Intrik perebutan kekuasaan di Negeri Kahyangan | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Intrik perebutan kekuasaan di Negeri Kahyangan Reviewed by maztrie on 7:07 PM Rating: 4,5

Intrik perebutan kekuasaan di Negeri Kahyangan

Asal muasal dari segala kejadian di Republik Wayang tentunya tidak terlepas dari sang pemegang kekuasaan Sang Hyang Tunggal yang menciptakan 3 mahadewa yang asalnya dari telur [ada juga yang mengatakan bahwa istri Sang Hyang Maha Tunggal yaitu dewi Rekatawati lah yang melahirkan telur ini].
Memang aneh kenapa telur dan telur apakah hal ini susah diuraikan secara nalar, pokoknya kita terima saja informasi yang dikeluarkan resmi oleh yang berkuasa .. beres.
Kalau diurutkan maka ada 3 bagian telur yang terpecah menjadi 3 karakter yaitu kulit telur menjadi Hyang Maha Punggug alias Togog, lalu putih telur menjadi Hyang Ismaya alias Semar dan kuning telur menjadi Hyang Manikmaya alias Batara Guru ... saat masih remaja kelihatannya mereka sangat akur, lha wong sedulur kok .. apalagi menyandang pangkat putrane Sang Hyang Tunggal .. 


Mereka tinggal di Kahyangan Jong Giri Kalasa, nama ini lalu sering dipelestkan menjadi Jongring Salaka atau Suralaya .. rupanya budaya pleset memplesetkan kata memang sudah dari jaman dulu ada.
Masalah mulai timbul saat mereka merasa dirinyalah yang paling tepat untuk memimpin para dewa sekaligus para “wayang” nya .. nah disini terlihat siapa cerdik dia yang akan menjadi pemenangnya.
Ada beberapa Versi mengenai peristiwa bagaimana sampai Batara Guru mendapat jabatan ini, versi pertama yaitu sayembara yang diadakan oleh Sang Hyang Tunggal yaitu siapa yang bisa menelan gunung Mahameru dan mengeluarkan lagi nah dialah yang menjadi pemenang ... tentunya Hyang Maha Punggung sebagai anak tertua mendapat hak duluan, Lebih Cepat Lebih Baik .. sayang sekali karena dipaksakan akhirnya mulut Hyang Maha Punggung jadi robek .. ndower istilah populernya, sakit banget .. gunung itu lalu dimuntahkan sebelum ditelan ... nah maju jago kedua, yaitu Hyang Ismaya .. mungkin melihat kakaknya robek mulutnya lalu Hyang Ismaya menggunakan taktik lain, disini tidak diceritakan trick n tips nya gimana tapi ... eh berhasil ditelan ... tapiiiii ... gunung ini tidak mau keluar lagi, akibatnya perutnya jadi buncit .. lha wong nelen gunung jeee ..
Nah ini dia kesempatan emas, Hyang Manikmaya lalu protes ke “babe” nya, ada pelanggaran yang dilakukan oleh kedua kakaknya .. akibatnya dia tidak mendapat kesempatan mencoba menelan gunung itu dan menurut RUU yang langsung ditetapkan menjadi Undang-undang maka dia dianggap sebagai pemenang karena kedua kakaknya tidak lulus Fit and Proper test dan tidak ada pilihan lain, apalagi kalau lihat potongan badan ... wah ya nggak cocok jadi penguasa Jong Giri Kalasa.
Versi yang lain adalah ketika Hyang Maha Punggung bertengkar dengan Hyang Ismaya lalu dipanas-panasi oleh adik ragilnya dengan mengatakan coba menelan Gunung Mahameru ... dan cerita selanjutnya ya sama .. yang satu ndower, yang satu perutnya buncit.
Karena dalam satu kapal tidak boleh ada 2 nakhoda, apalagi 3 nakhoda, maka Hyang Tunggal memerintahkan dengan SK khusus agar Hyang Maha Punggung mengurusi pihak yang “kurang baik” karena mulutnya yang ndower pasti kata-katanya nggak jelas .. biar pihak yang “kurang baik” jadi nggak jelas maksud nya apa ... namanya diganti dengan Togog. Sedangkan Hyang Ismaya diperintahkan memomong “pihak yang baik” karena kecerdikannya bisa menelan gunung Mahameru pasti bisa memberi nasehat yang baik juga, eh namanya ya diganti Semar.
Batara Guru akhirnya diangkat menjadi penguasa tunggal dan berkuasa penuh tanpa “quick count” dan tanpa bersusah payah ikutan sayembara ... tidak heran karena tanpa melalui ujian maka seringkali Batara Guru bertindak ceroboh dalam menjalankan kekuasaannya ....[TOPMDI]