Pria Cantik Bunting di Paranggaruda | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Pria Cantik Bunting di Paranggaruda Reviewed by maztrie on 6:54 AM Rating: 4,5

Pria Cantik Bunting di Paranggaruda

Siapa makhluk kesayangan masyarakat Indonesia?

''Si Poltak'' Ruhut Sitompul. Semua orang tahu, banyak tingkah dan ucapannya ngawur. Seluruh ulahnya sangat mungkin dibikin hanya demi mencari perhatian manusia lain. Tetapi tetap saja semua insan mau membuang waktu menanggapi polahnya. Tokoh dan pakar hukum sekelas Adnan Buyung Nasution bahkan juga mau-maunya meluangkan waktu untuk meresponsnya.

Kalau makhluk kesayangan Pak SBY?

Ruhut Sitompul juga. Banyak tudingan, ide Ruhut bahwa Pak SBY boleh mresideni Indonesia tiga periode kemungkinan datang dari Pak SBY sendiri. Kalau tudingan itu keliru, mbok yao Ruhut dikasih sanksi sebagai kader Partai Demokrat. Tapi sampai sekarang si bos besar partai itu ndak ngasih-ngasih hukuman setimpal. Berarti Pak SBY emang pengin jadi presiden lagi. Atau, kalau ndak gitu, emang terbukti bahwa Ruhut pancen kesayangane wong Pacitan itu.

Hmm...Kenapa kok Wayang Durangpo juga ikut-ikutan kasih ruang buat Bang Ruhut? Padahal kalau ruang di atas tadi dijadikan space iklan, fulusnya lumayan lho buat tambah-tambah THR karyawan dan wartawan Jawa Pos, atau disumbangkan ke korban lumpur Lapindo?

Karena Wayang Durangpo juga sayang sama ''Si Poltak''. Apa nggak boleh sayang sama orang? Widyawati boleh sayang banget sama almarhum Sophan Sophian. Adhie M.S. boleh sayang sama Memes, hayo. Kita juga boleh sayang sama tujuh nelayan maling Malaysia, sampai tiga petugas resmi kita disamakan dan dibarter dengan maling-maling itu. Kenapa Wayang Durangpo nggak boleh sayang mbarek Ruhut? Punya kesayangan kan ndak popo. Prabu Batara Kresna juga punya kesayangan, kok.

Siapa kesayangan Raja Dwarawati titisan Wisnu itu?

Beee..de'remma...Ya Raden Samba-lah!!!

***

Kesayangan Sang Harimurti, Raja Dwarawati, itu bermukim di Ksatrian Paranggaruda. Nama aliasnya adalah Wisnubrata. Apa pun kesalahan Raden Samba alias Wisnubrata selalu dibela minimal didiamkan oleh sang ayah, Prabu Harimurti. Samba pernah ketahuan berselingkuh dengan Dewi Hagnyanawati, istri orang, Sri Kresna tetap membela Samba.

Lha wong Samba itu tampan dan salah satu tokoh yang merasa diri paling tampan di dunia wayang selain Raden Sadewa dari Pandawa. Pantes Kresna sayang banget. Adik kandung Samba, Raden Gunadewa, juga ganteng. Sayangnya Gunadewa punya ekor seperti monyet. Kresna bukan saja ndak sayang Gunadewa. Kresna malah menyembunyikan adik Samba itu di Dusun Gadamadana dan ndak pernah mengakuinya sebagai anak.

FYI...Ugroseno bukan cuma nama Kapolda di Sumatera Utara tempat muasal Ruhut Sitompul...Inspektur Jenderal Polisi yang hari-hari ini sedang repot ngurusi perampokan di Medan. Ugroseno dalam wayang adalah mertua Kresna yang membuang gada bermasalah milik Samba. Maksudnya, agar anak kesayangan Kresna itu terhindar dari mala petaka. Atas perintah siapa Ugroseno membuang gada bermala itu ke laut?

Bukan atas perintah Pak Kapolri tentu. Tapi atas perintah dari sang menantu Ugroseno, orang yang ke Raden Samba sayangnya ngungkuli Semeru: Prabu Sri Batara Kresna!

***

Di tempat lain ponokawan Petruk sedang kewalahan menjawab calon-calon pemudik Idul Fitri 1431 H yang kehabisan karcis kereta api. Bulan puasa ini Petruk lagi sepi job sebagai pendemo bayaran di jalan-jalan. Ia mengangkat diri sendiri tanpa surat pengangkatan resmi tidak sebagai jaksa agung, tetapi sebagai humas PT Kereta Api.

''Masa' sebulan sebelum Lebaran tiket sudah amblas. Bandung-Surabaya juga abis. Kata lagu Naik Kereta Api Tut tut tut... bolehlah naik dengan percuma, Bandung ke Surabaya gratis. Padahal harus mbayar. Giliran mau beli tiketnya malah sudah ndak ada. Ke mana tiket-tiket itu?''

Petruk dengan sabar meladeni demonstran non-bayaran itu satu-satu. ''Sabar ya, Bu,'' hibur Petruk. ''Siapa tahu tiket-tiket itu sudah diborong para tuyul. Nanti saya tanya ke ormas tuyul melalui agen-agennya. Kebetulan nih, dua agen tuyul kan sudah ketangkep di kota pensiunan Temanggung pekan lalu... Gampanglah...''

''Sabar, Mbak...Ehmmm...,'' bujuk Petruk kepada demonstran lain. ''Saya tahu Mbak bukan cuma protes gara-gara tiket menguap. Mbak juga protes mengapa gerbong khusus perempuan cuma ada di Jabodetabek. Mengapa kereta mudik ndak ada yang khusus kaum hawa. Iya kan? Hmm... Sambil menunggu penjelasan langsung dari pemimpin kereta api, yaitu Bapak Lokomotif, Mbak saya ceritai saja asal-muasal gada milik Raden Samba ya?''

Mbak-mbak itu geleng-geleng. Dia mengaku suka melihat rel dan sejarah, tapi hanya sejarah Singosari. ''Kalau Mas Humas PT KA mau cerita soal keris Empu Gandring, yang membunuh tujuh turunan raja-raja Singosari... wah...saya mau, Mas...''

''Lho, Dik, Dik, bencana akibat gada Raden Samba dari Paranggaruda ini mirip laknat ke­ris Empu Gandring. Malah kutukannya lebih dahsyat. Gada ini tidak cuma membunuh tujuh turunan. Gada Raden Samba membunuh seluruh bangsa Yada, penduduk asli Kerajaan Dwarawati. Mau denger ceritanya?''

Mbak-mbak itu cuma diem. Petruk lalu mempraktikkan logika paling primitif dalam hubungan pria-wanita. Perempuan yang diem pertanda mau.

***
Pria Cantik Bunting di Paranggaruda

Telah tersebut tadi, lelaki yang merasa paling tampan dalam dunia wayang adalah Raden Samba, putra Kresna dengan Dewi Jembawati, perempuan berdarah kera yang masih terhitung sebagai tante munyuk Anggodo. Selain merasa diri paling cakep, Samba alias Wisnubrata juga gemar menyepelekan orang. Apalagi kalau Wisnubrata sedang dikerumuni oleh kawan-kawannya.

Suatu hari kerajaan Dwarawati kedatangan peramal sakti. Peramal ini bisa menjahit serpihan-serpihan peristiwa, menyambung-nyambungnya jadi satu, lalu memperkirakan kejadian mendatang dari perca-perca yang telah digabungkan. Tak sedikit warga yang sangat yakin pada ahli nujum tersebut. Mereka agak merasa aneh terhadap cara sang ahli nubuat itu menarik kesimpulan. Soalnya kadang tampak ngawur. Tapi, anehnya, mereka yakin.

Misalnya, perca-perca peristiwanya begini: Di Banyuwangi ada bocah SD usia 13 tahun. Punya kebiasaan aneh. Suka makan hewan melata hidup-hidup. Di Badung, Bali, petani bikin larangan tertulis bagi para tikus, ''Maaf, Tikus Dilarang Masuk!'' Seolah-olah tikus sudah ndak buta aksara. Padahal penduduk Nusantara saja belum seluruhnya melek huruf. Bagi yang sudah ndak buta huruf, Muhammadiyah dan NU menerbitkan buku tentang korupsi. Intinya, kedua ormas itu sepakat bahwa koruptor adalah kafir alias orang yang ingkar dari kebenaran. Orang yang tidak punya agama. Malah desas-desusnya, mayatnya ndak usah dimandikan.

Nah, dari perca-perca kejadian itu si ahli nujum bisa sampai pada ramalan penting bahwa kelak Agus Harimurti Yudhoyono akan menjadi Presiden RI. Harimurti yang bukunya dibagi-bagikan sebagai suvenir usai peringatan HUT ke-65 Kemerdekaan RI di istana itu menjadi presiden, nerusno setelah lima periode kepresidenan Pak SBY.

Kontan mendengar ramalan ngawur itu anak Harimurti ngakak tidak percaya...

''Ini Harimurti yang mana, Mas Petruk? Harimurti yang Agus Yudhoyono?'' potong Mbak-mbak demonstran tiket kereta api.

Harimurti Sang Prabu. Raja Dwarawati. Nama lain Kresna. Anak Kresna itu, Raden Samba, cekakan tidak percaya pada si peramal. Samba segera berganti busana perempuan. Ia sumpel perutnya dengan bantal. Ia kenakan gaun perempuan hamil. Karena Samba memang tampan, ia mendadak jadi perempuan mbobot yang ayu. Peramal itu dipanggilnya ke Ksatrian Paranggaruda.

''Hei, peramal!'' bentak Raden Samba dalam kenes suara perempuan. ''Coba tebak, kapan aku akan melahirkan? Terawang juga, anakku perempuan apa laki?''

Dengan tegang dan takut-takut, sang peramal lirih menjawab, ''Maaf, Bendara Raden Ayu, paduka akan babaran nanti malam. Namun bayinya bukan lelaki bukan wanita...''

Hahahaha.....

Meledak tawa di antara Raden Samba dan kawan-kawannya di Paranggaruda. Terbukti kan peramal ini sok tahu? Wong Samba itu laki dan bunting bohongan kok ditebak bersalin nanti malam. Samba segera melepas gaun hamilnya. Tapi semuanya lantas terperangah. Ternyata Raden Samba betul-betul hamil. Tengah malam kemudian Samba melahirkan sebatang gada.

Negara panik! Harimurti menyuruh Ugroseno membuang gada ke laut. Ternyata arus samudera membawanya kandas kembali ke pantai. Kelak usai Perang Baratayuda, gada ditemukan salah satu penduduk, lalu digunakan untuk saling menghantam dalam tawuran antar-kampung. Setelah itu punahlah bangsa Yada, penghuni asli Negara Dwarawati.

Ceritanya sudah dulu ya Mbak. Sampeyan foto kopi lakon ini. Nanti Mbak tinggal pergi ke loket minta stempel nomor kursi di sebelah kanan judul, waktu hari H-007. Doanya yang kuat supaya ini bisa berlaku buat tiket kereta mudik, gerbong khusus perempuan. [sujiwotejo]