Gundono dan Wayang yang Tak Selesai | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Gundono dan Wayang yang Tak Selesai Reviewed by maztrie on 2:40 AM Rating: 4,5

Gundono dan Wayang yang Tak Selesai

Di tangan Slamet Gundono, wayang adalah ihwal yang tak selesai. Selalu saja ada improvisasi yang kadang edan kadang nakal, lucu, juga politis, yang menyertai pertunjukan-pertunjukan wayang Gundono. Barangkali, kita akan menyimak paradoks: sebagaimana seni tradisi lainnya, wayang sebenarnya telah dibeku-bakukan oleh seperangkat pakem yang selama ratusan tahun terus dilestarikan dan enggan dilanggar. Tapi di tangan Gundono, wayang adalah sesuatu yang cair, plastis, dan tak punya demarkasi.

Menyaksikan pentas wayang Gundono bertajuk Celengan Bisma dalam acara peluncuran Buku Wayang Lindur. Presiden Buruh Rakyat karya Slamet Gundono pada 26 Juli lalu, saya kembali mendapat pengukuhan atas premis-premis yang telah saya kemukakan di awal. Pentas yang berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, itu adalah gabungan dari sejumlah khasanah kebudayaan yang datang dari tempat dan waktu berjauhan. Dalam pertunjukan itu, ada teater modern, tari, seni musik campur aduk, kisah wayang, sindiran politik, juga humor saru ala rakyat jelata.

Didahului oleh sejumlah pembacaan kisah dari Buku Wayang Lindur, juga penyampaian gagasan mengenai proses berkesenian Gundono oleh Garin Nugroho dan Afrizal Malna, pentas Celengan Bisma adalah penutup yang pas, hangat, sekaligus penuh humor atas acara malam itu. Mengambil inspirasi dari sekelumit fragmen kecil kehidupan Bisma, sang ksatria dari Kerajaan Hastinapura dalam kisah Mahabarata, Gundono menyajikan satu lanskap warna-warni pada penonton. Kisah Bisma yang dipilih adalah perihal perkawinannya dengan Dewi Amba dan juga keikutsertaan Bisma dalam Perang Bharatayudha.

Kisah cinta Bisma-Amba, sejatinya, adalah cerita yang pedih: setelah keduanya menikah, Bisma menolak menyetubuhi Amba karena sang ksatria terlanjur mengucap sumpah tak akan memiliki anak. Tapi malam itu, dalam Celengan Bisma, tak ada kisah cinta yang dipenuhi kesedihan. Dimulai dengan “fashion show” beberapa lelaki bertubuh besar diiringi nyanyian Slamet Gundono, pentas malam itu dipenuhi adegan-adegan konyol, banyolan-banyolan yang kebanyakan merujuk pada hubungan seks, dan humor-humor cerdas. Seperti biasa, Gundono tak memakai wayang kulit. Ia lebih memilih timun, tomat, apem, ayam ingkung, blewah, dan beberapa makanan lain, sebagai wayang-wayangnya.

Ketika menarasikan pernikahan Bisma dengan Amba, Gundono memilih timun sebagai Bisma. Meski ada yang terasa lucu dalam pemilihan ini, narasi Gundono serius, dan khidmat. Setelah kisah itu, alur bergerak maju: seorang lelaki dan satu perempuan tampil di panggung, memerankan Bisma dan Amba. Jangan berharap keduanya hadir dengan agung dan dipenuhi wibawa.

Bahkan Bisma, yang dalam pakem pewayangan merupakan ksatria yang serius, penuh dedikasi, dan terkadang dikesankan sebagai “orang suci”, dalam penampilan yang mirip “goro-goro” malam itu dihadirkan secara karikatural. Dengan pakaian adat Jawa tapi membawa payung modern, Bisma hadir ke tengah pentas, sambil menyanyi dengan lirik penuh lelucon agak saru. Sementara, Amba ditampilkan sebagai perempuan yang galak dan hampir selalu marah-marah pada Bisma yang menolak menyetubuhinya. Fragmen percakapan antara Bisma dengan Amba ini lebih banyak berisi guyonan dengan bumbu seks.

Amba yang selalu menggugat sikap suaminya yang dianggap menyia-nyiakannya itu, selalu ditanggapi Bisma dengan lelucon-lelucon. “Lha kae, nek esuk-esuk, aku ki wis ‘upacara’, eh kok kowe malah isah-isah piring,” kira-kira demikian jawaban Bisma saat Amba meragukan kesehatan seksualnya. Mereka yang sudah dewasa dan paham bahasa Jawa, pasti akan terpingkal-pingkal mendengar jawaban Bisma. Dalam adu-dialog panjang antara Bisma dengan Amba, Bisma hadir sebagai sosok yang punya sikap cabul, penuh humor, dan seorang figur suami yang takut istri. Dalam beberapa adegan, Bisma mengatakan, keengganannya untuk berhubungan seksual dengan Amba semata-mata karena Amba tak paham “isyarat-isyarat” yang telah diajukannya. Janji Bisma soal tidak memiliki anak sebagai wujud pengabdiannya pada Hastinapura, sama sekali tak disinggung.

Barangkali, kita bisa menganggap tampilan Bisma dalam pentas itu hanyalah alat menghadirkan humor guna memeriahkan suasana. Tapi mungkin pula, kita menafsirkannya sebagai semacam dekonstruksi atas karakter sang ksatria yang selama ini mapan. Uniknya, setelah menghadirkan dekonstruksi besar-besaran atas karakter Bisma, Gundono kembali mendalang tentang kisah Bisma sebagai karakter yang seolah-olah suci. Ia, menggunakan ingkung ayam dan apem, mengisahkan pertempuran antara burung bangkai dengan burung kuntul di atas medan perang Bharatayudha.

Para burung bangkai hendak mencabik-cabik tubuh Bisma yang teronggok tak berdaya setelah kalah dalam Bharatayudha, tapi niat ini dihalangi serombongan burung kuntul. Secara bersama-sama, kawanan burung kuntul ini mencabut satu bulunya dan melekatkannya ke tubuh Bisma sehingga tubuh Bisma menjadi putih, tertutup bulu-bulu burung kuntul. Tentu saja, ini adalah metafora tentang “kesucian” Bisma meski Gundono kemudian menyayangkan, “kesucian” itu telah “tercemari” oleh niatan Bisma ikut perang.

Sampai di sini, kita mengenali ada sebentuk inkonsistensi dalam pentas Gundono, seandainya kita berharap dalang gemuk itu menyajikan satu gagasan yang padu. Tapi kita juga bisa memandang pentas itu sebagai serangkaian fragmen yang putus-putus atau pecah, yang barangkali satu sama lain saling tidak berhubungan, sebentuk “khaos”. Khaos: kata inilah yang juga dipakai Goenawan Mohamad, saat membahas pentas Gundono lain bertajuk Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran.

Goenawan menyimpulkan: Sudamala mengandung sejumlah bagian yang tak koheren, yang membuatnya jadi tampak seperti, atau mengandung, khaos, meski Gundono tetap memosisikan dirinya sebagai pusat.

Khaos, dalam pengertian denotatif, barangkali kata yang tak terlalu tepat bagi Celengan Bisma. Tapi benar bahwa dalam lakon itu ada fragmen-fragmen yang tak selalu tersambung dengan baik. Kita mungkin bingung dengan percampuran gamelan dengan drum dan gitar bass, atau dengan bahasa pentas yang campur aduk—antara bahasa Jawa dialek Tegal dan Solo, juga bahasa Indonesia—atau dengan perubahan karakter Bisma yang drastis. Tapi, justru karena itulah, pentas malam itu selalu menjadi sesuatu yang tak selesai: kita, penonton, yang harus memaknai ulang pentas malam itu, bukan sebagai kesatuan, tapi sebagai perayaan dan percampuran pelbagai tradisi kebudayaan yang tak selalu koheren.

Dan, jika pentas malam itu memang masih ingin disebut sebagai “wayang”, maka wayang Gundono memang “wayang yang tak selesai”.
~~maztrie~~
Creative Commons License