Surat Bagong ke Siti Nurhaliza | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Surat Bagong ke Siti Nurhaliza Reviewed by maztrie on 6:44 PM Rating: 4,5

Surat Bagong ke Siti Nurhaliza

APA kabar Mak Cik Siti? Nderek nepangaken olo tanpo rupi, nama awak Bagong. Di daerah Banyumas orang menyebut saye Bawor. Orang Sunda manggilnya Cepot. Tak ape, tiga-tiganya tetep orang yang sama kok. Yaitu awak, orang yang sekarang sedang surat-suratan ke Mak Cik. Kabar Sampeyan baik-baik saja kan? Sudah lama lho sejak Mak Cik Siti menikah itu saye tak menyimak lagu Mak Cik. Judulnya Bukan Cinta Biasa.

Kapan album baru terbit?

O ya, sehari-hari awak bekerje sebagai ponokawan. Ponokawan itu semacam TKI di tanah Mak Cik. Abdi. Pembantu. Atau batur yaitu ''pangemBATing catUR''. Maksudnya tempat juragan curhat. Juragan saye Raden Arjuna namanya. Aliasnya ya Ndoro Permadi.

Sekarang awak sedang risau, Mak Cik. Ndoro Permadi curhat dan ngomel-ngomel terus. Pak Cik Permadi berkate, Presiden SBY lembek, memble. Berhadap-hadapan dengan Malaysia Presiden SBY tidak menjunjung harkat dan martabat kedaulatan Indonesia.

Ah, Mak Cik, awak sebagai batur, sebagai pangembating catur, tak mampulah menjawab ape-ape tatkale Pak Cik Permadi mengajak catur atau mengajak saye bicare soal yang beret-beret itu. Coba seumpame yang ditanya oleh Pak Cik itu masa'alah lagu-lagu Mak Cik, wah saye pasti sanggup menjawab di luar kepale.

Lagu itu tidak dibuka dengan bonang atau rebab kan, tapi khas Melayu dibuka akordeon kan? Iya, bener, Mak Cik, awak ingat betul. Akodeon. Seperti lagu-lagu gambus zaman dulu. Lalu mulailah Mak Cik berdendang:

Begitu banyak cerita

Ada suka ada duka

Cinta yang ingin kutulis

Bukanlah cinta biasa....

Dua keyakinan beda

Masalah pun tak sama...

Ooo...Mak Cik, Mak Cik, bener kan kira-kira seperti itu syairnya? Aduh kenapa Mak Cik Siti tidak muncul di Mabes TNI di Cilangkap pas buka puasa itu? Awak sudah menanti-nanti lho. Kakak saye sesama ponokawan, Gareng dan Petruk, bilang katanya Mak Cik mau menyanyi di situ. Kata mereka Mak Cik akan duet dengan Pak SBY setelah presiden kami berpidato tentang Malaysia di markas besar tentara Nusantara itu. Wah Mak Cik takabur ya mentang-mentang sekarang sudah dapat suami kaya raya? Kenapa sih ndak jadi hadir? Atau Gareng dan Petruk membohongi saye?

Aduh, Mak Ciiiiik, Mak Cik....padahal pasti bagus andai Mak Cik berduet dengan Pak SBY di bagian reffrain lagu Bukan Cinta Biasa: Cintaku bukan di atas kertas...Cintaku getaran yang sama...Tak perlu dipaksa...Tak perlu dicari...Kerna kuyakin ada jawabnya Oooooh....

Wah, hmmm....Juragan saye Permadi pasti keplok-keplok terpesona. Tokoh PDI-P yang bertransmigrasi ke Gerindra itu pasti tak akan bilang lagi bahwa presiden kami lembek, memble, dan tak ada gereget...Kesyahduan duet antara penyanyi negeri jiran dan penyanyi asal Pacitan, yakin akan membuat ndoro saye Permadi tak akan lagi mengulang-ulang kata ''Ganyang Malaysia''. Kata Kang Gareng, dulu itu kerap dipekikkan oleh Bung Karno.

Makanya, kenapa sih Mak Cik nggak jadi hadir di bumi keprajuritan Cilangkap?

***
Surat Bagong ke Siti Nurhaliza

Dato' Siti Nurhaliza yang saye cintai, perempuan serumpun yang awak kagumi.

Kenapa surat ini saye tulis kepada Dato', seorang perempuan, bukan kepada Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Abdul Razak, seorang lelaki? Karena awak sangat kagum kepada wanita. Awak sangat risau mendengar wanita dilecehkan. Coba dengar pesan SMS yang masuk ke HP Jenderal Purnawirawan Endiartono Sutarto, mantan Panglima TNI, itu lho komisaris utama Pertamina yang mundur karena menilai Pertamina tidak pro-rakyat. Kata SMS tersebut, kalau pidato Pak SBY lemah dan tidak tegas seperti itu mestinya jangan diucapkan di Mabes TNI Cilangkap. Sampaikan saja di gedung wanita!

Lho? Wanita kan nggak harus lemah gemulai. Lihatlah Dewi Kunti. Perempuan ini sangat kuat dan tabah. Kunti selalu menemani dan membesar-besarkan hati anak-anaknya, para Pandawa. Tanpa Kunti, Pandawa akan lunglai ketika menjalani pengasingan 12 tahun di rimba belantara. Dewi Larasati dan Dewi Srikandi dengan keahlian panahnya mampu tampil sebagai pahlawan tempur.

Dewi Supraba maju lebih dahulu menghadapi raksasa sakti, Prabu Niwatakawaca. Dia selidik lebih dahulu rahasia kesaktian orang nomor satu di Kerajaan Hima Himantaka itu. Baru setelah itu Permadi sanggup menaklukkan Niwatakawaca.

Dan masih banyak wanita perkasa lainnya...

Lihat. Betapa tangguhnya perempuan, Mak Cik. Betapa kuasanya wanita, Mak Cik. Karena itu, jangan ada lagi yang pernah kirim SMS ke Jenderal Endiartono Sutarto bahwa pidato yang lemah gemulai seyogyanya tidak disampaikan di markas besar tentara, tetapi di gedung wanita. Dan karena itu, Mak Cik, saye tulis surat ini kehadapan Mak Cik, bukan kepada Najib Tun Razak. Keturunan ke-19 Raja Gowa di Nusantara itu kan hanyalah seorang lelaki.

***

Dato' Siti Nurhaliza yang saye cintai, perempuan serumpun yang awak kagumi.

Sebetulnya saye tidak suka perang. Tapi kisah-kisah cinta kadang jadi lebih menarik kalau berlangsung di dalam perang. Banyak film-film Hollywood tentang Perang Dunia I dan II, yang mengangkat kisah asmara dua insan dari dua negara yang sedang bertempur.

Ooo...Dato'...Betapa makin indahnya kisah cinta Permadi dengan kekasih gelapnya, Dewi Banuwati, ketika meletus perang Pandawa-Kurawa, yaitu Perang Baratayuda di Tegal Kuru Setra. Banuwati yang bersuamikan Raja Kurawa, Duryudana, tak bisa menyembunyikan rasa pilunya ketika Abimanyu, anak Arjuna, tewas dikeroyok dan tertancap panah para Kurawa hingga jasad Abimanyu bagaikan landak.

Aaaah...Dato'...Dato'...Terbayang jika perang meletus di antara Indonesia-Malaysia. Malaysia yang lebih kaya dan canggih alat tempurnya sudah masuk sampai tanah Priangan, lalu awak terluka, berdarah. Dato' Siti lantas terbang dari Kuala Lumpur naik Hercules, datang membalut luka saye dengan saputangan Dato'. Sembari Dato' menyenandungkan lagu-lagu perjuangan tempo doeloe:

Saputangaaan sutra putih dihiasi bunga warna... lambang kasiiih jaya sakti di selatan Bandung Raya... Selamat jalan, s'lamat berjuang, Baaandung Selatan jangan diluuupakan....

Oooo...Andai terjadi sebaliknya, Mak Cik, andai malah kami yang mampu merangsek ke Sarawak, Sabah, hingga menembus jantung Kuala Lumpur... Lalu Mak Cik terluka, janganlah Mak Cik cemas. Perih di luka Mak Cik akan kami hentikan dengan perban Saputangan dari Bandung Selatan...

Saye serius, Mak Cik. Tidakkah Mak Cik merase bahwa surat saye memang amat serius? Lebih serius dari nota protes Menlu Marty Natalegawa.

***

Dato' Siti Nurhaliza yang saye cintai, perempuan serumpun yang awak kagumi.

Sebagai Bagong seharusnya saye lugu. Maaf kalau surat ini tidak lugu lagi, mungkin karena saye sudah kena hipnotis. Sekarang banyak ahli hipnotis beroperasi di Nusantara untuk nyopet, nipu, dan lain-lain. Orang-orang Turki saja pada main hipnotis di sini. Dulu kan yang dikenal ahli hipnotis cuma Raden Jayajatra, saudaranya Bima. Lalu Raden Kartamarma, juru tulis di Astina. Lalu Raden Aswatama, putra Pandita Durna. Yang paling top adalah Batari Durga.

Sekarang ahli hipnotis sudah semakin banyak dan ndak jelas. Masyarakat kami sudah ndak sadar kalau mereka sudah rata terlanda hipnotis. Mereka salut KPK menetapkan 26 lebih anggota DPR jadi tersangka penerima suap pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom. Saking sudah terhipnotis, masyarakat nggak merasa aneh bahwa penerima suap diusut tapi penyuapnya nggak diperkarakan.

Itulah, Mak Cik, orang kalau sudah kena hipnotis. Jadi linglung. Batari Durga juga menghipnotis saye agar menjadi linglung, tapi dia lupa bahwa saye anaknya Semar. Semar sudah kasih jimat ke saye. Namanya mantram Al Rommi Rafaeli bin Corbuzier bin Uya bin Mustajab. Khasiatnya, setiap Bagong dihipnotis, Bagong menjadi tidak lugu lagi.

Itulah, Mak Cik, tidak lugu lagi, situasi jiwa saye ketika saye tulis surat ini ke Mak Cik.

Dalam perang nanti, dibalut lukanya oleh kekasih tentu indah. Tetapi lebih indah lagi kalau dengan lagu yang sama, ternyata justru saye yang membalut luka Mak Cik di reruntuhan Menara Petronas di Kuala Lumpur.

Rp 1,6 triliun cukup untuk memulangkan 2 juta lebih TKI di Malaysia, memberi mereka modal awal bekerja di sini, dan untuk sedikit bekal para sukarelawan bergerak ke tapal batas, daripada untuk pembangunan gedung DPR.

Sekian, Mak Cik. Perban cinta di Kuala Lumpur nanti itu adalah janji yang saye bawe mati. [sujiwotejo]