Panguwasa | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Panguwasa Reviewed by maztrie on 5:26 PM Rating: 4,5

Panguwasa

JAGAT pewayangan memberikan banyak contoh agung, mengenai akibat dari kebablasan memainkan kekuasaan dan kesaktian.  Contohnya, Sumantri, dan Gatokaca. Gara-gara salah memainkan kekuasaan dan kesaktian, para ksatria itu harus tewas dengan cara mengenaskan. Memang, menurut Maespati dan Amarta mereka adalah pahlawan. Tetapi, jika ditilik dari kasus yang membelitnya, kematian Sumantri dan Gatotkaca adalah penebusan terhadap dosa kekuasaan yang dimainkannya.
Sumantri ”tidak sengaja” membunuh Sukasrana, adik yang sangat mencintai dirinya. Padahal, Sukasrana telah berjasa besar memindahkan taman Sriwedari ke keraton Maespati sehingga Sumantri disengkakake ngaluhur jadi patih oleh Prabu Arjunawijaya. Hanya gara-gara malu si adik mau ikut dengannya, Sumantri tega ngagar-agari panah ke dada Sukasrana yang tak berdosa. Ia benar-benar seperti penguasa lalim yang harus mengusirnya pulang ke pertapaan Girisekar. Dengan pertimbangan, Sukasrana tak layak ngemping kamukten karena wujudnya adalah raksasa bungkik yang akan membuat takut  para priyayi di istana Maespati.
Untuk tokoh macam Sumantri yang sakti, yang teguh tanggon dalam ulah kanuragan dan kaprajuritan, tidak ada yang namanya kecelakaan ketika memainkan senjata. Tidak  ada alasan ”panah keprucut” untuk seseorang yang mampu menundukkan 400 raja pelamar Dewi Sinta. Kalau tidak ingin membunuh, dia tidak akan menthang langkap dan memasang senjata Cakra untuk menakut-nakuti Sukasrana. Jadi, Sumantri bukannya tidak sengaja membunuh Sukasrana. Terbukti kekuasaan yang dipegangnya telah meniadakan hubungan kakak-adik, cinta yang tulus dari Sukasrana, serta jasa yang diperbuat.
Maka, ketika Sukasrana menjatuhkan kutukannya, Sumantri benar-benar telah menjadi nista di mata kemanusiaan. Dan ketika Sumantri terbunuh dalam perang tanding dengan Rahwana, taring raja Alengka yang disusupi sukma Sukasrana hanya menjadi lantaran untuk membuktikan adanya kekuasan lain yang lebih besar yang menyucikan dari kehinaan yang melumuri dirinya.
Sama dengan Sumantri, Gatotkaca juga sangat dicintai oleh ditya Kalabendana, pamannya, adik bungsu Dewi Arimbi. Wujud Kalabendana juga mirip Sukasrana. Seorang raksasa kerdil, wajahnya tenang, jujur, dan bicaranya agak celat. Dalam lakon Gatotkaca Sraya, dikisahkan bahwa Gatotkaca ditugaskan mendampingi Abimanyu mengikuti sayembara Dewi Utari, putri Prabu Matswapati dari Wirata. Isi sayembara tersebut, siapa yang dapat mbopong Dewi Utari dialah yang akan dijadikan suaminya. Padahal, saat itu Abimanyu telah beristrikan Dewi Siti Sendari. Sementara pamitnya Abimanyu kepada istri akan berburu bersama Gatotkaca. Untuk menunggu keraton, Gatotkaca pun minta Kalabendana menemani Dewi Siti Sendari di Plangkawati.
Ternyata Abimanyu berhasil. Kuat mbopong Dewi Utari yang menurut takdir dewata akan melahirkan raja penerus trah Bharata. Namun, setelah memenangkan sayembara tersebut Dewi Utari bertanya. Apakah Abimanyu masih jejaka? Untuk meyakinkan sang dewi, Abimanyu pun bersumpah, bahwa dirinya benar-benar jejaka. Kalau tidak, dia rela mati di perang Bharatayuda dikrocok panah sewu (dirajam oleh seribu panah).
Karena Abimanyu dan Gatotkaca lama tidak pulang, Dewi Siti Sendari gelisah dan minta Kalabendana menyusulnya. Singkat kata, Kalabendana berhasil menemukan mereka di Wirata. Waktu itu Abimanyu sedang berduaan dengan Dewi Utari di tamansari. Dengan jujur Kalabendana menyampaikan pesan Dewi Siti Sendari. Mendengar pembicaraan tadi Dewi Utari pun terkejut. Kemudian mendesak Abimanyu mengenai kebenaran kata-kata Kalabendana itu. Begitu Abimanyu mengatakan benar, Dewi Utari marah dan mengingatkan sumpah Abimanyu bakal numusi (terwujud), yakni, tewas oleh seribu panah di perang besar Bharatayuda.
Melihat keadaan tiba-tiba menjadi buram, Gatotkaca jadi naik darah. Sebab, tidak menyangka Kalabendana akan membuka rahasia Abimanyu di depan Dewi Utari. Maka, Tanpa pikir panjang sang paman digelandang ke luar tamansari, dan dihajar sampai tewas. Sebelum sukmanya lepas, Kalabendana sempat mengeluarkan kutuknya. Nanti di Bharatayuda akan menuntut balas kepada Gatotkaca. Dan benar, kedua putra Pandawa ini harus menebus dosanya dengan mati mengenaskan di Kurusetra.
Dua kisah ini sudah sangat populer di Jawa. Kisah Sukasrana dan Kalabendana pun telah menjadi pitutur yang mbalung sungsum bagi orang Jawa. Semacam wasiat yang diwariskan turun-temurun lewat wayang kita yang telah diakui UNESCO sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.
Pertanyaannya, akankah kita mengingkari ”pitutur luhur” tadi? Bahwa siapa pun yang memiliki kekuasaan haruslah eling lan waspada. Kekuasaan dan kesaktian jangan dimainkan seenak hati. Karena sedikit saja kepeleset, ibarat pedang, ia dapat menikam orang lain yang tak berdosa. Termasuk melukai diri sendiri. Entah dari depan atau belakang, entah hari ini atau kelak kemudian hari.[suaramerdeka]