Siti Nurhaliza Membalas Surat Bagong | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Siti Nurhaliza Membalas Surat Bagong Reviewed by maztrie on 6:40 PM Rating: 4,5

Siti Nurhaliza Membalas Surat Bagong

Mas Bagong terima kasih suratmu pekan lalu. Siti ucap mohon maaf lahir-batin kerana sekarang kita same rayakan Idul Fitri 1431 H. Aduh, terkejut saye terima surat Mas Bagong saat itu.

Surat dari Mas Bagong? Seniman besar Pak Bagong Kussudiardjo memang masih ada? Ayah Mas Butet Kertaradjasa-Djaduk Ferianto itu kan sudah wafat? Kok masih sempat-sempatnya kirim surat? Atau Siti telah berpulang pula?

Tak. Siti masih hidup. Siti cubit pipi Siti. Benar, ternyata Siti masih terikat di bumi. Ternyata Mas Bagong yang ini...ape Mas bilang waktu di surat itu...? Ah ya Mas Bagong yang ini ialah ponokawan... pembantu... seperti TKI-TKI yang mencari wang di Malaysia.

Sekali lagi Siti ucap mohon maaf lahir dan batin.
Mohon maaf pula jikalau bahasa Indonesia saye kurang elok. Ini pun saye sudah ditolong mengkocok (mencampur?) bahasa Melayu dan bahasa Indonesia oleh pembantu saye. Dia asal Surabaya. Ke Siti mengaku bernama Buto Cakil. Saye dimohon memanggilnya Cak Kikil. Mas Bagong Surabaya juga aslinya?

Hehe... Cak Kikil cakap:

Tuku welut nang Ngadipuro

Salah luput njaluk sepuro

Ucap Cak Kikil itu juga berarti maaf lahir-batin ala Surabaya? Betul Mas Bagong?

Ah, saye sudah lupa adat istiadat di Surabaya. Sejak lama tak duet lagi dengan Krisdayanti saye jarang ke Kota Pahalawan itu. Yang Siti ingat dari Surabaya cuma kumis Pak De Karwo. Masih kumisankah Pak Gubernur itu?

O ya, saye tidak terlalu suka kumis, Mas Bagong. Siti bukan macam sejawat saye Vina Panduwinata yang menyanyi Di Dadaaaaku... Ada Kuuuumismu. Tapi, Mas Bagong, baik hati ya Pak De Karwo. Segenap jema'at pegawai di Jawa Timur tentu senang diperboleh membawa kereta (mobil?) dinas untuk mudik Lebaran... dapat melancong dan berpusing-pusing di kampung halaman dengan kereta dinas...

Hmmm... Apa lagi ya...

Siti Nurhaliza Membalas Surat Bagong
Aduh, Mas Bagong, ampun ini Cak Kikil. Dia mendampingi saye menulis surat dalam Bahasa Indonesia tapi badannya terlalu dekat dengan Siti. Mana dia belum mandi. Tapi bau badan orang Indonesia itu... hmmm... ada karakteristiknya pula ya? Agak-agak yok opoooo ngono, Rek... hehe... Ojok tersinggung lho, Mas Bagong... Just kidding...

***

Mas Bagong yang budiman.

Pulang kampung juga Lebaran ini? Trenggalek? Magetan? Sampang? Wah, Siti terbayang betapa akan kalang kabut majikan Mas Bagong.... Datuk Arjuna ya (?). Lintang pukang selepas ditinggal mudik para pembantunya. Menyeterika sendiri. Memasak sendiri. Menyapu sendiri.

Sebetulnya Siti agak bingung ketika Nusantara takut berperang dengan Malaysia. Takut perang kerana ekonominya tergantung pada Malaysia. Ramai TKI di sini, 2 juta orang lebih. Jikalau pulang ke Indonesia mereka akan tenguk-tenguk dan berserah (putus asa?) menjadi penganggur.

Padahal ssstttt... Siti yang malah degdegan. Apabile para TKI di sini pada pulang ke negeri Mas Bagong, bisa saja Malaysia yang justru lumpuh. Siapa yang menyiapkan makan kerabat Siti di sini? Siapa yang menyapu rumah seluruh warga Malaysia? Memberi makan burung? Menyiram bunga-bunga halaman?

Jikalau yang dikembalikan cuma para ilmuwan Indonesia yang bekerja di laboratorium-laboratorium di sini, ah tak seberape. Jumlah mereka cuma ratusan. Malaysia mungkin bisa mendatangkan para ilmuwan dari India, dari negeri lainnya lagi. Tapi kalau TKI berbalik ke Tulungagung, Ngawi, dan lain-lain, negara mana yang mau dan mampu menggantikan mereka?

Kini, ah, lapanglah hati saye, Mas Bagong. Kita tak jadi marahan pakai senjata. Siti berdoa saja semoga nantinya Indonesia-Malaysia akan saling memaafkan, laksana suasana Idul Fitri di mana pun Mas Bagong berpijak. Apalagi tukang kebun di rumah Siti acap berkisah bahwa orang Indonesia itu sungguh-sungguh berbudi bahasa, pemaaf pula.

Tukang kebun Siti kan dari Madiun. Namanya Abimanyu. Tapi panggilannya Anggito. Mas Gito pernah memberi amsal (contoh?), katanya Prabu Kresna orang yang sangat pemaaf. Padahal Raja Dwarawati ini miliki senjata pamungkas Cakra. Dengan senjata sakti yang mampu meluluh-lantakkan seisi bumi sekalipun, toh Kresna masih berkali-kali memaafkan Prabu Sisupala dari Kesultanan Cedi. Sisupala yang masih serumpun dengan Kresna, seperti Indonesia-Malaysia, acap dimaafkan. Dimaafkan, bikin salah lagi, dimaafkan lagi. Selama Sisupala tidak membuat kesalahan sampai tepat 100 kali.

Siti sering menguping Mas Gito mendalang waktu hujan sore-sore. Mungkin sedang rindu ke Tanah Jawa. Rasa sayange pada kampung halaman jadi sebab Mas Gito main puppet. Biasanya Mas Gito di antara break menata kebun duduklah bersila di tanah. Sapu lidi diperagakan seakan-akan jadi wayang. Kadang peraganya sekop, cangkul, pengki, dan lain-lain. Siti suka mencuri pandang sambil minum teh sore di teras belakang.

Jumlah kekeliruan itu harus seratus kali.

Kesalahan Malaysia kan belum sampai 100 kali? Soal sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan jangan dihitung. Itu bukan kesalahan kami. Pengadilan internasional di Belanda kan akhirnya memenangkan kami? Kami tidak bersalah. Kedua pulau itu menjadi milik kami.

Mas Bagong paling mulai bisa menghitung soal klaim Malaysia atas Reog Ponorogo, batik, tari pendet, blok Ambalat, lagu Rasa Sayange...Itu pun belum genap sepuluh. Apalagi sampai 100? Ditambah Manohara disilet-silet pun belum lengkap sepuluh, alih-alih seratus.

Ah, surat Siti kok jadi serius ya Mas Bagong hehehe... Maaf... Maaf... Maaf... Ini kan kite sedang maaf-maafan lahir dan batin.

***

Mas Bagong yang budiman.

Sambil ucap terima kasih kepada Cak Kikil sing nulungi awakku membuat bahasa Melayu jadi Indonesia, Siti akan lanjutkan surat ini. Waktu hujan sore-sore itu, Mas Bagong, di bawah pohon pepaya, di halaman belakang rumah saye, Mas Gito melakonkan asal mule tersebab ape Prabu Kresna tidak sudi lagi memaafkan Prabu Sisupala.

Mulanye adalah seorang ahli spiritual bernama Resi Hudaya dan perempuan yang gemar mengintip lelaki mandi. Ketika Resi Hudaya mandi di telaga kakinye terasa dililit ular. Resi Hudaya terperanjat. Dalam keadaan telanjang seketika ia naik dari telaga. Meski kemudian tahu yang melilitnya ternyata sekadar belut, Resi Hudaya sudah telanjur mentas bugil di tepi telaga. Lalu ia mendengar perempuan cekikikan dari semak-semak.

Resi Hudaya spontan mengutuk, ''Hai, siapa pun kamu yang mengintip aku, kelak punya anak bermata banyak, lambang ibunya suka mengintip. Anak itu kelak akan berkaki seperti belut kerana datangmu diam-diam tak bersuara.''

Aduh, kutukan menerpa perempuan pengintip, yang ternyata Dewi Sruta, permaisuri Kerajaan Cedi. Bayi memalukan itu sudah dibuang sekiranye Raja Cedi, Prabu Damagosa, tidak mendapat wangsit bahwa bayi itu berubah normal jikalau dipangku manusia titisan Dewa Wisnu. Dewa ini pula yang kelak akan membunuhnya.

Tetapi siapakah titisan Wisnu? Ketika itu, Mas Bagong, kata Mas Abimanyu, eh, Mas Anggito, Kresna masih muda, masih bernama Narayana. Tak ada yang tahu Narayana titisan Dewa Pemelihara Harmoni Semesta. Raja Cedi Prabu Damagosa bersiasat. Dalam acara selapanan atau 35 harian bayi, seluruh hadirin serumpun digilir memangku bayi. Pas di pangkuan Narayana keajaiban timbul. Bayi menjadi normal hingga kelak mewarisi tahta Kesultanan Cedi. Prabu Sisupala gelarnya.

Dewi Sruta, sang ibu, senang hatinya sekaligus menangis sambil menubruk Narayana, ''Dapatkah kau kelak tidak membunuh anakku, Narayana?''

Narayana mengambil jarak. Perempuan sungkawa itu diiyakan. ''Asal bayi ini tidak menghina saya lebih dari 100 kali,'' tandas Narayana.

Kelak, dewasanya, Prabu Sisupala menghina Prabu Kresna dalam Sesaji Raja Suya, yaitu hajatan pengukuhan sulung Pandawa Yudistira sebagai raja dari seribu raja di Nusantara.

Itulah, Mas Bagong, penghinaan pertama Prabu Sisupala kepada senior serumpunnya. Mungkin saja Malaysia menghina Indonesia lebih dari satu kali, tetapi tetap belum genap seratus kali.

Kerana itu, Mas Bagong, mohon maafkanlah kami lahir dan batin, teriring ucapan selamat Idul Fitri 1431 H.

(Mohon maaf kepada Siti Nurhaliza atas surat imajiner ini yang seolah-olah dari Sampeyan. Bagong agak bingung menerima surat berdasar pedalangan Mas Gito. Dalam versi lain pedalangan Jawa, tak peduli mau sekali mau sejuta kali penghinaan Prabu Sisupala kepada Prabu Kresna, Kresna akan selalu memaafkan asalkan penghinaan itu tidak berlangsung di depan lebih dari 100 orang. Acara Sesaji Raja Suya dihadiri seribu orang lebih. Dan berkat tayangan media massa, penghinaan Malaysia kepada Indonesia disaksikan oleh jutaan bahkan mungkin miliaran manusia.) [sujiwotejo]