lebih dinamis geraknya sekaligus lebih cepat jalannya.
Bukankah sejarah senantiasa mencatat, perubahan besar lebih banyak dilpelopori oleh mereka yang sering distigmatisasi sebagai gudel yang murang tata, kurang subasita, dan terkadang wani nungkak karma itu..?
Airlangga dan Narotama, Arok, Wijaya, Karebet, bahkan Soekarno, tidaklah menorehkan sejarah tatkala mereka sudah uzur dan mungkur, melainkan ketika masih dalam usia yang dikhawatirkan gampang nambuh dan munduring tata karma.Sejarah membuktikan, merekalah anak muda yang mampu mengatasi persoalan zaman masing-masing. Merekalah yang telah membuka lembaran baru sejarah negeri. Merekalah para gudel yang tak cuma pintar mbedhal, tetapi sekaligus membukakan jalan atas kebuntuan yang dihadapi induknya.
Ya, agaknya kini pun kebo harus rela kalau suatu waktu nusu gudel. Atau paling tidak, mau mengakui bahwa jalan yang dipih oleh gudel lebih cepat sekaligus lebih tepat. Tidak harus percaya meski lamban jalannya lantaran ia adalah kerbau bule yang sudah berusia lanjut.
Memang tua-muda sebenarnya tidaklah lebih penting daripada soal kedewasaan. Tua hanyalah soal banyaknya usia, sedangkan muda soal jumlah usia yang lebih sedikit dari segi angka. Namun soal kedewasaan, ketuaan bukanlah yang utama. Muda yang dewasa, muda yang ngerti tata (bukan murang tata!) namun sekaligus penuh vitalitas, tentu jauh lebih penting dan bukan omong kosong belaka adanya.
Persolannya, di samping dengan penuh kelapangan dada yang tua mau menerimanya, bagaimana ketuaaan itu bisa berbanding lurus dengan kedewasaan. Dengan begitu, stigmatisasi terhadap yang muda sebagai yang ora ngerti duga prayoga, sing murang tata, yang gampang nambuh, tak lekas-lekas disematkan. [suaramerdeka]