Obah Owah Sultan | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Obah Owah Sultan Reviewed by maztrie on 12:51 AM Rating: 4,5

Obah Owah Sultan

SUKA tidak suka, ternyata kawula alit hampir tiap detik berhadapan dengan tontonan yang ger-geran, ramai, tapi memuakkan. Tontonan konyol. Tontonan politik, namanya. Sekaligus, hampir tiap menit kawula alit disuguhi play of power. Drama kekuasaan, yang obah owah. Aktor-aktornya, para pemimpin (gembong). Sutradaranya, orang yang haus naluri. Begitulah inti gagasan Geertz dan Turner tentang life of stage, dalam beberapa buku yang saya baca.

Lakon-lakon Sumantri Ngenger, Damarwulan Ngarit, Jaka Tingkir Suwita, di depan mata kita lagi. Polesan-polesan kisah aneh, sulit terhindarkan. Figur-figur fiktif itu sedang bingung mengejar makna. Mereka, dalam kupasan Geertz sedang menangis karena buta proses the political of meaning. Paling tidak, dengan harap-harap cemas, kawula alit yang tengah mempertaruhkan identitas itu, kian hari semakin tidak karuan.

Tampaknya, jangka tanah Jawa, bahwa kawula alit akan berhadapan dengan ungkapan (dhandhanggula): semut ireng ngendhog jroning geni, manuk merak memitran lan baya, keyong sakenong matane, tikuse padha ngidung, kucing gering ingkang nunggoni, kodhok nawu segara, antuk bantheng sewu, si precil kang padha njaga, semut ngangkrang angrangsang ardi Merapi, wit ranti awoh dlima — segera akan terwujud. Andaikata kawula alit itu identik dengan semut ireng, jelas sedang dalam kondisi bahaya. Biar pun bisa bertelur, semut itu akan berhadapan dengan teka-teki panas, tidak jelas.

Kawula alit, tampaknya cukup jeli. Andaikata ada burung merak yang memitran dengan buaya, tidak mudah terpancing. Deklarasi apa pun, selalu disaring, dengan membuka mata selebar-lebarnya, seperti keyong sakenong matane.

Kawula Alit Yogya
Kawula Yogyakarta, masih tetap setya tuhu dengan kharisma. Kharisma, oleh EB Tylor dalam tulisannya The Primitif Culture dinyatakan sebagai senjata integrasi sosial. Pribadi Sultan pun masih terasa demikian. Pada era kini, kharisma dapat diartikan wong linuwih, bijak, agung binathara, berbudi bawa leksana, yang masih sulit ditemukan di luar beteng. Biarpun Sultan sering menyatakan diri bukan sebagai ‘’wong agung’’, namun kawula tetap menyebut demikian. Apalagi pilihan kultural religius untuk tidak melakukan poligami, sungguh menambah nilai plus. Pemikiran luhur untuk senantiasa menjadi kaca benggala, tampaknya yang masih menjadi magnit kawula alit. Biarpun kawula alit merasa adoh ratu cedhak watu, namun hatinya masih lekat (kumanthil-kanthil) dalam diri sang raja. Raja tetap dijadikan pandam (juru penerang), pandom (rujukan), panduming dumadi (yang mengayomi).


Mungkin bagi the others, akan merasakan tek-teki ketika ada abdi dalem keraton yang hanya digaji minim, mau sedheku marikelu seminggu sekali. Pepundhen saya KRT Parwoko, KRT Slamet K, KRT Kawindrasusila, dan masih banyak lagi, tetap merasa harus mengayom (dhedhepe) pada Sultan, biarpun situasi pahit. Alasan spiritualitas tampaknya yang paling diutamakan oleh para abdi dalem. Kebanggaan batiniah yang ditemukan. Apalagi, Ngarsa Dalem memang tampak memegang teguh pesan Ki Ageng Suryamentaram: dadiya godhong.


Ki Ageng yang setelah lelana brata, banyak menguasai ilmu jiwa Jawa, cukup mendasar. Kata dia, dalam hidup manusia penuh dengan ìcatatanî, antara lain, bila sedang menjadi pemimpin jadilah daun. Daun apa saja, memang ada unsur mengayomi. Daun bisa hamangku-hangrengkuh-hamengkoni atas sengatan matahari, yang menggores riak-riak embun di atas daun. Inilah konsepsi kepemimpinan tanu hita, artinya daun yang bermanfaat.


Tanu berarti daun yang mampu menciptakan suasana rimbun, ayom-ayem. Hita artinya ajaran lungit. Bukankah sepanjang sejarah, ketika Yogyakarta diganyang penjajah tetap tegar. Sang raja hanya bersabda, mengko sasuwene wong nggaru-luku, kebo bule bakal mulih menyang kandhange. Ternyata, Baron Sekender yang secara mistis pernah jatuh terkapar, ketika terbang di atas kraton Yogyakarta ñ esensinya, kebo bule (Baron Sekender) dengan Belanda lainnya angkat pantat dari kota gudeg, kembali ke negaranya. Bahkan, sabda raja yang mirip suasana daun: ana ratu cebol bakal mrentah mung saumure jagung. Ternyata, ini metafor bangsa Jepang, yang hanya sebentar menduduki tanah Jawa. Metafor ini sebagai wujud titis tetes tetesing sabda, yang membangun kewibawaan raja. Biarpun aspek spekulasi ada, hal itu sering memupuk kerimbunan daun-daun.


Metafor
Metafor adalah mitos. Daun dan ungkapan sakti pun mitos. Daun adalah fenomena yang berguna sepanjang masa. Roland Barthes (1983:151) meneguhkan, mitos adalah tipe wicara (omongan). Tipe ini bukan sembarang. Daun itu suatu pilihan mitos. Ketika masih daun muda (pupus), ulat pun mau makan. Jika sudah lepas, daun pula yang memasak sari-sari makanan untuk seluruh pohon. Maka jadilah daun, berarti raja masih diyakini mampu memberi dana dan anggeganjar saben dina. Bila daun itu sudah tua, belum jatuh, kalau belum ada kekuatan adikodrati, lewat hembusan angin menjatuhkannya. Biarpun nasib daun di tanah orang menyebut sampah, sesungguhnya tetap ada manfaat, sebagai pupuk. Bahkan, bagi tangan terampil, ada yang mencoba mengkreasi daun-daun kering menjadi kerajinan imajinatif.


Hidup sebagai daun, adalah suatu getaran spiritual Sultan, yang menciptakan kawula selalu melakukan labuh labet. Meskipun wujud labuh labet tidak harus seperti pada era praja Ngamarta, asok glondhong miwah pengarem-arem, masih ada nuansa pribadi linuwih yang terbangun dalam sengkalan berdirinya kraton: ‘’dwi naga rasa tunggal’’. Nuansa hakiki mitos ‘’sari rasa satunggal’’, artinya menyatukan pribadi Jawa yang benar-benar ‘’kajawi’’, terlihat dari watak saiyeg saeka praya/kapti, menegakkan keistimewaan. Jika outsider, orang luar, menyatakan ‘’sari rasa’’ itu mulai pudar atau luntur, sesungguhnya bagi kawula alit Yogyakarta unexplained. Tidak perlu dijelaskan lagi.


Dennys Lombard (1990) dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, tengah terusik dengan keraguannya sendiri, ketika menyimak lakon wayang: Petruk Dadi Ratu. Saya yang juga menyimpan kaset VCD lakon itu, sontak harus menyetel. Ternyata, bantahan dia bahwa akan terjadi perubahan orde ketika rakyat kecil jadi pejabat tinggi, dapat saya amini. Mengapa? Petruk dapat menjadi raja di kerajaan Sonyawibawa bergelar prabu Belgeduwelbeh Thongthongsot, adalah dunia mungkin. Ini pilihan mitos yang kurang terjiwai daun. Kawula alit Yogyakarta, tampaknya belum (tidak?) memikirkan Petruk yang muncul niat ‘’jahat’’, memegang Kalimasada untuk menjadi raja.


Petruk jadi raja, munculah gonjang-ganjing. Negara Ngamarta tak harmoni. Dewa-dewa tercengang. Simpulan Lombard, Petruk pun sadar, mawas diri, dan minta maaf atas kejadian yang oleh orang Jawa dikatakan sebagai lancang. Lancang pincang. Buktinya, Petruk belum mampu menjadi daun. Dia justru dianggap nggege mangsa, sekaligus the aneh, sebagaimana tidak dibenarkan dalam Serat Surya Raja, yang tersimpan di keraton Yogyakarta. Dari karya besar ini, Sultan masih dielu-elukan kawula alit sebagai figur yang mampu merajut nation building, dan bukan nation bleeding. Pamor beliau masih sebagai teja sulaksana, yang selalu nawung kridha, artinya memahami rahasia kawula alit dengan ketajaman batin. Percaya, tidak? [suaramerdeka]
maztrie™
Creative Commons License