Prabu Gatutkaca Sudah Tidak Sah | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Prabu Gatutkaca Sudah Tidak Sah Reviewed by maztrie on 6:33 PM Rating: 4,5

Prabu Gatutkaca Sudah Tidak Sah

... pertunjukan ini agak lain. Dalangnya menambah tokoh baru dalam lakonnya, yaitu tokoh tukang sate.

Pas Gatutkaca sudah bersiap-siap mau berangkat, tukang sate dari Mahkamah Konstitusi di dalam pertunjukan itu berteriak, bahwa terhitung sejak pukul 14.35, Gatutkaca sudah tidak sah menjadi Gatutkaca.

.................

DI Kejaksaan Agung negeri itu bakal diadakan syukuran. Hiburannya wayang kulit. Lakon persisnya lupa. Pokoknya tentang Raden Gatutkaca. Anak pasangan Bima-Arimbi itu sudah dinyatakan tidak sah sebagai Raden Gatutkaca sejak pukul 14.35. Yang menyatakan sebenarnya bukan para dewa. ''Cuma'' seorang tukang sate yang kental berlogat Madura, dan menamai warungnya dengan nama ''Warung Mahkamah''.

...Eh, lupa, wayang orang ding. Bukan wayang kulit.

Di warung itu tersedia sate ayam dan kambing. Entah karena apa masyarakat Bluluk Tibo, dusunnya Gareng, menyebut kedua jenis sate itu sate konstitusi. Mungkin karena cara mereka menyembelih konstitusional. Beradab. Pisaunya tajem. Ayam dan kambing disembelih kontan matek. Persis kayak teroris, membunuh orang seketika mati, ndak sekejam koruptor. Koruptor membunuh masyarakat pelaaaan-pelaaaaan menjadi miskin, makin miskin, melarat, sekarat....baru mati.

Tak heran kalau masyarakat Bluluk Tibo menyebut Warung Mahkamah itu sebagai warung Mahkamah Konstitusi. Penamaan ini menjalar sampai ke Kembang Sore, dusunnya Petruk. Hanya di Pucang Sewu, dusunnya Bagong, masyarakat menamainya Mahkamah Mahfud. Ah, tapi itu sedikit. Yang terbanyak adalah sebutan Mahkamah Konstitusi.

Ya inilah, ya Mahkamah Konstitusi inilah yang menyatakan bahwa Prabu Anom Gatutkaca sudah tidak sah lagi menjadi raja di Kerajaan Pringgandani warisan Pak De-nya, Prabu Arimba.

***

Prabu Gatutkaca Sudah Tidak Sah
Suasana syukuran di halaman kantor Kejaksaan Agung negeri itu berlangsung meriah. Seperti biasanya di setiap wayangan, selalu ada orang gila turut aktif dalam pementasan. Penonton di kota itu sudah hafal. Orang gila yang baik hati ini biasanya duduk di dekat para penabuh gamelan. Kalau gamelan sudah berirama sigrak campur dangdutan, dia akan berdiri joget-joget suka-suka dia. Penonton makin riuh terpingkal-pingkal. Begitu pula suasana di Kejaksaan Agung negeri itu pas wayangan tentang Raden Gatutkaca.

Penonton, ratusan, mungkin ribuan, juga gegap-gempita ketika Raden Gatutkaca sudah bersiap-siap akan menggempur musuh kahyangan, Kala Sakipu II dan Kala Pracona II. Keduanya anak-anak Kala Sakipu dan Kala Pracona yang dulu pernah dikalahkan Gatutkaca bahkan sewaktu ia masih bayi bernama Jabang Tutuka.

Sekarang turunan kedua raksasa pemorak-poranda Kahyangan itu menuntut balas. Mereka menggempur kahyangan. Tapi toh masih ada Raden Gatutkaca. Dulu aja orang tuanya dikalahkan oleh Jabang Tutuka. Apalagi kini setelah Tutuka dewasa menjadi Gatutkaca. Dewa Batara Narada yang menugaskan Gatutkaca jingkrak-jingkrak saking girangnya. Narada yakin tak seberapa lama Sakipu dan Pracona jilid dua akan musnah.

Tapi ya itulah, pertunjukan ini agak lain. Dalangnya menambah tokoh baru dalam lakonnya, yaitu tokoh tukang sate. Pas Gatutkaca sudah bersiap-siap mau berangkat, tukang sate dari Mahkamah Konstitusi di dalam pertunjukan itu berteriak, bahwa terhitung sejak pukul 14.35, Gatutkaca sudah tidak sah menjadi Gatutkaca.

Artinya, kotang Antrakusuma dan caping Basunanda yang membuat Gatutkaca hujan tak kehujanan panas tak kepanasan, sudah tidak boleh dipakai lagi oleh Gatutkaca. Terompah Padakacarma, yang kalau dipakai nendang siapa pun termasuk koruptor bisa mati, tak boleh lagi dipakai oleh Gatutkaca. Aji Narantaka dan Brajamusti yang mampu membuat kepalan tangan Gatutkaca menghancurkan gunung, juga tak sah lagi dipakai. Karena semua itu fasilitas dinas.

***

Saudara yang paling dekat dengan Gatutkaca adalah Abimanyu, anak Arjuna dengan Dewi Subadra. Jadi Gatutkaca-Abimanyu sepupuan seperti antaranak-anak Pandawa lainnya. Tapi keduanya spesial. Saking dekatnya anak Bima dan anak Arjuna itu sampai-sampai para begal dan bala raksasa sudah tahu, kalau ada Abimanyu berjalan di darat, sudah dipastikan di atas itu terbang Ksatria Pringgandani Gatutkaca yang siap melindungi Abimanyu dari seluruh marabahaya.

Sedih hati Angkawijaya, nama alias Abimanyu, mendengar kakak sepupunya dinyatakan tidak sah oleh pemilik Mahkamah Mahfud. Ksatria Palangkawati itu meminta pendapat kepada para ponokawan. Menurut Petruk, jabatan Jaksa Agung tidak boleh dibiarkan terlalu lama kosong, nanti keburu diklaim oleh Malaysia. Jika terlalu lama tidak diklaim pula oleh Malaysia, berarti Kejaksaan Agung mereka sepelekan. Kantor strategis itu dianggap tidak lebih penting dibanding Reog Ponorogo.

''Gundulmu itu, Truk,'' sanggah Gareng. ''Yang kosong bukan jabatan Jaksa Agung. Ini wayang orang. Wayang orang pentasnya saja ada di kantor Kejaksaan Agung. Tapi yang kosong bukan jabatan Jaksa Agung. Tahta Kerajaan Pringgandani yang kosong. Gatutkaca sekarang sudah jadi anggota masyarakat biasa.''

''Lho,'' Bagong ndak terima. ''Yang berhak mecat Ndoro Gatutkaca itu bukan Mahkamah Konstitusi. Yang berhak memecat Ndoro Gatutkaca cuma rakyat Pringgandani. Ndoro Gatutkaca masih raja Pringgandani. Beliau belum dipecat.''

''Memang belum dipecat, Gong. Tapi sudah tidak sah,'' kata Gareng.

***

Petruk bingung. Masih resmi. Belum dipecat. Tapi tidak sah. Pikir punya pikir, Petruk lebih baik mengingat-ingat hal yang menarik saja. Misalnya, dia terheran-heran, serakus apakah para suami saat ini terhadap susu, kok sampai anak-anaknya pada nggak kebagian. Sampai-sampai waktu ada pembagian susu di suatu sekolah dasar, di Sulawesi Selatan, para murid berebutan berdesak-desakan. Tak sedikit di antaranya yang pingsan.

Keheranan Petruk beralih ke suatu kabupaten di Jawa Barat. Hari jadi kota itu ditandai dengan arak-arakan mobil-mobil hias. Hiasannya dari sayur dan buah-buahan. Tetapi mungkin memang belum saatnya kita berpamer-ria makanan di jalanan. Masyarakat kota itu, tepatnya Karawang, akhirnya berebutan sayur dan buah-buahan di tengah pawai.

Masih banyak pernik-pernih hiburan lain, untuk Petruk melarikan diri dari kebingungannya soal kekosongan jabatan Jaksa Agung. Misalnya, kekagetan Petruk pada istilah ''Good Father''. Seingat dia, istilah yang benar itu ''Godfather'', untuk menyebut gembong atau biangkerok suatu mafia seperti dalam film yang dibintangi Al Pacino. Usut punya usut ternyata dia adalah lelaki yang baik, good father, yang menipu, membius dan meniduri lebih 30 perempuan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

''Truk,'' hentak Gareng, ''Bukan jabatan Jaksa Agung yang kosong. Tapi Jabatan raja Pringgandani. Itu yang masih vakum. Jaksa Agung sudah diberhentikan pakai keputusan resmi Jumat kemarin. Ndak masalah. Yang masih masalah justru tahta Pringgandani.''

Petruk bertanya, ''Lha terus, sejak pukul 14.35 beberapa hari lalu sampai Jumat kemarin itu Pak Jaksa Agung apa sah memakai mobil dinas, rumah dinas, dan sebagainya?''

Gareng cuma plerak-plerok. [sujiwotejo]