Setelah Patung Semar Tak Ada | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Setelah Patung Semar Tak Ada Reviewed by maztrie on 7:12 AM Rating: 4,5

Setelah Patung Semar Tak Ada

Paling tidak sampai akhir tahun kemarin rumah Pak Kiki Dunung banyak dikunjungi orang. Rata-rata perempuan paro baya yang tinggal se- RT/RW dengan Pak Dunung. Kaum ibu itu menyuapi anak-anak kecil mereka yang...mogok makan tentu tidak karena anak-anak kecil pastilah bukan demonstran maupun aktivis...tapi susah sekali makan. Hanya di depan patung Semar di halaman rumah Pak Dunung anak-anak kecil menjadi gampang dibujuk untuk disuapi.

Tapi kemudian patung Semar dibongkar oleh pemilik rumah. Kabarnya dipindahkan ke dalam ruang keluarga. Badan patung, bagian pundak, dilubangi untuk celengan.

Kini patung Semar sudah tak ada di bawah pohon jambu, sebelah bougenvil halaman Pak Dunung. Ibu-ibu di RT/RW setempat mengeluh. Anak-anaknya jadi susah makan. Mereka ndak enak pada wartawan kalau sampai anak-anaknya tampak kurus di televisi. Masa' tinggal di Jawa kok anak-anak nggak kopen seperti kurang gizi. Memangnya Pulau Jawa termasuk wilayah tertinggal di Indonesia Bagian Timur? Nggak kan? Ibu kota negara juga masih ada di Pulau Jawa, belum secara resmi dipindahkan ke Palangkaraya atau Washington. Masa' satu pulau dengan ibu kota negara kok anak-anak seperti busung lapar.

***
Setelah Patung Semar Tak Ada
Ada anak kecil telantar menjelang bulan puasa.

Ibunya lagi sibuk. Sibuk mengubur diri hidup-hidup dalam lahannya yang akan jadi calon gusuran. Sang ibu berharap, demonstrasi model baru itu akan bikin aparat urung main buldoser. Dulu pernah ada di Sumatera Utara ibu-ibu kandidat tergusur kompak tampil telanjang. Akibatnya aparat penggusur kaget, tutup mata, mungkur balik kanan. Tapi toh akhirnya lahan tetap digusur juga. Sang ibu berharap, demo model mengubur diri lebih sakti ketimbang demo blak-blakan aurat. Tapi anaknya yang masih kecil jadi terbengkalai. Bocah ini terus nangis meronta-ronta.

Gampang kalau masih ada patung Semar di bawah jambu Pak Dunung, sebelah tiang burung perkutut. Bocah yang rewel dan kakinya mancal-mancal itu tinggal digendong oleh tetangganya dan telap-telep disuapi di sekeliling patung Semar. Beres.

Sebenarnya persoalan rekannya seangkatan bayi tersebut juga gampang diselesaikan andai patung Semar masih ada di pekarangan depan Pak Dunung. Dia juga telantar. Menangis gero-gero. Ibunya juga sedang sibuk. Sibuk ditempelengi oleh sang suami. Satpam bilang ke bocah playgroup itu, ''Sudahlah, Adiiik...Mama masih mending cuma dikaploki bapakmu. Tabahkan hatimu ya, Adiiiik.... Di Sulawesi, istri malah dijual ke broker rumah bordil. Tarifnya Rp 500 ribu sekali kencan. Ini untuk membayar utang-utang suami yang gagal jadi anggota legislatif...''

''Oalah, Mas Antooook, Mas Antok,'' tegur Watik kepada satpam. Pedagang sayur keliling yang kebetulan lewat ini mengingatkan, anak kecil apa mudeng diajak ngomong model begitu. Sama susahnya dengan omongan soal ''redenominasi'' duit. Yang stres anak kecilnya apa satpamnya kalau sudah begini ini. ''Mbok sana, Sampeyan bawa anak ini ke rumah Pak Dunung. Ajak main di depan arca Semar...Pasti cekikikan bocah ini. Lupa masalah bahtera rumah tangga.''

Watik lupa, tugu Semar sudah raib dari halaman depan rumah Pak Dunung. Mungkin karena tiap hari diomeli ibu-ibu kompleks perumahan lantaran harga sayur-mayur terus meningkat, Watik sampek ndak bisa mikir lingkungannya sendiri bahwa patung Semar sudah tidak bercokol di habitatnya sejak Desember tahun lalu.

Pak Dunung menyulap patung Semar jadi celengan di dalam rumah karena panik dengar kabar ''redenominasi'' rupiah. Dia mendengar sas-sus bahwa nanti Rp 1000 akan tinggal jadi Rp 1. Walau banyak dijelaskan bahwa ''redenominasi'' adalah makhluk yang berbeda dibanding ''sanering'' atau pemotongan nilai mata uang, tetap saja Pak Dunung dan yang lain-lain panik. Ada yang paniknya malah membelanjakan uang secara jor-joran. Paniknya Pak Dunung malah menarik uangnya dari bank. Dia cemplungkan ke dalam celengan Semar.

Problem Pak Dunung tidak diketahui oleh Watik. Makanya perempuan asal Wonogiri itu masih saja ngeyel minta Mas Antok, satpam, agar membawa bocah rewel ke hadapan patung Semar Pak Dunung.

***

Di kompleks permukiman itu juga tinggal seorang lelaki 50-an tahun. Para tetangga memanggilnya Ki Joko Bodo, bukan lantaran ia mirip tokoh paranormal gondrong berkumis berjenggot itu. Mereka berkasak-kusuk menamainya Ki Joko yang artinya perjaka, lantaran lelaki sudah setengah abad ini memang masih belum menikah. Tinggal seorang diri tanpa sanak tanpa pembantu tanpa kucing.

Ada yang bilang, meski sudah setengah abad hidup, lelaki gondrong yang ke mana-mana pergi pakai ransel ini gemar pol ambek Agnes Monica. Dia suka banget Agnes, apalagi pas idolanya itu lewat twitter nyindir masyarakat yang gampang menuhankan artis kagetan. Padahal artis karbitan itu cuma lipsing lagu orang lain. Mestinya orang-orang lebih menghargai artis yang lahir dari ketekunan dan kerja keras selama bertahun-tahun. Ki Joko sendiri yang sudah latihan menari Hanuman selama puluhan tahun sampek sekarang nggak terkenal-terkenal. Sekadar lingkup pesta seni 17 Agustusan di RT/RW-nya sendiri warga juga gak kenal.

Hidup sendiri, tapi setelah patung Semar tak ada di halaman depan rumah Pak Dunung, Ki Joko mendapat langganan pengunjung kecil. Hampir setiap hari bocah perempuan seusia taman kanak-kanak itu menjadi tamu sang perjaka tua dan minta didongengi.

Sebetulnya sudah nyaris habis bahan dongengan Ki Joko setelah hampir 8 bulan tiap hari sejak Desember tahun lalu mendongeng pada bocah ayu ini. Untung siang itu Ki Joko masih punya satu bahan yang tiba-tiba diingatnya. Bahannya soal perjumpaan Hanuman dan Dewi Trijata.

''Dewi Trijata itu mirip Agnes Monica...''

''Hehehe...Maca' ci, Oom? Kalau Raden Hanuman mirip Oom Ki Joko?''

''Hush...Jangan ngomong dulu ya, Oom mau mendongeng...''

***

Hanuman itu kera yang baik. Ibunya, Ratna Anjani, sudah tidak ada di dunia. Bapaknya, Batara Guru, juga sudah hidup di langit sana, di kahyangan. Hanuman hidup sendirian.

''Kayak Oom Ki Joko dong?''

Hush. Jangan ngomong dulu...

''Emang gak ada perempuan yang mau sama Oom. Kata mama, Oom Ki Joko itu sebetulnya orangnya lucu lho...Mama juga bilang Ki Joko itu orangnya hmm...''

Jangan ngomong dulu...Sssttt...Walaupun hidup sendirian, Hanuman itu kera yang baik. Suka menolong. Tanpa pamrih. Makanya Hanuman banyak dapat rezeki. Dia menolong Prabu Rama untuk melihat-lihat istrinya yang sedang dipenjara oleh raksasa Rahwana di Taman Argasoka. Namanya Dewi Sinta. Nah, pas Hanuman sukses menembus bahaya dan rintangan dan pertahanan ketat para pengawal, berhasil masuk ke taman...taman hmmm...itu indahnya bagai Taman Sriwedari ... Hanuman bertemu dayang Dewi Sinta. Namanya Dewi Agnes Trijata. Dia ini putrinya Raden Gunawan Wibisana, adik Rahwana.

Kamu suka boneka monyet-monyetan kan? Yang seluruh badannya ada bulunya itu? Lucu kan?

''Hehehe...pas aku ulang tahun, Mamah kasih aku boneka monyet...''

Nah, keponakan perempuan Prabu Rahwana sang Raja Alengka itu sebetulnya sudah jatuh cinta mati pada Hanuman karena lucunya. Sudah cukup lucunya itu saja. Ndak usah Hanuman neko-neko mau menunjukkan kemampuannya yang lain agar Dewi Trijata makin terpikat. Semar juga sudah mengingatkan agar Hanuman tidak usah pamer-pamer kekuatannya. Wong Dewi Trijata kesengsem sama Hanuman karena wujud Hanuman itu lucu.

''Oom Ki Joko, Pak De Semar itu patung yang dulu pringas-pringis di depan rumah Pak De Dunung?''

Ya. Betul. Tapi peringatan Pak De Semar nggak direken Hanuman. Hanuman tetep nyari perhatian Dewi Trijata. Dia merusak ibu kota Alengka. Penduduk Alengka sampai ke rajanya kalang kabut. Raja Rahwana menyuruh anak-anaknya, Saksadewa, maju lengkap dengan senjata candrasa. Saksadewa tewas. Surasekti yang sebesar gunung anakan juga tewas. Pasukan pengawal Wilwirapa yang menunggang gajah membawa senjata limpung juga pontang-panting. Lalu anak kesayangan Rahwana, Indrajit muncul mbarek keretanya. Kereta yang ditarik empat ekor singa galak itu menerkam Hanuman, ndak mempan. Malah singa-singa sombong itu menggelepar-gelepar kayak mujair kehilangan air, jadi korban kuku pancanaka Hanuman.

Ibu kota Alengka hancur. Taman-tamannya bubrah. Banyak perempuan menjadi janda. Sejak itu Dewi Trijata semakin hari semakin berkurang rasa cintanya pada Hanuman.

Akhirnya, kisah cinta mereka...akhirnya...hmmm...

***

''Akhir ceritanya apa dong, Oom Ki Joko?''

''Akhir ceritanya...hmmm akhirnya aku nggak tega terus-terusan mbohongi kamu...Semua dongeng yang pernah aku ceritakan ke kamu itu bohong semua...Pakemnya ndak gitu... Pakemnya Dewi Trijata malah tambah sayang Hanuman. Dia kagum, karena Hanuman sakti. Tapi aku tahu, nanti kamu kalau gede, kamu gak akan jadi perempuan yang gampang silau pada laki-laki sakti dan berkuasa...Kamu akan jadi perempuan luar biasa. Kamu lain. Gini ya...Aku terpaksa ngapusi kamu agar kamu penasaran terus pada dongenganku.. Supaya kamu mau maem, mau makan... Kalau kamu susah makan, yang susah orang tuamu. Kasihan ibumu, erempuan yang cantik...hmmm...''

''Nggak papa Oom. Pak De Semar sudah ndak ada...Tapi aku mau tetep makan...Pokoknya aku mau terus didongengi...Oom Ki Joko bohong juga nggak papa... Kalau Oom nggak mau dongeng lagi, tak bilangin mama...'' [sujiwo tejo]