‘Inal-inul’ | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
‘Inal-inul’ Reviewed by maztrie on 1:23 AM Rating: 4,5

‘Inal-inul’

FENOMENA Inul merupakan sebuah tengara zaman yang unik. Kalau Kanjeng Raden Tumenggung Ngabehi Ronggowarsita masih hidup, mungkin beliau bakal memberikan semacam ramalan mengenai apa yang bakal terjadi dengan tengara munculnya Inul Daratista si gadis dusun yang menggegerkan negeri ini. Malah sebentar lagi Inul bakal melanglang jagad untuk lebih memperkenalkan musik dangdut ke penjuru dunia.

Kalau Amerika Serikat mempunyai Britney Spears, Indonesia punya Inul Daratista, apa tidak hebat. Walau dihalangi seperti apa Inul bakal melesat seperti meteor. ‘Dipagerana mlumpat, ditalenana mbedhal’ begitu peringatan orang Jawa berbunyi.

Sebab menurut pitutur luhur orang Jawa, ‘giri lusi, jalma tan kena kinira’. Jangan meremehkan barang yang kecil. Giri adalah gunung, lusi berarti cacing, cacing gunung. Cacing gunung meskipun kecil mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia dan dunia. Cacing menyuburkan tanah gunung. Membuat kehidupan jadi subur, akhirnya buahnya bermanfaat bagi manusia dan alam semesta.

Sementara ‘jalma tan kena kinira’, manusia kecil, walau berasal dari dusun, tetapi lantaran alam sudah mendukungnya, atau dengan kata lain, Allah berkenan kepadanya maka apapun bakal terjadi. Seperti juga Inul, orang desa dari Pasuruan, tetapi begitu menggebrak Jakarta, siapa yang tak tercengang dengan ulahnya. Ada yang kagum, tetapi ada pula yang risih. Lalu ada yang mencekalnya, dan biasanya semakin dihalangi semakin tinggi burung terbang.

Demikian pula Inul.

Tetapi kemudian apa yang terjadi dengan arena perpolitikan Indonesia. Munculnya Inul merupakan fenomena sendiri bagi perpolitikan Indonesia. Apalagi menjelang pemilihan umum 2004 mendatang.

Orang Jawa sudah bisa melihat gambaran yang muncul. Disadari atau tidak Inul memunculkan gambaran politik Indonesia masa depan. Meski di sisi lain Inul memberikan penghiburan bagi masyarakat kecil, tetapi dunia perpolitikan Indonesia kalau masih ‘inal-inul’, tentu jauh dari menggembirakan. Apalagi kalau hanya bikin sensasi murahan dan hanya memberikan hiburan sekejap. Rakyat masih bakal menderita.

Demikian pula ulah para politisi di panggung politik Indonesia yang bisa disebut sebagai panggung sandiwara menjadikan panggung politik Indonesia jadi semakin semarak dengan politisi yang inal-inul. Tindak dan sikapnya belum bisa dipegang, maka belum memberikan kepercayaan kepada masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia umumnya.

Oleh karena itulah kembali kepada pitutur luhur agar para pemimpin di masa depan bisa dihormati dan dihargai karena tindak dan sikapnya yang satu. Wewarah luhur berbunyi:” Basukining sabda, kalamun pamujare mobat-mabit lir damar kamarutan. Pajare bakal muspro datan mitayani. Mulane celathu kalawan laku kudu sing lugu’.

Ucapan kalau mau dihormati dan disegani jangan seperti api yang terkena angin. Sebab api yang terkena angin kurang memberikan penerangan yang baik. Oleh karena itulah ucapan dan tindakan harus satu dan yang baik serta benar. Itulah baru pemimpin yang mempunyai kharisma yang bakal disegani baik lawan maupun lawan. [minggupagi]