JAWA DAN JOGJA | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
JAWA DAN JOGJA Reviewed by maztrie on 5:29 PM Rating: 4,5

JAWA DAN JOGJA

Seringkali kapan menyebut Jogya, orang akan mengatakannya sebagai Jawa. Padahal, Jawa bukan hanya Jogja, tetapi ada tempat-tempat lain, misalnya Solo. Artinya, Jawa lebih luas dari Jogja. Namun, ketika Jawa dibatasi pada periode Mataramannya Senapati, yang berpusat di Kotagede, untuk sekarang menyebut Jawa adalah menunjuk Jogjakarta. Namun, ketika mundur lagi ‘selangkah’ dari Mataram, dengan menunjuk Pajang, maka Solo juga Jawa.
Pada konteks ini, saya tidak akan ‘merepotkan’ diri pada nama ‘masa lalu’ dari Jawa. Yang pasti, orang tahu, bahwa Jogja adalah Jawa. Dan dikawasan ini ada Kraton, yang hingga hari ini rajanya, Sri Sultan Hambengku Buwana X masih bertahta. Artinya, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih dijaga kelestariannya.
Ditengah perkembangan jaman yang tidak lagi bisa dihindari, perubahan-perubahan banyak sekali sudah terjadi di Jogjakarta. Ada yang bilang, globalisasi, kata lain dari kapitalisme memberi ruang perubahan bagi kebudayaan lokal. Meski, ada juga yang berusaha untuk ‘menjaganya’.
Orang juga tahu, simbol-simbol Budaya Jawa di Jogja, banyak yang telah mengalami perubahan, atau setidaknya merespon perubahan kebudayaan, yang memang tidak bisa untuk dihindari. Ambil contoh, tradisi perkawinan yang masih diteruskan hingga hari ini, tetapi polanya tidak lagi Jawa, bahkan sangat jarang prosesi perkawinan disertai dengan membuat sesaji seperti dulu pernah dilakukan. Unsur syah secara agama dan masyarakat yang menjadi pola dari tradisi perkawinan Jawa. Pakaian yang dipakai bisa mengenakan pakaian Jawa, berikut pernik-perniknya, tetapi upacara perkawinan, dalam hal ini pestanya, standing party, yang bukan kultur Jawa. Ini artinya, dua kultur menyatu dalam perkawinan di Jawa. Orang tidak risih, malah menikmati. Dalam kata lain, Jawa tanggap terhadap perubahan dan perkembangan jaman.
Namun ketika Jawa sebagai kultur tanggap terhadap perubahan dan perkembangan jaman, ada masyarakat yang merasa hendak mengembalikan, yang katanya, Jawa sudah hilang, makanya akan dikembalikan. Tidak tahu, dimana ‘hilangnya’ Jawa, sehingga akan ‘dikembalikan’. Apakah yang akan mengembalikan Jawa sudah menemukannya? Dimana mereka menemukannya? Apakah bentuknya masih seperti sebelum ditemukan atau sama sekali sudah berubah? Kalau sudah berubah, bagaimana akan dikembalikan?
Seringkali kita menemukan satu komunitas atau anggota masyarakat yang merasa dirinya ‘masih Jawa’ ketimbang yang lain-lain. Perasaan itu menguat sehingga menganggap Jogja sekarang tidak lagi Jawa, maka akan dikembalikan seperti ‘Jawa’ pada tempo doeloe. Cara berpikir seperti ini, rasanya, menganggap bahwa kebudayaan Jawa tidak bisa berubah, Statis dan harus seperti dulu. Jawa abd 17 dengan Jawa abad 21 adalah tidak bisa disamakan. Kalaupun yang abad 17 masih ada, misalnya bangunan-bangunan, perlu untuk dijaga kelestariannya, tidak boleh untuk dihancurkan. Dalam konteks ini, mengembalikan adalah menjaga simbol kultur yang tersisa, bukan membuangnya. Karena Borobudur dan Prambanan pun, yang letaknya di Jawa merupakan perpaduan antara kultur Jawa pada masa itu dengan Budha dan Hindu. Artinya, kultur lain berinteraksi dengan Jawa, sudah berabad-abad lalu.
Jadi, ketika ada orang yang dengan keras berteriak akan ‘mengembalikan Jawa yang hilang’. Bagaimana hal itu akan dilakukan? Salah satu simbol budaya Jawa yang, hingga hari ini masih bisa dilihat dan dirujuk adalah Kraton. Ia tidak hilang, malah merespon perkembangan kebudayaan dunia. Alun-alun utara sebagai halaman muka dari Kraton, digunakan untuk kepentingan banyak hal, baik yang berkaitan dengan kesenian, ekonomi, agama maupun sosial. Ruang ini sangat terbuka untuk beragam interaksi.
Kawasan Malioboro, yang tidak pernah sepi dan malah kumuh, telah merespon perkembangan kebudayaan global. Mall dan hotel sebagai bentuk dari respon itu. Pendeknya, Jogja, yang disebut sebagai Jawa merespon perkembangan jaman tanpa merasa kehilangan dirinya.
Ketika tiba-tiba ada orang merasa kehilangan atas Jawa dan akan mengembalikannya lagi hari-hari ini. Pastilah orang ini sedang terbangun dari tidur siangnya.
Mengidentifikasi ‘jejak-jejak’ sejarah personal dan mereproduksinya kembali adalah upaya untuk menyegarkan ingatan terhadap masa lalu, bukan sebagai hendak mengembalikan Jawa yang hilang. Itu adalah upaya merunut sejarah personal agar tidak hilang dalam tautan masa lalu dan masa kini.
Hanya agar sejarah personal berada dalam bingkai kebudayaan, maka ‘jejak-jejak’ sejarah personal yang direproduksi itu ditaruh pada kerangka ‘Jawa dan Joga’. Itu saja. [TEMBI]