Tunggangan | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Tunggangan Reviewed by maztrie on 3:29 AM Rating: 4,5

Tunggangan

Mobilitas sosial antara lain ditentukan oleh tunggangannya. Jika ingin bergerak cepat secara horisontal, perlu kendaraan handal.

Namun apabila keinginan berubah semakin melambung, kita memasuki pusaran mobilitas vertikal. Kendaraan yang ditunggangi pun secara drastis berubah. Ambisi bergengsi membutuhkan tunggangan bergengsi pula.

LAMBANG tunggangan bergengsi yang dikenal dalam budaya Jawa adalah turangga atau kuda. Kuda termaksud bukanlah kuda kacangan yang kerjanya kentut melulu. Kuda idola para pemburu gengsi digambarkan minimal seperti yang disiapkan oleh Kusumatali, sang juru rawat kuda kerajaan.

Kuda untuk raja diberi nama Kyai Pamuk, sedangkan kuda untuk petinggi lain cukup menunggang Si Tundung mungsuh. Keistimewaan Kyai Pamuk tentu berbeda dengan kuda jenis Poni, Polo, atau Equestrian yang berharga miliaran rupiah.

Kyai Pamuk adalah jaran perang, bukan jaran kepang. Ia semakin terangsang (untuk perang), jika diiringi gendhing Kebogiro.

Alunan irama lagu kerbau sedang birahi meningkatkan andrenalin Kyai Pamuk. Ia mendengus, menggaruk-garuk tanah, sambil menaikkan ekor tinggi-tinggi. Sang penunggang semakin berwibawa, seolah sudah memenangi pertempuran.

Sejak ceritera wayang sampai dengan sekarang, peranan “kuda tunggangan” masih sangat menentukan dalam kancah pemburuan martabat. Dalam arti sesungguhnya, tunggangan itu dapat berwujud kuda atau BMW atau Mercedes Benz. Bisa pula kelompok pemikir atau dalang kerusuhan atau pendemo. Bahkan orang nomor satu pun memerlukan kendaraan atau tunggangan politik.

Untuk menjadi tunggangan yang handal harus memenuhi syarat tertentu. Di antaranya : meningkatkan pamor kewibawaan, memancarkan daya tarik kelaki-lakian (jaran guyang), menambah kekayaan harta milik (jaran panolèh), sampai dengan mampu menghibur seperti jaran képang.

Selain Turangga atau tunggangan, calon pemimpin yang sedang bertarung memenangi persaingan juga memerlukan kukila atau burung merdu. Apalagi kalau burung tersebut hidup di dalam sangkar. Burung merdu pemoles citra hanya bertugas menyanyi sesuai pakem. Penikmatnya tidak piawai membedakan lagu sedih atau gembira. Saat ini orang lebih mengenal Tim Sukses sebagai pengejawantahan dari peran Kukila di zaman dulu.

Turangga dan Kukila harus menerima nasib sebagai tunggangan. Seolah - dan memang kenyataannya begitu - hanya pemilik sumberdaya kuat yang mampu melakukan mobilisasi terhadap tunggangan. Sumberdaya kuat termaksud adalah Wisma dan Pusaka. Wisma melambangkan telah tercukupinya kebutuhan dasar manusia. Sedangkan Pusaka menandakan kompetensi yang dimilikinya.

Baru setelah itu diperlukan pendamping Wanita atau Garwa (Sigaraning nyawa). Pendamping yang harmonis adalah pasangan atau wakil yang saling mendukung karena memahami perannya masing-masing. Kali ini Ki Kemaki secara singkat membenarkan bahwa para pemburu martabat sejak dahulu selalu bersinggungan dengan : turangga, kukila, wisma, pusaka, dan wanita.

***
Peran tunggangan sangat menentukan dalam meraih martabat kekuasaan. Jika kalah nantinya, tunggangan itu akan lari tunggang langgang mencari penunggang lain. Inilah dinamika politik. Mangga, silakan berbeda pendapat. [surya]